Penyelamat di Tanggal Tua, Program Makan Gratis Ini Ludes Kurang dari Sejam!
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Momentum akhir bulan seringkali menjadi masa-masa sulit bagi sebagian masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok harian. Oleh karena itu, sebuah gerakan sosial kreatif muncul di sudut jalanan Kota Semarang sebagai wujud nyata kepedulian antarsesama. Gerakan berupa program makan gratis untuk umat tersebut mendadak viral setelah ratusan warga menyerbunya hingga ludes dalam waktu sekejap.
Dalam aksi perdana ini, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) bersama Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) dan LAZISMU Ngaliyan berkolaborasi mendirikan posko di depan Kantor Kelurahan Ngaliyan atau area Taman Wayang pada Sabtu (23/5/2026). Menariknya, kegiatan ini sengaja menyasar masyarakat umum, terutama warga kurang mampu, lansia, anak-anak, hingga orang dengan kebutuhan khusus. Mulai pukul 10.30 WIB, aroma masakan sehat dan bergizi langsung memikat perhatian para pengguna jalan yang melintas.
Akibat antusiasme yang begitu meledak, panitia bahkan sempat terkejut melihat kecepatan respons masyarakat sekitar di lapangan. Pasalnya, puluhan porsi makanan dan minuman yang tersedia di atas meja langsung habis tak bersisa tanpa waktu lama. Alasan itulah yang membuat ketua panitia pelaksana sekaligus Ketua PRM Ngaliyan, Herman Lestarto, merasa sangat terharu sekaligus bersyukur atas kesuksesan agenda kemanusiaan tersebut.
“Dalam waktu kurang dari 1 jam, 80-an porsi makanan langsung habis. Antusias masyarakat di tanggal tua seperti ini membuat kegiatan positif kami mendapatkan apresiasi yang sangat positif,” ujar Herman Lestarto dengan wajah sumringah.
Modal Payung Pinjaman Warga: Sinergi Dakwah Akar Rumput Tanpa Kontraktor
Lebih lanjut, Herman menceritakan kisah unik di balik layar persiapan posko pangan yang sangat menyentuh hati ini. Sebab, pada tahap awal pergerakan, panitia tidak menggunakan peralatan mewah atau menyewa vendor tenda yang mahal. Sebaliknya, para pengurus justru meminjam langsung berbagai perlengkapan dasar dari rumah-rumah warga Muhammadiyah di Ngaliyan, mulai dari payung, kursi, meja, hingga peralatan masak-memasak.
Tidak hanya itu, pendanaan utama aksi mulia ini juga murni mengandalkan patungan sukarela dari LAZISMU, jajaran pengurus PRM/PRA, serta para dermawan lokal. Dampaknya, keterbatasan fasilitas logistik sama sekali tidak menyurutkan semangat gotong royong warga untuk menyajikan menu bergizi bagi sesama. Sebab, tujuan utama dari program makan gratis ini adalah menyediakan makanan sehat sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya berbagi.
Selain sebagai aksi sosial, Muhammadiyah menggunakan posko kuliner ini sebagai sarana media dakwah kultural yang menyentuh akar rumput. Artinya, organisasi ingin membangun hubungan emosional yang erat dan harmonis antara persyarikatan dengan masyarakat luas. Melalui sepiring nasi, nilai-nilai Islam yang berkemajuan dan penuh cinta kasih dapat tersampaikan secara langsung tanpa sekat-sekat formalitas yang kaku.
“Ini merupakan program awal sebagai media dakwah Muhammadiyah. Kami mengucapkan terima kasih kepada relawan dan para donatur atas bantuan moril maupun materiil,” ungkap Herman penuh apresiasi.
Targetkan Agenda Rutin Mingguan untuk Bantu Umat
Sebagai informasi tambahan, peluncuran posko pangan perdana ini sekaligus menjadi momentum penting untuk memperingati Hari Lahir (Milad) Muhammadiyah ke-114 yang jatuh pada 25 Mei 2026. Oleh karena itu, keberhasilan aksi hari ini menjadi kado sosial yang paling indah dari pengurus ranting untuk masyarakat sekitar. Sebab, esensi tertinggi dari hari lahir organisasi adalah melahirkan kemanfaatan yang nyata bagi umat.
Melihat kesuksesan besar ini, jajaran PRM dan PRA Ngaliyan langsung bergerak cepat mengumpulkan umpan balik dari para pengunjung untuk melakukan evaluasi total. Rencananya, panitia siap mengubah agenda ini menjadi program lanjutan yang bersifat rutin dan berkelanjutan. Jika tidak ada arah melintang, mereka menargetkan kegiatan ini bisa bergulir setiap bulan, dua kali sebulan, bahkan menjadi agenda rutin setiap minggu.
Akhirnya, posko pangan di Taman Wayang itu pun menyisakan cerita hangat mengenai indahnya solidaritas di tengah impitan ekonomi akhir bulan. Dengan demikian, gerakan kecil dari tingkat ranting ini berhasil membuktikan bahwa kemajuan peradaban tidak harus selalu berawal dari proyek-proyek raksasa. Pada akhirnya, ketulusan hati untuk saling berbagi makanan mampu menjadi perekat persaudaraan yang sangat kokoh di tengah masyarakat.
“InsyaAllah kegiatan ini akan berlangsung setiap bulan. Kedepannya kami harap bisa lebih meningkat menjadi sebulan dua kali, bahkan setiap minggu,” pungkas Herman Lestarto optimis.