Spirit Dakwah Laksamana Zheng He Sejalan dengan Perjuangan Muhammadiyah

SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org- Spirit dakwah Laksamana Zheng He dari abad ke-15 ternyata mencerminkan semangat perjuangan Persyarikatan Muhammadiyah. Kesamaan fundamental ini mengemuka dalam diskusi “Srawung & Rembug Komunitas Sahabat Insinyur” di Gedung Dakwah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Sabtu (15/11/25).

Drs. H. Danusiri, M.Ag, selaku Wakil Ketua PDM Kota Semarang yang membidangi LDK (Lembaga Dakwah Komunitas) Kota Semarang, menjadi salah satu tokoh yang menyoroti kesamaan visi tersebut.

Spirit Amar Ma’ruf Nahi Munkar Sang Laksamana

Diskusi ini menggarisbawahi bahwa misi Laksamana Zheng He (atau Cheng Ho) bukan sekadar pelayaran biasa. Beliau menjelaskan bahwa sang laksamana mengarungi samudra dengan ratusan kapal sambil membawa misi muhibah yang sarat nilai perdamaian, solidaritas, dan humanisme.

“Laksamana Zheng He membawa misi dakwah Islam dengan semangat Rahmatan lil ‘alamin. Ia bahkan turut memerangi kejahatan, seperti perompak di lautan. Ini sejalan dengan spirit perjuangan Persyarikatan Muhammadiyah dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar (mengajak kebaikan, mencegah keburukan),” tegas Danusiri.

H. Gautama, Ketua Umum Yayasan Cheng Ho, memperkuat pandangan ini. Ia, yang merupakan seorang mualaf, menegaskan bahwa semangat juang heroik Laksamana Zheng He dalam berdakwah dan menyejahterakan umat sangat patut kita teladani.

Diskusi Lintas Profesi yang Egaliter

Pernyataan inspiratif ini muncul dalam forum ‘Srawung’ yang unik. Acara ini mempertemukan beragam profesi, dari Profesor, Doktor, Arsitek, hingga Ustadz, dalam suasana egaliter. Semua peserta melepas ‘jaket’ status sosial mereka untuk bertukar gagasan secara terbuka.

Suasana sejuk ini bahkan mendapat pengakuan dari seorang narasumber perempuan lulusan Universitas Hawaii yang kebetulan non-muslim dan berasal dari etnis Tionghoa.

Selain spirit dakwah, diskusi juga membahas jejak fisik sang laksamana. Prof. IR. Totok Roesmanto, M.Eng, Dosen Arsitektur Islam dari UIN Wali Songo, memaparkan bagaimana misi Zheng He memperkaya khazanah arsitektur Nusantara, terlihat dari jejak di Sam Poo Kong hingga rumah-rumah kuno Lasem.

Gagasan Futuristik dari Sejarah

Lalu, apa yang bisa kita petik dari sejarah ini untuk masa depan?

Ir. Widya Wijayanti, MPH, MURP, IAI, seorang arsitek heritage, mengingatkan peserta. “Kita mempelajari nilai-nilai adiluhung dari masa lalu bukan untuk bernostalgia. Kita mempelajarinya agar bisa merancang ide dan gagasan baru yang futuristik,” ungkapnya.

Menutup diskusi, Pudjo Koeswhoro, Ketua LDK PDM Kota Semarang, merangkum harapan tersebut menjadi sebuah langkah konkret.

“Acara Srawung dan Rembug ini telah memberikan kita kesepahaman yang luar biasa. Bagi kami di LDK PDM Kota Semarang dan Tim Pokja, ini adalah momentum untuk menerjemahkan gagasan besar. Kami siap mengawal ide gagas rancang replika kapal Laksamana Zheng He di atas daratan untuk difungsikan sebagai masjid. Ini bukan sekadar bangunan, tapi sebuah rancangan futuristik yang bisa menjadi destinasi wisata religi sekaligus wisata budaya baru.”

Baca juga : Muhammadiyah Ubah Dalang Jadi Juru Dakwah, Ayat Al-Qur’an Tersisip Halus dalam Lakon Wayang

Kontributor:

Media LDK Kota Semarang

Editor:

Adib Abyan Alb

Bagikan berita ini

Kabar Lainnya

Scroll to Top