Mubalighot Digital: Wajah Baru Pemberdayaan Perempuan di Semarang
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Menghadapi era modern, pemberdayaan perempuan kini melibatkan peran mubalighot digital untuk menyebarkan pesan inspiratif dan solusi hidup bagi warga kota. Langkah inovatif ini menjadi strategi Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Semarang dalam menjaga spiritualitas masyarakat di tengah kerasnya belantara beton.
Dalam forum Sharing Divisi Mubalighot dan Pengajian (DMP) Jawa Tengah pada Jumat malam (16/01/26), Siti Kusniati membedah visi besar organisasi tersebut. Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan (MTK) PDA Kota Semarang ini menegaskan bahwa dakwah saat ini harus menyentuh sisi emosional dan praktis warga urban.
Strategi Dakwah Urban yang Adaptif
Siti menjelaskan bahwa tantangan di 16 kecamatan di Semarang sangat beragam. Oleh karena itu, ‘Aisyiyah menerapkan strategi dakwah urban yang tidak kaku. Di pusat kota, masyarakat cenderung membutuhkan literasi agama yang mendalam. Sebaliknya, wilayah pinggiran lebih memerlukan pendampingan sosial.
“Kami membaca peta demografi dengan teliti. Jadi, setiap langkah pemberdayaan perempuan yang kami ambil selalu relevan dengan kebutuhan warga setempat,” ungkap Siti dengan antusias.
Transformasi Mubalighot di Era Digital
Kesadaran akan perubahan zaman mendorong ‘Aisyiyah melahirkan sosok mubalighot digital. Sebanyak 80 mubalighot telah menyelesaikan pelatihan intensif untuk menguasai konten kreatif. Mereka bertugas mengemas nilai-nilai Islam yang mencerahkan ke dalam format yang ramah ponsel pintar.
Upaya ini memastikan bahwa pesan kebaikan tidak hanya berhenti di ruang pengajian. Lewat layar gadget, para perempuan tangguh ini terus menyebarkan edukasi yang mendukung ketahanan keluarga bagi generasi muda.
Aksi Nyata dan Kemandirian Ekonomi
Selain fokus pada dunia digital, aksi sosial Muhammadiyah melalui ‘Aisyiyah juga menyentuh aspek ekonomi secara langsung. Salah satu program yang menonjol adalah pemberdayaan ekonomi mualaf. Lewat Mualaf Center ‘Aisyiyah (MCA), mereka memberikan pendampingan wirausaha yang konkret.
Para mualaf kini mulai mandiri dengan mengelola budidaya jamur hingga memproduksi susu kedelai secara profesional. Siti percaya bahwa kemandirian finansial merupakan fondasi utama bagi ketahanan keluarga. Jika ekonomi keluarga stabil, maka kualitas hidup dan keharmonisan rumah tangga akan lebih terjaga.
Oase di Tengah Hiruk Pikuk Kota
Sebagai penutup, Siti Kusniati menekankan bahwa dakwah harus selalu bersifat merangkul dan mencerahkan. Melalui berbagai program pemberdayaan perempuan, ‘Aisyiyah hadir sebagai oase yang memberikan ketenangan di tengah bisingnya industrialisasi.
Langkah strategis ini membuktikan bahwa kemajuan teknologi justru memperkuat martabat kemanusiaan. PDA Kota Semarang berkomitmen untuk terus menjadi garda terdepan dalam menjaga moralitas dan kesejahteraan warga melalui aksi nyata yang berkelanjutan.
Baca juga :
Dari Sekolah Tabligh ke Mimbar: Persiapan Ramadhan 2026 ala Kader Muhammadiyah Semarang