Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Rahasia Jiwa yang Tenang: Pesan Mendalam di Bulan Ramadhan

24 Februari 2026, 23:40 WIB 2 menit baca
Ustaz Pujiyanto S.Pd.I menyampaikan Kultum Ramadhan tentang cara meraih Jiwa yang Tenang di hadapan jamaah Masjid At-Taqwa Ngaliyan.
Ustaz Pujiyanto S.Pd.I saat memaparkan materi mengenai indikator Jiwa yang Tenang dalam rangkaian ibadah tarawih di Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Selasa (24/2).

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Mencari Jiwa yang Tenang di tengah hiruk pikuk dunia bukanlah perkara mustahil. Dalam sebuah Kultum Ramadhan yang syahdu di Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Ustaz Pujiyanto mengungkap kunci utama mendapatkan kedamaian batin sejati.

Malam itu, Selasa (24/02/26), suasana di dalam masjid terasa sangat hening. Ratusan jamaah menyimak dengan takzim saat Ustaz Pujiyanto S.Pd.I mulai membedah Surah Al-Fajr ayat 27-30. Pria ini menjelaskan bahwa Jiwa yang Tenang atau An-Nafsul Mutma’innah tidak bergantung pada harta ataupun jabatan yang melimpah.

Menghidupkan Kedamaian Lewat Dzikrullah

Pertama-tama, ia menekankan pentingnya memahami Makna Dzikrullah. Menurut penuturannya, mengingat Allah adalah pondasi utama dalam mencari Cara Menenangkan Hati Menurut Islam. Hati manusia memerlukan asupan spiritual yang rutin agar tidak mudah goyah oleh hiruk-pikuk duniawi.

“Sudahkah kita mengingat Allah dalam setiap tarikan napas selama 24 jam?” tanya Ustaz Pujiyanto retoris. Ia menambahkan bahwa orang yang tenang akan spontan mengucap Alhamdulillah saat bahagia dan Innalillahi saat tertimpa ujian. Jadi, ketenangan itu muncul saat kita melibatkan Allah dalam setiap urusan, termasuk saat menerima rezeki.

Masjid Sebagai Pusat Amalan Penyejuk Hati

Selanjutnya, pengasuh kultum ini mengajak jamaah untuk senantiasa memakmurkan masjid. Ia menganggap rumah Allah sebagai tempat terbaik untuk memupuk Amalan Penyejuk Hati. Dengan aktif beribadah dan bertaklim di masjid, seseorang akan memiliki mentalitas yang kuat serta tidak takut kepada siapa pun kecuali Allah.

Oleh karena itu, jika seseorang masih merasa abai terhadap panggilan azan, itu merupakan tanda jiwanya sedang merindukan kedamaian. Memakmurkan masjid bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan bentuk pengabdian yang memerdekakan jiwa dari rasa takut yang berlebihan.

Dialog Suci dalam Shalat

Indikator terakhir yang tidak kalah penting adalah kualitas shalat. Ustaz Pujiyanto membagikan Tips Shalat Khusyuk agar ibadah tersebut tidak sekadar menjadi rutinitas mekanis yang melelahkan. Ia memandang shalat sebagai ruang privasi untuk berdiskusi langsung dengan Sang Pencipta.

“Jiwa yang tenang tidak merasa shalat sebagai beban atau sekadar menggugurkan kewajiban. Shalat baginya adalah sarana berdialog dan berdiskusi dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tegas Ustaz Pujiyanto dalam tausiyahnya .

Sebagai penutup, ia mengajak seluruh jamaah untuk merefleksikan kembali niat ibadah mereka. Meraih Jiwa yang Tenang adalah perjalanan panjang yang membutuhkan keistiqomahan dalam zikir, pengabdian di masjid, dan sujud yang bermakna. Semoga Ramadhan tahun ini menjadi momentum bagi kita untuk pulang kepada-Nya dengan hati yang damai.

Baca juga :

5 Ciri-Ciri Orang Bertakwa: Apakah Puasa Kita Sudah Berhasil?

Waspada! Ini Penyebab Puasa Tidak Diterima di Bulan Ramadhan

Cara Mendekatkan Diri Kepada Allah Lewat Hikmah Puasa Ramadhan

Kontributor: Gahtan
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: