Ini Perbedaan Zikir Lisan dan Zikir Hati, Mana yang Menyelamatkan?
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Khutbah KH Zuhad Masduki di Semarang mengungkap mengapa banyak orang gagal memahami hakikat zikir yang sebenarnya. Suasana khidmat di Masjid At-Taqwa Ngaliyan mendadak bergetar saat Al Ustadz Dr. KH. Zuhad Masduki, MA naik ke atas mimbar pada Jumat, 13 Maret 2026. Ia menekankan bahwa makna zikir dalam Islam ternyata jauh lebih luas dari sekadar hitungan tasbih di jari.
Menurut KH Zuhad Masduki, memahami perbedaan zikir lisan dan zikir hati menjadi kunci utama untuk meraih keberkahan. “Zikir yang sesungguhnya adalah sebuah komitmen untuk terus berada dalam tuntunan Allah,” tegas sang ustadz. Ia mengingatkan bahwa menjaga ketakwaan melalui zikir merupakan jaminan bagi zikir sebagai kunci keselamatan dunia akhirat.
Melampaui Ritualitas Semata
Selama ini, banyak umat terjebak pada dimensi ritual yang sempit. Membaca Subhanallah memang menjadi pintu masuk yang penting setelah salat. Namun, hakikat zikir menurut KH Zuhad Masduki justru terletak pada kesadaran batin yang mendalam.
Sang ustadz kemudian memperkenalkan konsep zikir universal. Konsep ini menuntut umat untuk selalu mengingat Allah dalam setiap napas kehidupan. Oleh karena itu, implementasi zikir dalam kehidupan sehari-hari harus melibatkan hati, pikiran, dan perbuatan secara selaras.
Waspada Kesombongan Intelektual
Selain membahas ritual, KH Zuhad Masduki memberikan peringatan keras mengenai tokoh Walid bin Mughirah. Meskipun Walid sangat cerdas, sosok tersebut kehilangan hidayah karena kesombongan. Ia menyebut fenomena ini sebagai bahaya kesombongan intelektual Walid bin Mughirah yang kini muncul kembali di era modern.
Kisah tersebut menjadi cermin bagi para ilmuwan dan cendekiawan masa kini. KH Zuhad Masduki mengingatkan agar tidak ada lagi orang pintar yang menggadaikan kebenaran demi kepentingan materi atau politik. Hal ini merupakan bagian dari tantangan besar dalam mencari cara menjaga ketakwaan di era modern.
Kesadaran Akan Jati Diri
Sebagai penutup, ia mengajak jamaah untuk merenungi asal-usul manusia yang diciptakan dari ketiadaan. Kesadaran akan kematian seharusnya memacu manusia untuk memperbanyak amal saleh. Dengan memahami perbedaan zikir lisan dan zikir hati, Ramadhan kali ini harapannya menjadi momentum transformasi hati yang sesungguhnya.
Baca juga :
Bakti pada Orang Tua, Cara Terbaik Mengetuk Pintu Surga di Bulan Suci