Mengawal Syariat Hewan Kurban 2026: Kisah Masjid At Taqwa Tembus Dinginnya Merapi Demi Sapi Terbaik
BOYOLALI, muhammadiyahsemarangkota.org – Udara sejuk lereng Gunung Merapi langsung memeluk rombongan Masjid At Taqwa Ngaliyan, Wates saat tiba di Boyolali, Sabtu (18/4/26) Mereka menempuh perjalanan jauh hampir 100 kilometer dari pesisir Semarang menuju dataran tinggi. Misi mereka pagi itu sangat mulia dan pantang dikompromikan. Mereka hadir untuk mengawal ketat syariat hewan kurban 2026 menjelang perayaan Idul Adha.
Rombongan tiba di lokasi peternakan pukul sembilan pagi. Udara khas pegunungan terasa sangat menyegarkan tubuh. Waktu terus berlalu hingga rombongan bersiap pulang pada pukul setengah dua belas siang. Meskipun mendekati azan Zuhur, cuaca setempat tetap terasa sejuk.
Desa tersebut tampak tertata dengan sangat rapi. Jalanan desa telah berlapis beton yang mulus dan bersih. Rombongan berjalan kaki menyusuri perkampungan yang tenang itu. Tim ini berangkat di bawah pimpinan Ahw Prof. Dr. Ahwan Fanani sebagai Ketua Takmir.
Selanjutnya, Moh Ripai turut mendampingi sebagai Ketua Panitia. Hadir pula Hasan Pardjoyo, H. Mustain, dan Agus Haryosemito dari jajaran takmir. Agung juga ikut serta untuk mengawal dokumentasi media. Mereka melangkah bersama demi memastikan syariat hewan kurban 2026 terpenuhi.
Mengintip Kandang Modern di Perkampungan Sejuk
Langkah rombongan berhenti di depan sebuah bangunan permanen berhalaman luas. Kandang modern yang menyatu dengan rumah tinggal ini berdiri kokoh di tengah pemukiman warga. Sabar, seorang Lurah sekaligus pedagang sapi, adalah pemilik peternakan tersebut. Ia menampung puluhan sapi milik warga setempat. Kemudian, ia menggemukkan sapi-sapi ini secara intensif selama kurang lebih sebulan.
Kebersihan kandang tersebut senantiasa terjaga dengan sangat baik. Selain mendapat rumput segar, sapi juga menyantap pakan yang bervariasi. Pakan tambahan itu berupa potongan singkong dan ampas tahu. Oleh karena itu, sapi tumbuh sehat dan terus bertambah berbobotnya. Penambahanhya bisa mencapa kurang lebih satu kilogram perhari selama masa penggemukan.
Menyaksikan langsung dedikasi di kandang tersebut, kelelahan Ahwan seolah terbayar lunas. Ia menatap jajaran sapi bertubuh padat itu dengan penuh keyakinan. “Kami melihat langsung bagaimana sapi-sapi ini dirawat dengan sangat bagus. Pak Sabar memberikan pakan yang bernutrisi dan bervariasi. Sapinya tidak hanya cukup besar, tapi sehat dan memenuhi syarat sebagai hewan kurban,” ungkap Ahwan.
Baginya, ikhtiar jauh-jauh ke desa di lereng Gunung Merapi ini adalah harga mati untuk memastikan syariat hewan kurban 2026 jemaah terjaga sempurna.
Keyakinan Ahwan divalidasi langsung oleh Ripai, Ketua Panitia Kurban yang turut serta. Sebagai seorang juru sembelih halal (Juleha) bersertifikat, standar kehati-hatian Ripai sangat tinggi. Sembari mengamati detail fisik sapi-sapi jumbo tersebut, Ripai tak lupa membagikan tips pilih hewan kurban kepada rombongan.
“Perhatikan sorot matanya yang tajam, posturnya yang tegap, dan cermati nafsu makannya. Hewan yang sehat adalah kunci diterimanya ibadah kita,” jelasnya, menegaskan.
Pengawalan Ketat Sesuai Tuntunan Agama
Proses pemilihan sapi ini mendapat pengawalan keilmuan yang ketat. Selain sebagai ketua takmir masjid, Ahwan Fanani saat ini juga menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wiayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah. Majelis Tarjih adalah lembaga di Muhammadiyah yang bertugas melakukan ijtihad kolektif untuk merumuskan fatwa, tuntunan, dan pandangan keagamaan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.
Ahwan juga merupakan seorang guru besar hukum Islam yang aktif mengajar di di UIN Walisongo Semarang. Kapasitas ini tentu menjamin syariat hewan kurban 2026 berjalan sesuai tuntunan agama.
“Sapi kurban sah jika berumur minimal dua tahun atau memasuki tahun ketiga. Hewan juga harus sehat dan sama sekali tidak cacat fisik,” tandas Ahwan.
Distribusi Kurban dan Ajakan Berbagi
Saat ini, panitia telah resmi memesan dua ekor sapi gagah sesuai syariat dari kandang Sabar. Mereka masih gigih mengejar target awal minimal sebanyak tiga ekor sapi.
Oleh sebab itu, panitia membuka kesempatan luas bagi seluruh jemaah. Biaya kurban dipatok sebesar Rp 3.500.000 per pekurban. Nominal tersebut sudah mencakup seluruh biaya operasional penyembelihan.
Panitia akan menyembelih hewan kurban bersama jajaran takmir dan jemaah. Proses ini juga melibatkan warga RT 01 dan RT 02 Wates secara gotong royong. Selanjutnya, panitia membagikan daging kepada warga setempat dan para pekurban.
Lansia di Panti Wredha Harapan Ibu dan para mualaf dari Muallaf Center Aisyiyah juga menerima bagian. Kelompok rentan binaan Lembag Dakwah Komunitas (LDK) Muhammadiyah Kota Semarang menjadi sasaran distribusi utama pula. Terakhir, para sabilillah seperti ustadz dan relawan masjid berhak menikmati daging kurban ini.