Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Jebakan Tak Terlihat: Membedah Penyebab Rusaknya Tauhid dan Bahaya Ketidaktahuan Akidah

9 Oktober 2026, 16:47 WIB • 3 menit baca
Ust. Ulil Albab al-Aulia, Lc. mengisi kajian akidah tentang penyebab rusaknya tauhid di Masjid At Taqwa Ngaliyan Semarang
Pengasuh MBS Mijen, Ust. Ulil Albab al-Aulia, Lc., saat membedah kitab Al-Qaul Al-Mufid di Masjid At Taqwa Ngaliyan, Semarang.

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Pertanyaan “Man Robbuka?” di alam kubur nanti tidak akan terjawab lewat hafalan lisan semata. Jawaban tersebut lahir sebagai cerminan murni dari keyakinan manusia. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang penyebab rusaknya tauhid menjadi kunci utama penyelamatan jiwa.

Geliat majelis ilmu ini tersaji hangat di Masjid At Taqwa Ngaliyan, Semarang, pada Kamis, 9 Oktober 2026. Para jemaah hadir merapat di ruang utama masjid. Mereka menyimak pemaparan dari pengasuh Muhammadiyah Boarding School (MBS) Mijen sekaligus alumni Universitas Al-Azhar Kairo, Ust. Ulil Albab al-Aulia, Lc.

Pemateri mengupas tuntas lembaran kitab klasik Al-Qaul Al-Mufid. Kajian rutin malam Jumat tersebut membahas benteng keimanan. Melalui majelis ini, setiap hamba belajar menjaga amal ibadah agar tidak runtuh tanpa disadari.

Banyak orang mengira fondasi keimanan hancur karena pengingkaran terang-terangan. Padahal, ancaman terbesar justru menyusup lewat celah kecil yang luput dari pengamatan.

“Seseorang bisa terjerumus kepada kesyirikan karena dua hal,” terang Ust. Ulil Albab di hadapan para jemaah.

“Pertama, ia mengetahui bahwa perbuatan tersebut merupakan suatu kesyirikan,” tambahnya.

“Kedua, ia tidak mengetahui dan tidak menyadari sehingga tanpa sadar ia terjerumus ke dalamnya.”

Celah Bahaya dan Benteng Akidah

Ketidaktahuan fatal inilah yang kerap menjadi penyebab rusaknya tauhid di masyarakat modern. Sering kali, amalan harian seperti shalat dan puasa tertunaikan tanpa pengecekan orientasi hati. Akibatnya, ibadah kehilangan keikhlasan mutlak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kondisi tersebut melahirkan bahaya tidak belajar akidah secara mendalam. Akibatnya, amal ibadah kehilangan bobot esensial di sisi Sang Pencipta. Padahal, para ulama merumuskan tiga pembagian tauhid rububiyah, uluhiyah, serta asma wa sifat sebagai penuntun pemahaman Al-Qur’an.

Menariknya, orang-orang musyrik di masa lalu pun mengakui kekuasaan Allah dalam penciptaan alam semesta. Pengakuan teoritis tersebut terekam jelas dalam lembaran kajian islam semarang malam itu.

Kendati demikian, pengakuan rububiyah semata belum cukup menyelamatkan jiwa dari kehancuran spiritual. Ketika seseorang terjebak dalam rutinitas duniawi tanpa memahami esensi pengabdian, di situlah contoh syirik ashghar dan akbar mulai menyusup halus.

“Kitab Al-Qaul Al-Mufid menegaskan bahwa penjagaan kemurnian akidah menuntut kewaspadaan konstan, bukan sekadar warisan tradisi turun-temurun,” ujar Ust. Ulil Albab mempertegas materi.

Pada akhirnya, setiap insan wajib mengevaluasi kualitas ibadahnya masing-masing. Sebelum hari pertanggungjawaban tiba, mari membersihkan hati dari segala bentuk kelalaian tersembunyi.

Bagi masyarakat yang ingin merajut kedalaman ilmu agama, majelis penuh inspirasi ini terbuka lebar setiap hari Kamis pukul 19.30 WIB hingga selesai di Masjid At Taqwa Ngaliyan Wates. Terhalang jarak atau berhalangan hadir langsung ke lokasi? Tenang saja, rangkaian ilmu penuh berkah ini tetap bisa disimak lewat siaran live streaming YouTube resmi @Attaqwa_Ngaliyan.

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: