Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Tarhib Ramadan: Anggap Ini Ramadan Terakhir, Maksimalkan Panen Pahala

17 Februari 2026, 11:21 WIB 3 menit baca
Suasana Pengajian Tarhib Ramadan di Masjid Taqwa Al Mukarramah Semarang bersama Ustadz Budi Hidayat yang membahas detoks digital Islami.
Ustadz H.M. Budi Hidayat, M.PdI memaparkan strategi detoks digital Islami dan amalan terbaik bulan puasa dalam Pengajian Tarhib Ramadan di Masjid Taqwa Al Mukarramah, Semarang, Sabtu (15/2/2026).

GAYAMSARI, muhammadiyahsemarangkota.org – Pernahkah Anda membayangkan jika Ramadan tahun ini menjadi kesempatan terakhir? Ustadz H.M. Budi Hidayat, M.PdI melontarkan pertanyaan reflektif tersebut saat menyampaikan pengajian Tarhib Ramadan di Masjid Taqwa Al Mukarramah, Sabtu (15/2/2026).

Para jamaah tampak khusyu menyimak paparan tersebut. Dalam ceramahnya, Ustadz Budi menekankan bahwa Ramadan sejatinya merupakan bulan panen pahala bagi orang-orang beriman.

Namun, kita mustahil meraih panen raya tersebut tanpa persiapan matang. Mubaligh Lembaga Dakwah Komunitas Muhammadiyah Jawa Tengah ini mengingatkan jamaah untuk segera menata niat, tekad, dan target ibadah sejak dini.

Ia mengutip Surah Al-Ankabut ayat 69 sebagai landasan pentingnya kesungguhan (jihad). Tanpa kesungguhan ini, ia khawatir ibadah puasa hanya berakhir sebagai rutinitas tahunan tanpa makna mendalam.

Lebih lanjut, umat Islam semestinya memulai persiapan mental jauh hari sebelum hari H. Ustadz Budi menceritakan kebiasaan para sahabat Nabi yang bahkan telah berdoa dan bersiap sejak enam bulan sebelumnya.

Berkaca dari hal itu, kita idealnya melakukan pemanasan minimal dua bulan sebelum Ramadan. Pemanasan ini meliputi puasa sunnah, memperbanyak tilawah, dan qiyamul lail.

Rangkaian ibadah sunnah tersebut merupakan amalan terbaik bulan puasa untuk melatih fisik. Dengan latihan yang cukup, tubuh dan rohani akan lebih siap menyambut bulan suci.

Tips Ibadah Khusyu

Selain persiapan fisik, Ustadz Budi menyoroti tantangan terbesar saat ini, yakni menjaga fokus hati. Ia meminta jamaah mengurangi hal-hal yang tidak bermanfaat (laghwi), seperti penggunaan HP dan media sosial yang berlebihan.

Merujuk pada Surah Al-Mu’minun ayat 3, menjauhi perbuatan sia-sia adalah kunci keberhasilan. Langkah ini sekaligus menjadi salah satu tips ibadah khusyu agar kita tidak membuang waktu percuma.

Di sisi lain, kebersihan hati (Tazkiyah) juga menjadi syarat mutlak masuknya cahaya hidayah. Dosa dan penyakit hati sering kali menjadi penghalang yang memberatkan seseorang dalam beribadah.

“Oleh karena itu, bersihkanlah hati dengan bertaubat dan saling memaafkan sesama saudara. Jangan membiarkan ‘sampah’ hati ikut masuk ke bulan suci,” tegas Ustadz Budi.

Ramadan Terakhir

Suasana kian hening ketika pemateri mengajak jamaah merenungi filosofi kematian. Ia meminta hadirin menanamkan pola pikir bahwa ini mungkin menjadi Ramadan terakhir dalam hidup mereka.

Pola pikir ini akan mendorong seseorang menunaikan salat layaknya salat perpisahan (muwaddi’). Dengan demikian, kita akan mengerjakan setiap target khatam Quran dan sedekah dengan kualitas terbaik.

Menutup kajian Tarhib Ramadan ini, Ustadz Budi mengutip perkataan sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq tentang bekal akhirat. Kutipan ini menjadi pengingat keras bagi siapa saja yang lalai.

“Barangsiapa memasuki alam kubur tanpa membawa bekal, maka ia seakan-akan mengarungi lautan tanpa perahu,” pungkasnya di hadapan jamaah Muhammadiyah Gayamsari.

Baca juga:

Ramadhan 2026: 3 Bekal ‘Wajib’ Ini Lebih Penting dari Sekadar Stok Sirup di Rumah!

Kritik Tajam! Hindari Puasa Tanpa Makna, Strategi Transformasi Diri di Bulan Ramadhan

Kontributor: Tim MPI PDM
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: