Stop Keliru! Ternyata Shalat Tarawih 4 Rakaat Gak Perlu Pakai Tahiyat Awal
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Banyak umat Islam mulai bersiap menyempurnakan ibadah malam menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Buktinya, kajian Ahad Pagi di Masjid UNIMUS mendadak ramai karena membedah “Role Model” Shalat Tarawih yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Salah satu poin yang paling mencuri perhatian adalah kemudahan dalam menjalankan Qiyam Ramadhan tanpa harus terjebak dalam keraguan jumlah rakaat. Alhasil, jamaah kini memiliki panduan yang sangat jelas untuk melaksanakan ibadah secara mandiri maupun berjamaah dengan hati yang tenang.
Formasi 4-4-3: Tarawih Ringkas Tanpa Tahiyat Awal
Selanjutnya, pakar fikih Drs. HRM. Danusiri, M.Ag, membedah secara tuntas mengenai formasi shalat 11 rakaat yang Muhammadiyah utamakan. Menariknya, saat Anda menjalankan formasi empat rakaat sekaligus, Anda tidak perlu melakukan duduk tahiyat awal di rakaat kedua. Danusiri meluruskan kebiasaan umum yang seringkali menyamakan tarawih dengan shalat fardhu yang menggunakan tahiyat awal.
Pakar agama tersebut menegaskan bahwa jamaah harus langsung berdiri tegak menuju rakaat ketiga setelah menyelesaikan sujud kedua di rakaat kedua.
“Pelaksanaannya secara sunnah Rasul mengutamakan bacaan yang bagus dan tumakminah,” ungkap Danusiri saat memaparkan materi.
Tujuannya, agar setiap orang mampu menjaga fokus pada kualitas bacaan dan panjangnya rakaat tanpa beban duduk antara yang tidak memiliki dalil kuat. Maka dari itu, skema 4-4-3 ini hadir sebagai pilihan cerdas yang tetap menjunjung tinggi prinsip kemudahan dalam beribadah.
Rahasia Jari Telunjuk Tegak dan Duduk Iftirasy
Kemudian, sesi kajian masuk ke bagian detail teknis yang sering orang anggap sepele, yaitu posisi jari tangan. Buktinya, Danusiri mempraktekkan secara langsung cara mengacungkan telunjuk kanan yang sudah tegak sejak Anda memulai duduk tahiyat. Anda tidak perlu menunggu kalimat tertentu untuk mengangkat jari, karena pandangan mata pun wajib tertuju lurus pada telunjuk tersebut.
Sosok penceramah ini juga mengingatkan agar jamaah menjaga telunjuk tetap diam ke arah kiblat tanpa menggerakkannya secara berlebihan.
“Telunjuk kanan diacungkan sejak awal duduk tahiyat, bukan menunggu lafaz illallah,” jelas penceramah tersebut secara mendalam.
Selain itu, setiap muslim perlu memahami standar posisi duduk Iftirasy, yakni duduk di atas kaki kiri dengan kaki kanan yang berdiri tegak. Ternyata, ketegasan dalam mengatur posisi jari dan kaki ini menjadi ciri khas yang menyempurnakan keindahan shalat sesuai tuntunan Tarjih.
Alur Praktis Shalat Lail yang Menenangkan
Terakhir, panduan ini memberikan alur yang sangat mudah bagi siapa saja yang ingin memulai shalat tarawih malam ini. Buktinya, jamaah cukup menjalankan dua sesi empat rakaat dan ditutup dengan witir tiga rakaat sekaligus tanpa jeda salam di tengahnya. Antar sesi bisa diisi dengan istirahat sejenak atau doa ringan agar kondisi fisik tetap bugar selama prosesi ibadah.
Sinergi antara pemahaman dalil yang kuat dan tata cara yang simpel membuat ibadah terasa lebih ringan namun tetap berbobot.
“Muhammadiyah berpegang pada prinsip kemudahan namun tetap sesuai dengan Sunnah Maqbulah,” tambah Danusiri menutup materinya.
Akhirnya, dengan memahami “Role Model” ini, tidak ada lagi alasan bagi umat untuk merasa bingung di tengah barisan shalat. Sejatinya, kualitas ibadah ditentukan oleh seberapa besar pemahaman dan ketulusan kita dalam meneladani cara Rasulullah bersujud. Mari kita jemput Ramadhan dengan tata cara shalat yang lebih mantap dan sesuai tuntunan!