Pentingnya Niat dan Keikhlasan di Balik Perbuatan
GUNUNGPATI, muhammadiyahsemarangkota.org- Kualitas sebuah perbuatan, baik maupun buruk, tidak hanya ditentukan oleh hasilnya, melainkan juga oleh niat yang melatarinya.
Hal inilah yang menjadi sorotan utama dalam kajian rutin di Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an (PPTQ) Luqman Al-Hakim, yang dikelola PCM Gunungpati 2, pada Kamis sore (18/9/25). Kajian oleh Ustadz Drs. H. Nurbini, MSI ini mengupas tuntas bab “Keikhlasan dan Menghadirkan Niat” dari kitab Riyadhus Shalihin.
Ustadz Nurbini memulai tausiyahnya dengan hadits tentang dua orang muslim yang saling berhadap-hadapan dengan pedang. “Apabila dua orang Muslim berhadap-hadapan dengan membawa masing-masing pedangnya, maka yang membunuh dan yang terbunuh itu semua masuk di dalam neraka,” demikian sabda Rasulullah SAW yang dikutip Ustadz Nurbini.
Hadits ini menjadi pengingat tajam bahwa niat untuk membunuh, bahkan pada orang yang terbunuh, sudah cukup untuk menjerumuskan ke dalam api neraka. “Hadits ini menunjukkan betapa krusialnya niat. Bukan hanya perbuatan, tapi niat buruk pun memiliki konsekuensi yang serius,” ujar dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo itu.
Niat Baik Dihargai Sempurna, Niat Buruk Diberi Kesempatan
Pesan tentang niat ini semakin diperkuat dengan hadits lain yang membahas pencatatan amal. “Barangsiapa yang berkehendak mengerjakan kebaikan, kemudian tidak jadi melakukannya, maka dicatatlah sebagai suatu kebaikan yang sempurna,” terang Ustadz Nurbini.
Sebaliknya, niat berbuat buruk yang tidak terlaksana tidak dicatat sebagai dosa, melainkan dicatat sebagai pahala. “Ini adalah bukti kasih sayang Allah. Niat baik saja sudah dihargai, sementara niat buruk diberi kesempatan untuk tidak dilakukan,” katanya.
Lebih dari sekadar konsep spiritual, niat juga memiliki dampak praktis. Ustadz Nurbini memberikan contoh dari hadits tentang shalat berjamaah. “Shalatnya seorang laki-laki dengan berjamaah melebihi shalatnya di rumahnya dengan dua puluh lebih tingkat derajat,” kutipnya.
Hadits ini menjelaskan bahwa setiap langkah menuju masjid dengan niat tulus untuk shalat akan meninggikan derajat dan menghapus kesalahan. Konteks ini, menurut Ustadz Nurbini, menegaskan bahwa niat ikhlas akan mengubah rutinitas menjadi ibadah yang bernilai lebih tinggi.
Pelajaran paling mendalam datang dari kisah tiga lelaki yang terperangkap di dalam gua. Mereka berhasil keluar setelah masing-masing berdoa dengan menyebutkan amal perbuatan yang didasari niat tulus ikhlas kepada Allah SWT. Salah satu lelaki menyebutkan bakti tulusnya kepada kedua orang tua yang telah sepuh, bahkan ia rela menunggu hingga subuh agar orang tuanya minum terlebih dahulu.
“Kisah ini adalah bukti nyata bahwa amal kebaikan yang dilakukan semata-mata karena mengharap ridha Allah akan menjadi penyelamat di saat-saat paling sulit,” tutur Ustadz Nurbini yang juga merupakan Wakil Ketua PDM Kota Semarang.
Kajian yang dihadiri santri dan warga sekitar ini bukan sekadar rutinitas, tetapi pengingat esensial bahwa di balik setiap perkataan, perbuatan, dan bahkan pikiran kita, ada niat yang menjadi penentu pahala dan dosa. Kegiatan ditutup dengan berbuka puasa dan shalat Maghrib berjamaah, meninggalkan pesan mendalam tentang pentingnya meluruskan niat dalam setiap langkah kehidupan.