Sulap 900 Kilo Sampah Jadi Pakan Lele, Mahasiswa Unimus Dobrak Ekonomi Pringapus Lewat Program LENTERA
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Tumpukan sampah rumah tangga kerap menjadi masalah pelik yang memusingkan bagi lingkungan sekitar. Namun, di tangan para mahasiswa kreatif, limbah organik tersebut justru bertransformasi menjadi sumber pembawa berkah ekonomi. Inovasi hijau inilah yang kini tengah bergulir di Kelurahan Pringapus, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang.
Kelompok mahasiswa dari PK IMM Al Haytham Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) resmi meluncurkan sebuah gerakan perubahan. Mereka menginisiasi program bertajuk LENTERA atau Lele Sejahtera di Balai Kelurahan Pringapus pada Sabtu (13/6/2026) lalu. Agenda peluncuran ini mendapat sambutan hangat serta dukungan penuh dari jajaran pemerintah daerah setempat.
Langkah taktis ini menjadi bagian nyata dari pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat desa yang berbasis pada kebutuhan riil. Tim mahasiswa berhasil mengawinkan solusi penanganan sampah seberat 900 kilogram per hari dengan optimalisasi infrastruktur perikanan. Kehadiran program tersebut langsung memantik antusiasme tinggi dari ratusan warga, kader PKK, hingga karang taruna.
Gunakan Formula Kolaborasi Lintas Studi
Pihak kampus Unimus tidak main-main dalam memberikan dukungan penuh terhadap kesuksesan aksi sosial ini. Sebanyak empat pimpinan fakultas serta jajaran ketua program studi turun langsung mengawal jalannya acara peluncuran. Kehadiran para akademisi lintas disiplin ilmu tersebut memperkuat sistem pendukung gerakan pengabdian masyarakat ini.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Unimus, Dr. Eny Winaryati, M.Pd., menyatakan bahwa program ini merupakan wujud kolaborasi sejati. Eny Winaryati menegaskan bahwa mahasiswa dari berbagai jurusan sengaja melebur untuk saling melengkapi ilmu. Pihak universitas berkomitmen penuh mendorong anak didiknya untuk keluar dari ruang kuliah demi membantu warga.
“Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan terwujud melalui kolaborasi mahasiswa dari berbagai program studi yang saling melengkapi guna mencapai tujuan utama program, yaitu memberikan dampak langsung bagi masyarakat Kelurahan Pringapus,” tegas Eny Winaryati di hadapan warga.
Integrasikan Bioflok dan Maggot BSF
Gagasan segar dari para kader IMM Al Haytham ini langsung menjawab keluhan yang selama ini dihadapi lingkungan Pringapus. Wilayah tersebut sebenarnya memiliki aset berharga berupa 24 kolam lele berbasis sistem bioflok yang belum terkelola optimal. Masuknya program LENTERA menjadi angin segar untuk menekan biaya pakan ikan yang kian mencekik.
Kepala Kelurahan Pringapus, Cahya Okta P., secara terbuka menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang setinggi-tingginya. Cahya Okta menilai kehadiran mahasiswa Unimus menjadi jawaban atas dua potensi besar desa yang menganggur. Warga kini mulai belajar memilah limbah organik rumah tangga untuk dijadikan media budidaya maggot BSF.
“Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi atas program PPK Ormawa ini,” ungkap Cahya Okta dengan penuh ketulusan saat memberikan sambutan resmi.
Melalui pendekatan terintegrasi, tim pelaksana telah merancang empat program kerja unggulan untuk lima bulan ke depan. Program tersebut meliputi gerakan pilah sampah dari rumah, produksi pakan alternatif, hingga digitalisasi pemasaran produk UMKM lele. Langkah konkret dalam program pemberdayaan masyarakat desa ini siap menyulap Kelurahan Pringapus menjadi sentra wirausaha mandiri.