Strategi Dr. Aang Kunaepi Rebut Hati Gen Z Lewat Dakwah Digital Millenial
SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Dr. Aang Kunaepi membedah rahasia Dakwah Digital Millenial agar pesan-pesan keagamaan tetap relevan dan diminati oleh generasi Z yang serba cepat. Hal itu ia sampaikan di hadapan para lulusan Sekolah Tabligh Muhammadiyah dalam suasana penuh semangat.
Acara wisuda tersebut berlangsung pada Ahad (11/01/26) di Aula Gedung GKB 2 Lantai 8, Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS). Dalam kesempatan itu, Dr. Aang Kunaepi yang juga menjabat Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang memberikan pandangan segar mengenai tantangan dakwah masa kini.
Sebagai Dosen FITK UIN Walisongo Semarang, ia menekankan bahwa dunia siber adalah medan tempur ideologi yang sangat dinamis. Oleh karena itu, para pendakwah harus mampu meramu pesan lewat layar ponsel dengan pendekatan Dakwah Digital Millenial yang tepat sasaran.
Mengasah Strategi Dakwah Kreatif
Selanjutnya, ia mendorong para mubaligh muda untuk terus mengasah strategi dakwah kreatif. Menurutnya, konten yang menarik secara visual dan narasi yang ringan jauh lebih efektif memikat hati anak muda daripada metode kaku.
“Media digital adalah sarana yang sangat efektif karena menembus batas ruang dan waktu. Kita wajib menjangkau audiens yang luas,” ungkap Dr. Aang Kunaepi dengan antusias. Ia menegaskan bahwa pendakwah masa kini tidak boleh gagap teknologi agar Dakwah Digital Millenial benar-benar sampai ke tangan generasi baru.
Selain itu, ia mengajak para wisudawan Sekolah Tabligh Muhammadiyah untuk aktif mengampanyekan literasi digital islami. Upaya ini sangat penting agar konten positif tidak tenggelam oleh hiruk-pikuk hiburan yang kurang berfaedah.
Menjaga Etika Media Sosial
Meskipun teknologi berkembang sangat pesat, Dr. Aang Kunaepi mengingatkan bahwa esensi dakwah tetaplah pada pemindahan nilai (transfer of value). Ia pun memberikan penekanan khusus pada pentingnya menjaga etika media sosial di tengah maraknya konten provokatif.
Baginya, adab menempati posisi yang jauh lebih tinggi daripada sekadar ilmu pengetahuan. Pondasi adab inilah yang menjadi ruh utama dalam menjalankan Dakwah Digital Millenial yang santun dan menyejukkan.
“Seseorang yang memiliki ilmu namun tanpa adab itu ibarat pohon tak berbuah. Keberadaannya bahkan bisa membahayakan lingkungan sekitar,” tegasnya. Oleh sebab itu, setiap konten harus mampu membangun karakter, bukan justru memicu perpecahan.
Kolaborasi dan Filter Informasi
Sebagai langkah penutup, ia mengajak seluruh elemen untuk membangun kerja kolaboratif. Menciptakan konten berkualitas memerlukan sinergi antara pemahaman agama yang mendalam dan kecanggihan teknis.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu memperkuat literasi digital islami guna menyaring derasnya arus informasi. Langkah ini merupakan benteng pertahanan utama dalam menghadapi paham radikal yang sering bersembunyi di balik jargon agama di internet.
“Pendidik sejati memberikan keteladanan dan kasih sayang. Dalam Dakwah Digital Millenial, kita butuh konten yang memiliki ruh agar pengguna internet bisa membedakan mana kebenaran dan mana hoaks,” pungkas Dr. Aang Kunaepi.
Keberhasilan Dakwah Digital Millenial tidak diukur melalui jumlah pengikut, melainkan melalui perubahan karakter pembacanya. Melalui bekal dari Sekolah Tabligh Muhammadiyah, para wisudawan kini memikul amanah untuk mewarnai dunia digital dengan kesejukan dan keadaban.
Baca juga :
Lawan Konten Negatif, Muhammadiyah Standarisasi Dakwah Digital untuk Milenial