Surat Cinta Guru Muhammadiyah: “Di Bawah Matahari yang Terbit, Kami Menitip Harap”
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org– Di Hari Guru nan spesial ini, redaksi menerima “surat cinta” dari seorang guru Muhammadiyah yang bekerja di sudut-sudut sekolah yang mungkin tak terlihat. Sebuah surat yang tampaknya ditulis dari lubuk hati yang mendalam, refleksi apa yang mungkin banyak dirasakan para guru Muhammadiyah di berbagai pelosok negeri.
Sebuah surat yang mungkin membuat kita para pembaca akan ikut bangga sekaligus menitikkan air mata, atas dedikasi luar biasa para guru Muhammadiyah dalam mencerdaskan anak negeri.
Semoga “surat cinta” ini sampai khususnya kepada para Ayahanda Pimpinan pengelola/pemilik sekolah, karena kepadanyalah mereka menitip harap.
Berikut surat cintanya:
“Di Bawah Matahari yang Terbit, Kami Menitip Harap”
Di beranda sekolah ini, ketika lonceng belum sepenuhnya memecah ketenangan pagi, saya kerap berdiri mematung. Memandang matahari—lambang persyarikatan yang terlukis di seragam batik guru kebanggaan—perlahan naik, menyinari ribuan atap sekolah di seluruh penjuru negeri.
Ada getar bangga yang menjalar diam-diam di dada ini. Sebuah kebanggaan yang purba, namun selalu terasa baru. Bahwa saya adalah bagian dari barisan panjang, sebuah orkestra kolosal bernama Muhammadiyah. Kita tidak sedang berbicara tentang angka yang kecil. Kita berbicara tentang sebuah raksasa peradaban.
Data berbicara dengan lantang: kini tegak berdiri 3.874 sekolah dan 2.181 madrasah yang menjadi rumah kedua bagi lebih dari satu juta siswa. Belum lagi jika kita menengok ke taman-taman persemaian paling dini, terdapat 4.623 Taman Kanak-kanak di bawah naungan persyarikatan yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. Ini adalah ladang jihad yang tak pernah kering, sebuah ikhtiar mencerdaskan bangsa yang tak kenal musim.
Namun, kebanggaan ini seringkali berkejaran dengan kecemasan yang menggigit bahkan sebelum pertengahan bulan datang.
Seperti yang pernah diberitakan dalam tajuk “PR Persyarikatan” di Milad ke-113″ di laman muhammadiyahsemarangkota.org, ada paradoks tajam yang melingkupi kami. Di balik kemegahan gedung-gedung amal usaha yang terus bertumbuh menjulang, terselip cerita lirih tentang angka-angka di slip gaji yang masih jauh dari UMR (Upah Minimum Regional).
Kenyataan di lapangan seringkali lebih perih dari sekadar statistik. Masih banyak rekan sejawat yang harus bertahan hidup dengan honor di kisaran Rp 500 ribu.
Bahkan, dalam sebuah celoteh getir di sebuah grup percakapan, ada pengakuan yang menyayat hati: seorang guru TK mengaku masih menerima honor sebesar Rp 300 ribu rupiah per bulan. Angka yang bagi sebagian orang, mungkin hanya cukup untuk sekali duduk di kedai kopi kekinian.
Kesejahteraan yang belum standar itu adalah “duri dalam daging” yang kami coba abaikan demi sebuah kata sakti: pengabdian.
Di tengah keterbatasan itu, tuntutan zaman dan persyarikatan datang silih berganti. Kami digembleng dalam Baitul Arqam, seperti yang gencar dilakukan oleh Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI). Di sana, ideologi Muhammadiyah ditanamkan, diteguhkan, agar kami menjadi kader yang militan.
Kami diminta menyuntikkan nilai-nilai Kemuhammadiyahan ke dalam nadi anak didik kami, memastikan “Darah Muhammadiyah” mengalir deras di generasi pelanjut.
Sungguh, itu tugas mulia yang kami emban dengan takzim.
Akan tetapi, izinkan saya bertanya dengan suara lirih, selirih angin di lorong kelas: Bagaimana kami bisa sempurna menanamkan ideologi Persyarikatan, jika di saat yang sama kami harus bergulat hebat dengan kewajiban mencukupi kebutuhan keluarga?
Ada ketegangan nyata antara idealisme langit dan realitas bumi. Antara keinginan berdakwah total dan kewajiban membeli susu anak yang harganya tak pernah mau mengerti tentang arti “keikhlasan”.
Namun, jangan salah sangka. Surat ini bukanlah surat pemberontakan. Ini adalah surat cinta yang ditulis dengan tinta kejujuran.
Seperti momen pengajian rutin bulanan yang menyatukan guru dan karyawan sekolah, kami selalu kembali menemukan oase. Di sana, di tengah lantunan ayat dan tausiyah, kami sadar bahwa kami tidak berjalan sendiri. Bahwa keterbatasan ini adalah bagian dari romantika perjuangan.
Maka, di Hari Guru ini, izinkan kami, para Guru Muhammadiyah, menegakkan kepala. Meski dompet kami mungkin tipis, tapi tekad kami setebal baja. Kami bangga menjadi bagian dari gerakan yang telah berusia lebih dari satu abad ini. Kami bangga mendidik anak-anak bangsa di pelosok-pelosok negeri yang mungkin tak terjangkau oleh janji-janji politisi.
Kepada Ayahanda Pimpinan, dengarlah suara kami bukan sebagai keluhan, melainkan sebagai harapan. Kami akan terus mengajar, terus mendidik, dan terus menghidupkan matahari di dada anak-anak kami. Karena bagi kami, menjadi guru Muhammadiyah bukan sekadar profesi, ia adalah jalan sunyi menuju rida Ilahi.
Tetapi, alangkah indahnya jika jalan sunyi itu diterangi oleh lentera kesejahteraan yang menghangatkan. Tak butuh banyak, namun sekadar kami bisa melangkah lebih tegap.
Dan matahari persyarikatan pun bisa bersinar semakin terang. Tidak hanya di logo seragam, tetapi juga di meja makan keluarga kami.
Selamat Hari Guru.
H, Seorang Guru di Sudut Sekolah Muhammadiyah
Baca juga: