Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Muhammadiyah Tegaskan Tak Alergi Budaya Lewat Pentas Wayang Kulit

13 September 2026, 06:42 WIB • 2 menit baca
Penyerahan gunungan wayang kulit oleh tokoh Muhammadiyah kepada dalang saat acara pelantikan BikersMu Jateng di Rembang.
Momen penyerahan gunungan wayang kulit oleh perwakilan tokoh Muhammadiyah kepada sang dalang, menandai dibukanya pagelaran budaya sekaligus malam pelantikan BikersMu Jateng di Desa Glebeg, Rembang, Sabtu (12/9/2026).

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Pemandangan menyejukkan terlihat di Rembang saat tokoh Muhammadiyah dan anggota klub motor membaur bersama. Mereka membuktikan bahwa dakwah Islam bisa merangkul tradisi lokal lewat pertunjukan kesenian wayang kulit tanpa membuang nilai syariat.

Momen bersejarah ini berlangsung meriah pada Sabtu (12/9/2026) di Desa Glebeg, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang. Acara ini sekaligus menjadi panggung pelantikan resmi BikersMu Jateng dan BikersMu Kabupaten Rembang. Ratusan pencinta kuda besi dari berbagai daerah hadir langsung memadati lokasi kegiatan.

Mendobrak Sekat Lewat Dakwah Komunitas

Kehadiran anak-anak motor tersebut seketika melunturkan citra kaku sebuah majelis agama. Mereka sama sekali tidak menunjukkan arogansi jalanan. Sebaliknya, para bikers ini justru membawa semangat kebersamaan yang sangat cair dan bersahaja.

Menatap fenomena membaur itu, Wakil Ketua PWM Jawa Tengah, Prof. Dr. H. Masrukhi, M.Pd., merasa sangat terkesan. Ia menilai pendekatan agama sekarang harus bergeser menjadi lebih inklusif. “Melakukan dakwah tidak mesti hanya di masjid atau musala, tetapi merambah pada lorong-lorong lain yang tidak tersentuh secara umum oleh para mubaligh,” tegas Masrukhi.

Semangat sejalan juga meluncur dari Ketua LDK PWM Jawa Tengah, Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M. Ia siap mengemban amanah besar untuk terus menebar kebaikan tanpa pandang bulu. “Kita komitmen mengenalkan dakwah dan pesan amar makruf nahi mungkar ke berbagai ranah komunitas, baik di lorong gelap maupun lorong gemerlap,” ujarnya.

Menjawab Hukum Wayang Muhammadiyah

Rangkaian keakraban malam itu turut menepis perdebatan panjang mengenai hukum wayang Muhammadiyah. Ketua PWM Jawa Tengah, Dr. H. KRAT Tafsir, M.Ag., memberikan penegasan yang melegakan banyak pihak. Ia berdiri paling depan untuk merangkul tradisi peninggalan leluhur.

Secara lugas, Tafsir menenangkan kekhawatiran para seniman budaya Jawa. “Muhammadiyah tidak alergi budaya, dan tidak ada larangan bagi Muhammadiyah untuk menampilkan wayang kulit,” katanya. Ia bahkan menantang jajarannya untuk segera menggagas lahirnya komunitas MogeMu.

Puncak Festival Dalang di Salatiga

Keterbukaan sikap persyarikatan ini menjadi angin segar bagi pelestarian budaya lokal. Merespons tantangan tersebut, LDK PWM Jateng siap bergerak cepat menggelar festival dalang tingkat provinsi.

Pengurus akan mempersiapkan rencana pagelaran budaya megah itu secara matang. Targetnya, festival ini menjadi suguhan utama saat pembukaan Musyawarah Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah di Salatiga pada November 2027. Langkah proaktif ini membuktikan wajah Islam yang menolak berjarak dengan masyarakat.

Kolaborasi apik antara pelestarian tradisi dan pergerakan anak motor menegaskan bahwa agama bukanlah dinding pemisah. Gerakan ini merupakan wujud nyata dakwah komunitas yang sukses merangkul akar rumput. Harapannya, wajah dakwah masa depan akan semakin kaya dengan empati.

Kontributor: Medkom LDK Muhammadiyah Jateng
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: