Refleksi Iman di Tengah Bencana, Saat Hutan Gundul Menuntut Balas
SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Deru air bah yang meratakan rumah dan menghanyutkan harta menyisakan duka, namun juga pesan mendesak: benarkah ini murni takdir atau buah tangan kita sendiri? Pertanyaan ini menggema di Masjid As-Salam, Mugas, Semarang Selatan, Jumat (12/12/2025).
Ust. Drs. Nurbini M.S.I, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang, mengajak jamaah menatap cermin perilaku diri terhadap alam, bukan sekadar meratapi nasib .
Bukan Azab, Tapi Akibat Ulah Tangan Manusia
Dalam khutbahnya, Nurbini menepis anggapan musibah semata sebagai azab, melainkan akibat nyata perilaku manusia. Ia menyoroti bagaimana tanah kehilangan kemampuan menahan air akibat kerakusan kita .
“Penggundulan hutan, maraknya penebangan liar, alih fungsi lahan tanpa perhitungan, serta kurangnya reboisasi menyebabkan tanah tidak lagi kokoh menahan air. Hujan sedikit saja, air mengalir deras, membawa lumpur, batu, dan merusak pemukiman,” tegasnya .
Ia mengutip Surah Ar-Rum ayat 41 untuk mempertegas bahwa banjir bandang hari ini sangat dekat kaitannya dengan kerusakan yang manusia buat sendiri .
Filosofi Menanam Pohon Meski Kiamat Tiba
Sang khatib mengangkat etos radikal Nabi Muhammad SAW: meski kiamat di depan mata, umat tetap diperintah menanam bibit pohon di tangan. Pesan ini menegaskan bahwa membiarkan alam rusak sama dengan mengkhianati amanah. Setiap pohon adalah titipan Tuhan yang wajib kita rawat .
Introspeksi Diri: Apakah Kita Hanya Diam?
Lantas, apa yang harus dilakukan? Nurbini mengajak jamaah berhenti saling menyalahkan dan mulai introspeksi.
“Apakah selama ini kita ikut menjaga alam? Atau justru kita diam melihat kerusakan terjadi?” tanyanya menusuk kesadaran .
Ia menyerukan aksi nyata: galakkan penanaman pohon, jaga sungai, dan tolak perusakan hutan. Reboisasi bukan sekadar proyek negara, tapi tugas setiap individu .
Mencegah Bencana Berulang
Menutup khutbah, Nurbini mengingatkan bencana tak akan berhenti hanya dengan doa jika penyebab utamanya terus dilakukan. Musibah adalah alarm untuk kembali kepada Sang Pencipta .
“Musibah banjir bandang adalah ujian sekaligus peringatan agar kita: lebih dekat kepada Allah, lebih peduli kepada sesama, dan lebih bertanggung jawab menjaga alam yang Allah titipkan kepada kita,” pungkasnya .