Merahkan Simpang Lima, Ribuan Pesilat Bawa Pesan Moral di Muktamar Tapak Suci
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Kehadiran pesilat lintas usia sukses mengubah wajah pusat kota menjadi lautan merah yang berdenyut seirama. Bukan sekadar unjuk kebolehan, perhelatan Muktamar Tapak Suci ini menggemakan pesan kuat dari Prof. Haedar Nashir tentang pentingnya menyatukan fisik kesatria dengan hati yang bersih.
Mengambil tempat di Simpang Lima Semarang, perhelatan akbar ini berlangsung pada Ahad pagi, 8 Agustus 2026. Seluruh sudut lapangan mendadak berubah warna ketika ribuan pesilat beraksi secara serempak.
Mencapai kekompakan absolut semacam ini tentu membutuhkan proses panjang. Para peserta harus melewati latihan fisik berbulan-bulan sembari rutin mengoreksi setiap kesalahan kecil di lapangan.
Perjuangan Lintas Generasi di Gelanggang
Menatap langsung ke tengah lapangan, jejak pengorbanan para pesilat tampak sangat jelas. Banyak pesilat cilik Tapak Suci berdiri tangguh berdampingan dengan para sesepuh berpostur tegap. Meleburnya rentang usia ini terjadi semata-mata demi merajut satu gerakan harmoni.
Menyikapi momen kebersamaan ini, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir memberikan apresiasi mendalam. Ia mengingatkan bahwa pondasi keimanan menjadi sumber kekuatan utama pesilat.
“Bahwa motto bahkan menjadi jiwa dari Tapak Suci yang tadi dikutip oleh Pak Kapolri, dengan iman dan takwa, dengan iman dan takwa serta akhlak ya, kita menjadi kuat. Tanpa iman, takwa, dan akhlak kita menjadi lemah,” tegasnya.
Menekan Ego demi Sejarah Bersama
Lebih lanjut, ia memaparkan tujuan mulia dari serangkaian tempaan fisik tersebut. “Sementara Tapak Suci bersama seluruh kelompok-kelompok bela diri di Indonesia melatih fisik untuk memiliki jiwa yang kesatria, jiwa yang futuwwah, yang selalu berdiri tegak di atas kebenaran, kebaikan, dan keluhuran, serta membela kepentingan luas masyarakat, bangsa, dan negara,” paparnya.
Ia juga sangat meyakini perpaduan antara kekuatan fisik dan hati bersih akan membawa dampak besar bagi negara. “Maka jiwa iman, takwa, dan akhlak itu menyatu dengan kekuatan raga yang sehat, jismis salim dalam istilah Al-Qur’an, wa qalbus salim ya. Jiwa yang bersih, yang bening bersatu dengan raga yang sehat, yang bersih. Saya yakin ke depan Indonesia Emas itu justru lahir dari perpaduan yang menyatu di tubuh rakyat dan bangsa Indonesia,” ungkapnya.
Menelusuri motivasi di balik layar, banyak peserta rela meninggalkan keluarga di rumah. Mereka menempuh perjalanan jauh sekadar untuk mencetak sejarah Tapak Suci Muhammadiyah. Memasuki area gelanggang, setiap individu lantas membuang jauh-jauh atribut keangkuhan pribadinya.
Tantangan Merawat Persaudaraan Sejati
Lebih dari sekadar tontonan fisik, pesan utama pertunjukan ini langsung menembus sanubari penonton. Ribuan orang yang berjalan sendiri-sendiri sejatinya hanyalah sebuah kerumunan biasa. Namun, ribuan orang yang terus bergerak menyatukan langkah dengan tujuan serupa pasti akan menjelma menjadi sebuah kekuatan besar.
Menyusul usainya komando senam, ribuan pesilat segera membubarkan diri secara teratur. Jalanan kota perlahan kembali lengang menyisakan ruang kosong yang tadinya bergetar. Melangkah pergi dari arena, mereka kini menghadapi ujian persaudaraan sesungguhnya di kehidupan nyata.
Menyikapi potensi perpecahan organisasi, peristiwa ini meninggalkan sebuah peringatan penting. Musuh paling berbahaya bagi sebuah persaudaraan ternyata tidak selalu datang dari luar barisan. Sering kali, musuh utama itu justru tumbuh secara diam-diam di dalam dada para anggotanya, yang bernama ego.