Revolusi Senyap Muhammadiyah di Jagat Maya
SEMARANG SELATAN- Muhammadiyahsemarangkota.org- Pagi itu, Ahad (20/9/25), di Hotel Grasia, Semarang, terasa lebih hangat dari biasanya. Di dalam sebuah ruang pelatihan, lebih dari seratus pengurus Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dari 35 kota dan kabupaten di Jawa Tengah berkumpul. Aroma kopi menguar, beradu dengan semangat yang menggebu-gebu dari para peserta.
Pelatihan manajemen dan reputasi digital dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah ini bukan lagi tentang teori, melainkan tentang bagaimana menaklukkan dunia digital yang riuh, sebuah medan dakwah baru yang tak berbatas.
Di depan, Ikhwanushoffa, Sekretaris Kantor PWM Jawa Tengah memaparkan materi dengan lugas. Kata-katanya tajam, namun penuh makna. Ia mengingatkan para peserta bahwa media sosial dan website bukan sekadar alat publikasi, melainkan wajah organisasi di mata dunia.
“Setiap konten yang terunggah adalah dakwah,” tegasnya, suaranya memenuhi ruangan. Ia menekankan pentingnya konten yang tidak hanya menarik, tapi juga Islami, akurat, dan terverifikasi. Sebuah postingan, baginya, adalah janji yang ditebarkan kepada umat.
Setelahnya, Muhammad Taufiq Ulinuha dari Media Komunikasi PWM mengambil alih panggung. Suasananya berubah lebih dinamis. Ia mengajak para pengurus, yang sebagian besar sudah tak muda lagi, untuk membayangkan bagaimana dakwah Muhammadiyah bisa hadir lebih variatif dan relevan.
“Konten kita tidak boleh monoton,” ujarnya, seraya menunjukkan contoh-contoh kreatif. Ia mengilustrasikan, dakwah digital bisa hadir dalam bentuk liputan kegiatan, tausiyah, edukasi publik, hingga konten interaktif yang menarik generasi muda.
Dua materi ini bagai dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Ikhwanushoffa memberikan poin strategi membangun reputasi digital persyarikatan melalui branding dan marketing media, sementara Taufiq Ulinuha menambahkan ruh dan warna lewat standarisasi media dan implementasi praktisnya. Hasilnya, para peserta diajak memahami bahwa pengelolaan media harus tertib, tapi juga kreatif. Rapi, tapi tetap hidup.
Media Sosial dan Website: Etalase Muhammadiyah
Para peserta dengan tekun menyimak setiap kata yang terucap dari pembicara. Sesekali wajah mereka menunduk menatap layar laptop dan ponsel, seraya menghentakan jari jemari ke tombol keyboard, mempraktikan materi yang disampaikan.
Mereka bukanlah anak-anak muda Gen Z yang akrab dengan media sosial, Rambutnya sudah mulai memutih, tapi semangat belajar mereka membara, seolah kembali ke bangku sekolah.
Salah seorang peserta pelatihan, Andree Wijaya,kepala kantor PDM dari Kota Semarang mengamati teman-temannya. Ia tahu betul, apa yang mereka pelajari di sini bukan sekadar teori menajemen, melainkan tentang masa depan dakwah. “Media sosial dan website kini adalah etalase Muhammadiyah,” ucapnya, suaranya tenang namun penuh makna.
Di matanya, layar ponsel bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan mimbar digital yang bisa menjangkau jutaan umat.
Selama ini, dakwah Muhammadiyah dikenal melalui mimbar-mimbar masjid, pengajian akbar, atau sekolah-sekolah yang berdiri kokoh. Namun, di era digital ini, medan pertempuran telah berubah. Suara-suara lain berseliweran di media sosial, kadang menebarkan kebencian atau informasi sesat.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Muhammadiyah menyadari pentingnya mengambil peran. Bukan hanya sekadar hadir, tapi hadir dengan narasi yang menyejukkan, profesional, dan bermanfaat.
Maka, pelatihan ini lahir. Sebuah upaya kolosal dari PWM Jawa Tengah untuk menata ulang marwah organisasi di ruang virtual.
Topiknya sederhana tapi krusial: Standard Operational Procedure (SOP) untuk media dan konten. Namun, di balik jargon-jargon korporat itu, ada semangat dakwah yang tulus. Setiap postingan, setiap foto, dan setiap video kini harus melalui proses verifikasi yang ketat, memastikan setiap pesan adalah dakwah yang “santun dan bermanfaat.”
Para peserta diajak memahami bahwa konten tidak hanya sebatas informasi kegiatan, tapi juga bisa berupa edukasi publik, profil tokoh inspiratif, atau sekadar pesan-pesan moral yang menenangkan jiwa. Tujuannya bukan lagi sekadar mempublikasikan, melainkan menjadi oase informasi yang sehat di tengah gurun digital. Ini adalah sebuah revolusi senyap, di mana setiap pengurus diajak menjadi “wartawan digital” sekaligus “da’i” di waktu yang sama.
Andree Wijaya menutup pembicaraan dengan sebuah refleksi mendalam. “Masyarakat sekarang haus informasi cepat,” katanya. “Kalau Muhammadiyah tidak hadir di ruang digital dengan teratur, maka peluang dakwah bisa diambil pihak lain.”
Pernyataan itu seperti sebuah pengingat, bahwa dakwah di era ini tidak bisa lagi dilakukan dengan cara lama. Ia harus lentur, dinamis, dan relevan dengan zaman, tanpa kehilangan esensi nilai-nilai Islam berkemajuan.
Di ujung hari, para peserta pulang dengan membawa lebih dari sekadar sertifikat. Mereka membawa sebuah misi baru: memastikan setiap unggahan bukan sekadar postingan, melainkan jejak digital yang membangun, mencerdaskan, dan menjadi bagian dari dakwah yang akan dikenang.
Merekalah para da’i modern, yang siap menaklukkan jagat maya dengan niat suci, satu demi satu unggahan. Merekalah pelaku revolusi senyap Muhammadiyah di jagat maya.