Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Rawat Jenazah Harus Sesuai Syar’i, Bukan Ikuti Tradisi

29 September 2025, 05:59 WIB 3 menit baca
Rawat Jenazah Harus Sesuai Syar’i, Bukan Ikuti Tradisi

SEMARANG BARAT,muhammadiyahkotasemarang.org – Kematian adalah kepastian bagi setiap jiwa, sebagaimana firman Allah SWT: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan kepada Allah-lah kamu dikembalikan”. Namun, kesiapan umat dalam merawat jenazah seringkali terhambat oleh campur aduk tradisi lokal yang menyimpang dari syariah.

Problematika inilah yang disoroti Ustadz Amiril Edi Pranomo dalam pelatihan pengurusan jenazah di Masjid Al Muhajirin, Karangayu, Semarang, pada Ahad (28/9/2025). Acara ini bertujuan mengembalikan pemahaman bahwa merawat jenazah adalah ibadah fitrah yang harus sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Ustadz Amiril secara tegas mencontohkan salah satu praktik yang umum dilakukan namun tidak berdasar syariat: penggunaan air kembang saat memandikan jenazah.

“Jenazah dimandikan dengan kembang itu murni tradisi, bukan bagian dari syariat. Memandikan jenazah harus fokus pada pembersihan hadas dan najis dengan air bersih, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW dengan air dan daun bidara,” jelas Ustadz Amiril. “Jika tidak ada kembang, memandikan jenazah tetap syar’i. Jika ada kembang tapi tidak sesuai tata cara, malah bisa menjadi beban. Kita harus bisa membedakan mana ibadah dan mana adat yang tidak ada tuntunannya.”

Pengetahuan Jenazah: Solidaritas dan Persiapan Akhirat

Acara dibuka oleh perwakilan PCM Semarang Barat, H. Arief Istaman, yang menekankan nilai esensial kegiatan ini. Arief Istaman menyampaikan apresiasi atas program yang memberikan pengetahuan penting ini, menegaskan bahwa mengurus jenazah bukan hanya ritual, tetapi bentuk solidaritas kemanusiaan di tengah kepastian maut.
Dalam sesi utama, Ustadz Amiril menguraikan bagaimana pengetahuan syar’i dapat meringankan duka keluarga.

Ia menyoroti bahwa banyak kasus pensucian jenazah justru menimbulkan kebingungan karena percampuran tradisi lokal, mulai dari memandikan, seperti praktik mandi kembang, hingga penguburan, yang tidak sesuai syariah. Hal-hal seperti ini yang membuat prosesi menjadi panjang dan memberatkan, padahal seharusnya proses perawatannya sederhana dan khusyuk.

Runtutan Praktik Syar’i: Bukan Sekadar Ikut-ikutan

Ustadz Amiril menjelaskan prosedur syar’i secara bertahap, mulai dari memandikan dengan niat tulus, mengkafani, mensholatkan dengan khusyuk, hingga penguburan yang penuh doa.

Ia mengingatkan peserta bahwa tujuan utamanya adalah agar umat merawat jenazah sebagai ibadah yang mendekatkan diri pada ridha Ilahi, bukan sebagai beban adat.
Pengetahuan ini, tambahnya, harus disesuaikan dengan mazhab masing-masing namun tetap berpijak pada sunnah Rasulullah, untuk menghindari dosa kolektif akibat ketidaktahuan.

Pentingnya pelatihan ini terletak pada kemampuan memfilter mana praktik yang wajib (syar’i) dan mana yang hanya kebiasaan (tradisi).

Pesan ini dirasakan langsung oleh peserta, seperti Indra Permadi, warga setempat. “Kegiatan ini membuat saya lebih paham praktik perawatan jenazah, dari memandikan, mengkafani, hingga penguburan terutama fokus pada mengafani yang sering jadi titik lemah,” ujar Indra.

Ia berharap ilmu ini dapat memangkas tradisi yang menyimpang dari sunnah Nabi di lingkungannya. “Saya puas dengan materi Ustadz Amiril; ternyata ada runtutan praktik yang harus dipelajari, bukan sekadar ikut-ikutan tradisi seperti mandi kembang,” tambahnya, menunjukkan keinginannya mendalami lebih lanjut.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab yang aktif, memperlihatkan betapa hausnya masyarakat akan pengetahuan syar’i ini sebagai persiapan akhirat yang nyata. Sebagai pesan penutup, Ustadz Amiril mengajak semua menyebarkan ilmu dengan bijak, nasihat yang lembut, dan perdebatan yang indah sesuai tuntunan Rasulullah SAW (Dakwah bil hikmah, maw’izhah hasanah, wa mujadalah bilati hiya ahsan).

Merawat jenazah dengan keikhlasan murni akan diridhai Allah SWT, membangun umat yang siap, empati, dan dekat dengan fitrahnya, menghadapi maut dengan keyakinan penuh rahmat.

Kontributor: Adib Abyan Alb
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: