Menjemput Tenang Lewat Muhasabah: Rahasia Hidup yang Tak Pernah Salah Alamat
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Pernahkah kita merasa waktu berjalan begitu cepat sementara bekal untuk masa depan abadi masih sangat sedikit? Oleh karena itu, momen muhasabah atau evaluasi diri menjadi sangat krusial bagi setiap orang untuk menjernihkan kembali tujuan hidupnya. Kesadaran inilah yang membawa sekitar 70 jamaah tetap setia di shaf Masjid Raya Candi Lama, Semarang, usai shalat Shubuh berjamaah pada Ahad pagi (11/01).
Kajian rutin bertajuk “Muhasabah Amal Ibadah Kita” ini menghadirkan sosok ulama kharismatik Jawa Tengah, Ustadz Drs. KH. Musman Tholib, M.Ag. Selanjutnya, mantan Ketua PWM Jawa Tengah ini mengajak para jamaah menyelami kedalaman makna dari wasiat filosofis Imam Ghazali sebagai cermin kehidupan. Suasana pagi yang tenang pun berubah menjadi ruang refleksi yang penuh haru dan ilmu.
Antara Waktu yang Singkat dan Nafsu yang Besar
Awalnya, KH. Musman Tholib memaparkan poin-poin renungan yang menyentuh realitas harian manusia. Sosok ulama ini menekankan bahwa hal paling dekat dengan manusia bukanlah harta, melainkan kematian.
Namun, ironisnya hal yang paling sering terlupakan oleh manusia adalah bersyukur kepada sang pencipta. Beliau merangkum 11 poin penting, termasuk tentang betapa beratnya memegang amanah dan betapa sulitnya menjaga keikhlasan dalam beramal.
Selain itu, sang ustadz mengingatkan bahwa kebohongan merupakan perusak amal yang paling nyata. Sebaliknya, dzikir menjadi satu-satunya jalan untuk menenteramkan hati yang sedang gelisah.
Pesan-pesan ini mengajak setiap orang untuk menyadari bahwa nafsu adalah musuh terbesar, sementara tobat dan doa merupakan hal yang selalu Allah tunggu dari setiap hamba-Nya.
Mengandalkan Doa sebagai Perisai Keterbatasan Manusia
Kemudian, kajian ini berlanjut pada pembahasan mengenai kekuatan doa sebagai bentuk pengakuan atas kelemahan diri. KH. Musman Tholib sangat menekankan pentingnya mengamalkan Surah Al-Baqarah ayat 286 sebagai doa harian.
Sebab, ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kesanggupannya. Doa tersebut menjadi pelindung agar kita tidak dihukum saat melakukan kesalahan atau kekhilafan.
“Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami,” kutip KH. Musman Tholib saat mengajak jamaah merenungi setiap kata dalam doa tersebut. Maka dari itu, bersandar sepenuhnya kepada rahmat Tuhan adalah jalan terbaik ketika manusia merasa berat memikul beban kehidupan.
Pesan ini memberikan kekuatan baru bagi jamaah untuk menghadapi aktivitas harian dengan lebih optimis.
Kehangatan Silaturahmi di Balik Hidangan Sarapan Bersama
Menariknya, kebersamaan para jamaah tidak berhenti setelah pembacaan doa penutup majelis saja. Pihak pengurus masjid telah menyiapkan sarapan pagi bersama yang membuat suasana semakin akrab.
Akhirnya, momen makan bersama ini menjadi ruang diskusi ringan yang mempererat tali persaudaraan antarwarga Candi Lama.
Senyum hangat dan tegur sapa yang tulus menutup rangkaian ibadah di pagi hari itu dengan kesan mendalam. Dengan demikian, agama tidak hanya hadir dalam bentuk ritual di dalam masjid, tetapi juga mewujud dalam harmoni sosial yang nyata.
Melalui bekal ilmu dari Imam Ghazali dan hangatnya silaturahmi, para jamaah pulang membawa hati yang lebih lapang dan pikiran yang lebih tenang.