Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Saat Sarung dan Sang Surya Berpadu: Sinergi NU Muhammadiyah Getarkan Panggung Budaya Pandanaran

23 Desember 2025, 20:25 WIB 2 menit baca
Saat Sarung dan Sang Surya Berpadu: Sinergi NU Muhammadiyah Getarkan Panggung Budaya Pandanaran

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Malam di Pendopo Makam Ki Ageng Pandanaran, Sabtu (20/12/2025), terasa begitu sejuk dan istimewa. Tidak ada sekat organisasi, yang ada hanyalah satu barisan jamaah yang khusyuk. Panggung utama menyajikan pemandangan langka yang menghangatkan hati warga Semarang. Sebuah kolaborasi budaya antara kader Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah tumpah ruah dalam acara bertajuk “Sholawatan & Wayangan Umbul Donga Maring Bumi.”

Acara memperingati Haul Sunan Pandanaran ini menjadi panggung sinergi yang nyata. Gus Huda mewakili nafas tradisi sholawat NU, sementara Ki Ketut Budiman, yang merupakan Bendahara Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM Jawa Tengah, memegang kendali wayang kulit sebagai ciri khas dakwah kultural Muhammadiyah. Keduanya menyatu dalam irama doa untuk keselamatan bumi dan warga Kota Semarang.

Dakwah Kultural Sebagai Jembatan Pemersatu Umat

Muhammadiyah melalui LDK PWM Jawa Tengah terus membuktikan bahwa dakwah tidak harus kaku. Kehadiran Ki Ketut Budiman di atas panggung menunjukkan bahwa kader Muhammadiyah sangat lihai melestarikan warisan leluhur.

Langkah ini mendapat apresiasi langsung dari Ketua LDK PWM Jawa Tengah, Dr. H. A. M. Jumai.

Tokoh penggerak dakwah kultural ini menegaskan bahwa kolaborasi semacam ini merupakan medium paling ampuh untuk memberdayakan masyarakat.

Ia melihat acara ini sebagai cara terbaik untuk membumikan nilai-nilai Islam yang ramah terhadap budaya lokal.

“Kami terus mendorong gerakan dakwah kultural sebagai medium pemersatu dan pemberdayaan masyarakat,” ungkap Dr. H. A. M. Jumai dalam kesempatan tersebut.

Sinergi ini mengirim pesan kuat kepada dunia. Bahwa dua kekuatan besar umat di Indonesia bisa berjalan beriringan demi menjaga jati diri bangsa yang religius dan berbudaya.

Doa untuk Semarang yang Harmonis

Pemerintah Kota Semarang pun memberikan dukungan penuh terhadap agenda religius ini. Walikota Semarang, Dr. Agustina W.R., bersama Wakil Walikota, Ir. H. Iswar Aminuddin, hadir langsung di tengah kerumunan warga.

Mereka mengapresiasi bagaimana Yayasan Sosial Sunan Pandanaran dan organisasi lintas agama mampu mengemas Haul Sunan Pandanaran menjadi momentum persatuan.

Lebih dari sekadar pertunjukan, “Umbul Donga” adalah bentuk penghormatan tinggi kepada Ki Ageng Pandanaran. Beliau bukan hanya tokoh penyebar Islam, melainkan bapak pendiri identitas spiritual Kota Atlas.

Dengan dukungan pengamanan dari FKPM Kamtibmas Polrestabes Semarang, acara berlangsung tertib dan penuh kehangatan hingga usai.

Melalui kolaborasi unik ini, Semarang kembali menegaskan diri sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi. Ketika denting gamelan bersahutan dengan lantunan sholawat, di situlah kita melihat wajah Islam yang teduh.

Sebuah pengabdian sunyi namun bermakna, bahwa menjaga tradisi adalah cara kita menghargai masa lalu sekaligus membangun masa depan yang lebih damai.

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: