Sholat sebagai Pondasi Kehidupan Muslim: Solusi Langit Saat Dunia Terasa Sempit
SEMARANG TIMUR, muhammadiyahsemarangkota.org – Pernahkah Anda merasa hidup begitu berat meski materi melimpah? Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Ustad Drs. H. Nurbini, M.Ag., mengungkapkan bahwa rahasia ketenangan sejati terletak pada kekuatan sholat sebagai pondasi kehidupan muslim yang kokoh.
Ia menyampaikan pesan ini dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Luqmanul Hakim, Tlogosari Kulon, Semarang Timur, Ahad (4/1/2026).
Di hadapan para jamaah, sosok yang juga aktif sebagai Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN ini menegaskan bahwa setiap manusia membutuhkan sandaran kuat agar tidak mudah roboh saat menerjang ujian hidup.
Ustad Nurbini menekankan bahwa jabatan tinggi, harta melimpah, hingga ilmu yang luas tidak akan memberikan nilai apa pun jika sholat sebagai pondasi kehidupan muslim tersebut rapuh.
“Jika sholat kita kuat, maka hidup akan terasa nikmat. Namun, jika sholat itu rapuh, maka seluruh sendi kehidupan kita akan mudah runtuh,” tegasnya.
Benteng Moral di Tengah Badai Dunia
Nurbini menjelaskan bahwa Allah memberikan perintah sholat secara istimewa langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ saat peristiwa Isra Mi’raj tanpa melalui perantara.
Ia menyebut sholat bukan sekadar rutinitas, melainkan identitas utama yang membedakan seorang muslim dengan kekafiran.
Nurbini juga menyoroti fenomena gangguan mental seperti stres dan depresi yang menghantui masyarakat modern. Menurutnya, kegelisahan tersebut muncul bukan karena faktor ekonomi, melainkan karena jiwa menjauh dari kekhusyukan ibadah.
Melalui penguatan sholat sebagai pondasi kehidupan muslim, seorang hamba dapat menjaga lisan, mengendalikan emosi, dan melembutkan hati.
Ia meyakini sholat yang benar secara otomatis menjadi filter moral yang mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Belajar dari Kekhusyukan Para Sahabat
Ustad Nurbini mengajak jamaah meneladani para sahabat Nabi yang menaruh harga sholat jauh di atas nyawa mereka sendiri. Ia mengisahkan ketangguhan Ali bin Abi Thalib r.a. yang tetap tenang saat para sahabat mencabut anak panah dari kakinya karena ia sedang tenggelam dalam kekhusyukan sujud.
Kisah heroik lainnya datang dari Umar bin Khattab r.a. yang tetap mengutamakan sholat meski menderita luka parah akibat tikaman saat mengimami sholat Subuh. Bagi para pendahulu tersebut, sholat merupakan napas utama yang menggerakkan seluruh kehidupan mereka.
“Ketahuilah bahwa saat kita mendirikan sholat, sesungguhnya kita sedang bermunajat dan berkomunikasi langsung dengan Rabb kita,” tambahnya.
Memulai Perbaikan dari Atas Sajadah
Nurbini mendorong jamaah untuk mulai memperbaiki kualitas ibadah dengan cara sholat tepat waktu dan membiasakan diri berjamaah di masjid bagi laki-laki. Ia mengingatkan bahwa Allah akan memeriksa kualitas sholat sebagai amalan pertama pada hari kiamat nanti.
Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya menghadirkan hati dan memahami makna setiap bacaan saat beribadah.
Ustad Nurbini mengajak jamaah meyakini bahwa dengan menjadikan sholat sebagai pondasi kehidupan muslim, maka Allah secara otomatis akan memperbaiki segala urusan dunia dan akhirat kita.
Baca juga :
Rezeki Seret dan Banyak Cobaan? Cek Lagi Syarat Taubat dan Keutamaan Istighfar Ini