Sejarah Perjuangan Santri yang Terabaikan: Menggali Jejak Heroik di Balik Pertempuran 10 November
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Selama ini, narasi kemerdekaan kerap melupakan satu lembaran penting: sejarah perjuangan santri yang sesungguhnya turut membakar nyali para pejuang di berbagai medan laga.
Di balik kemegahan apel yang berlangsung di halaman Balai Kota Semarang pada Kamis, 22 Oktober 2026, ingatan publik kembali diuji lewat sebuah gugatan reflektif. Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dr. H. AM Juma’i, S.E., M.M., menyuarakan kegelisahan atas porsi sejarah yang sering kali berjalan pincang.
Bagi Juma’i, memori kolektif bangsa terlalu sering mereduksi kontribusi kaum bersarung ke dalam kotak-kotak kecil. Padahal, darah para kiai dan santri ikut tumpah mengawal kedaulatan nusantara tanpa pernah mempertanyakan sekat organisasi keagamaan.
Menyingkap Kabut Sejarah di Surabaya
Keterlibatan kaum pesantren dalam revolusi fisik bukanlah cerita asing yang berdiri di ruang hampa. Di setiap sudut pertempuran sengit, para santri berdiri di barisan depan menghadapi terjangan peluru musuh.
Kendati demikian, andil besar tersebut jarang mendapat tempat layak dalam buku-buku pelajaran sejarah arus utama. Juma’i mengungkapkan bahwa jejak-jejak heroisme itu tidak boleh terus-menerus dibiarkan tenggelam dalam keheningan arsip lama.
“Para kiai dan santri Muhammadiyah juga memiliki peran luar biasa,” ujar Juma’i saat ditemui sesaat sebelum apel kebangsaan. “Mereka ikut dalam perjuangan bangsa, termasuk dalam semangat perjuangan yang berkaitan dengan Pertempuran 10 November. Sayangnya, peran itu belum banyak dijelaskan dalam narasi sejarah yang dikenal masyarakat.”
Merajut Kembali Benang Merah Bangsa
Pernyataan tersebut menyoroti betapa berbahayanya menulis sejarah secara sepotong-sepotong. Ketika sebuah elemen bangsa dihilangkan dari ingatan bersama, identitas keindonesiaan kehilangan pijakan utuhnya.
Oleh karena itu, momentum peringatan hari besar harus bertransformasi menjadi ruang koreksi kolektif. Generasi hari ini dituntut untuk bersikap adil terhadap masa lalu demi membangun masa depan yang lebih kokoh.
“Hari santri bukan milik satu golongan eksklusif semata,” tutur Juma’i menegaskan pentingnya merajut kembali persatuan umat. “Semangat kebangkitan ini harus menjadi milik seluruh elemen bangsa yang memiliki akar perjuangan di pesantren.”
Menolak Lupa pada Jejak Pengabdian
Kini, tugas utama generasi penerus bukan sekadar mengenang, melainkan meneruskan api perjuangan dalam bentuk kerja nyata. Nilai-nilai kepahlawanan masa silam harus diterjemahkan ke dalam semangat membangun peradaban hari ini.
Ketika sejarah dipahami secara utuh, bangsa ini tidak akan mudah dipecah belah oleh ego sektoral yang sempit. Pada akhirnya, merawat ingatan adalah cara terbaik untuk memastikan bahwa setiap tetes keringat para pendahulu menemukan rumah keadilannya di bumi pertiwi.