Ternyata Rezeki Itu Dekat Asal Tahu Kuncinya
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org — Banyak orang mengejar rezeki dengan berbagai cara, tapi lupa bahwa keberkahan justru bisa muncul dari hal-hal sederhana iman, takwa, dan hati yang dekat dengan Allah. Inilah pesan utama yang dibongkar Ustadz Amiril Edi Pranomo, MH., Tokoh LPHU PDM Kota Semarang, dalam Kajian Rutin Tematik “Membuka Pintu Rezeki yang Barokah” di Masjid At-Taqwa, Kamis (27/11/2025).
Rezeki yang barokah menjadi kebutuhan setiap manusia, namun tidak semua orang memahami dari mana keberkahan itu datang. Ustadz Amiril Edi Pranomo menjelaskan bahwa keberkahan bukan soal banyaknya harta, tetapi ziyadatul khair bertambahnya kebaikan yang terus-menerus. Ia mengingatkan jamaah bahwa barokah meliputi rasa aman, sehat, tenang, cukup, hingga kebahagiaan batin.
Kunci Utama adalah Iman dan Takwa
Dalam pemaparannya, Ustadz Amiril menegaskan bahwa pintu rezeki paling kuat justru terbuka melalui iman dan takwa.
“Iman dan takwa itu kunci keberkahan, keduanya akan menghadirkan petunjuk dan rezeki yang tidak disangka-sangka,” ujarnya menyitir QS. Al-A’raf dan At-Thalaq.
Ia lalu mengurai satu per satu bentuk pintu rezeki yang Allah janjikan: dari istigfar, tawakal, hingga kedekatan pada Allah melalui ibadah yang khusyuk.
Ustadz Amiril menjelaskan bahwa setiap amalan itu bukan hanya membawa ketenangan batin, tetapi juga pertolongan nyata dalam urusan dunia.
Istigfar, Silaturahmi, hingga Infaq
Di bagian lain kajiannya, ia mempertegas bahwa rezeki sering kali terhambat karena dosa-dosa yang belum ditaubati.
Menurutnya, istigfar adalah salah satu amalan paling cepat membuka kemudahan hidup.
Begitu pula dengan infaq yang mendatangkan doa malaikat dan silaturahmi yang memanjangkan umur serta menambah keberkahan.
Ia juga menyinggung tentang hijrah menuju kebaikan yang disebut Al-Qur’an sebagai salah satu pembuka pintu rezeki.
Dengan bahasa sederhana, ia menggambarkan bahwa perubahan kecil dalam kebiasaan mampu membawa perubahan besar dalam kehidupan seseorang.
Kajian ini ditutup dengan sebuah pertanyaan sederhana tetapi membuat para jamaah berfikir “apakah selama ini kita mengejar nominal atau mengejar keberkahan?”