Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Pesan Tegas Dr. Aang Kunaepi: Mubaligh Muhammadiyah Pantang Pasang Tarif Dakwah

18 Oktober 2026, 14:25 WIB • 3 menit baca
Dr. Aang Kunaepi menyampaikan pesan tegas mengenai integritas mubaligh Muhammadiyah di Hotel Muria Semarang.
Dr. Aang Kunaepi saat memberikan arahan penting dalam Wisuda I Sekolah Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Sabtu (17/10/2026).

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Dunia dakwah hari ini diuji oleh arus zaman yang bergerak tanpa henti. Di tengah gempuran tren penceramah instan, PDM Kota Semarang melahirkan terobosan baru untuk mencetak kader mubaligh muhammadiyah yang berintegritas tinggi.

Langkah strategis tersebut mengemuka dalam Wisuda I sekolah tabligh muhammadiyah yang diselenggarakan di Hotel Muria pada hari Sabtu, 17 Oktober 2026. Di hadapan para wisudawan, Dr. Aang Kunaepi selaku ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang dan Penasehat Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Jateng menegaskan bahwa dakwah sejati berorientasi pada pencarian rida Allah semata, bukan mengejar besarnya honorarium.

Penggemblengan selama enam bulan dirancang untuk melampaui batas retorika panggung. Para peserta ditempa bukan sekadar menjadi orator yang fasih berbicara, melainkan pribadi yang kuat dalam karakter dan kepedulian sosial.

Seorang mubaligh muhammadiyah memikul tanggung jawab moral yang teramat berat. Apa yang terucap di atas mimbar wajib berjalan selaras dengan jejak langkah di dunia nyata.

Ia menegaskan, “Jangan sampai seseorang fasih berbicara tentang kebaikan, tetapi kehidupannya justru jauh dari nilai-nilai yang disampaikannya.” Keteladanan autentik inilah yang menjadi benteng pertahanan utama agar dakwah senantiasa membumi di tengah masyarakat.

Akar Rumput dan Panggilan Pengabdian

Keresahan lama kerap membayangi langkah persyarikatan di tingkat cabang dan ranting. Kebutuhan akan figur penceramah yang mumpuni sering kali berbenturan dengan kelangkaan stok kader di akar rumput.

Kehadiran para alumni baru ini diharapkan menjadi jawaban nyata atas dahaga rohani umat. Mereka dipersiapkan untuk mengisi ruang-ruang masjid, membimbing majelis taklim, serta merawat denyut keagamaan warga tanpa sekat.

Namun, urusan dakwah tidak pernah selesai di atas panggung kehormatan. Tugas seorang pendakwah tidak lantas rampung begitu tepuk tangan penonton mereda dan mikrofon dimatikan.

Ia mengingatkan bahwa esensi pengabdian menuntut keberanian untuk turun langsung ke lumpur persoalan masyarakat. Pendekatan bil lisan, bil kitabah, bil maal harus dihidupkan dalam keseharian secara konsisten.

Menolak Komersialisasi Mimbar

Persoalan paling krusial yang disentuh secara tajam adalah pergeseran orientasi moral di era modern. Sebagian penggiat dakwah terkadang terjebak dalam kalkulasi materi semata.

Ketika ukuran keikhlasan mulai diukur dari tebal tipisnya amplop transport, saat itulah marwah risalah Ilahi perlahan tergerus.

Ia mengungkapkan, “Jika yang menjadi pertimbangan utama adalah berapa besar transportasi, berapa jumlah amplop, dan berapa bayaran yang diberikan, maka orientasi dakwahnya patut dipertanyakan.” Pernyataan ini sekaligus mempertegas pentingnya melahirkan mubaligh ikhlas tanpa tarif.

Komersialisasi mimbar semacam itu dikhawatirkan meruntuhkan kepercayaan publik. Jamaah lambat laun mampu merasakan manakah ulama yang hadir membimbing dengan cinta, atau sekadar menunaikan transaksi profesional.

Nilai etika dakwah islam menuntut kemurnian niat yang berpusat pada pencarian rida Sang Pencipta semata. Berapa pun apresiasi materi yang diberikan umat, hal itu tidak boleh dijadikan standar harga bagi kebenaran yang disampaikan.

Validasi Ilahi di Atas Segalanya

Merujuk pada Surah Yusuf ayat 108, pijakan moral seorang pengemban risalah haruslah berakar pada keyakinan yang kokoh. Ukuran keberhasilan sejati bukanlah seberapa riuh tepuk tangan manusia atau seberapa mewah fasilitas yang diterima.

Ia menambahkan, “Orientasinya bukan li ajli amplop bukan demi amplop melainkan mencari rida dan validasi Allah SWT, bukan sekadar validasi manusia.” Validasi Ilahi jauh lebih utama daripada sekadar pujian duniawi yang fana.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat seberapa tebal amplop yang dibawa pulang dari atas panggung kehormatan. Yang abadi di hati umat adalah jejak kebaikan yang ditinggalkan, ketulusan tangan yang merangkul, serta niat lurus seorang mubaligh muhammadiyah yang mengabdikan hidupnya semata-mata demi mencari rida Allah SWT.

Kontributor: Imam S Abu Maulana
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: