Tradisi Syawal Muhammadiyah, Inilah Makna Menghapus Jeda Menyelami Rasa
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Mengusung Makna Menghapus Jeda Menyelami Rasa, acara Silaturahmi Alumni Guru dan Karyawan ini menjadi bukti kuatnya akar persaudaraan dalam Tradisi Syawal Muhammadiyah. Suasana hangat menyelimuti aula BBPMP Srondol pada Ahad pagi (05/04/26) saat puluhan pendidik lintas generasi kembali bertemu.
Kehadiran mereka melampaui arti reuni biasa. Para peserta ingin menghidupkan kembali ruh perjuangan melalui jalinan komunikasi yang lebih erat. Tawa dan sapaan akrab seketika memecah kesunyian ruangan. Hal ini menciptakan atmosfer kekeluargaan yang begitu kental sejak awal acara.
Merajut Kembali Hubungan yang Terputus
Dalam sambutannya, Drs. Muh. Hasyim menekankan pentingnya menjaga kekompakan. Mantan Kepala Sekolah yang kini menjabat Pimpinan Dikdasmen Kota Semarang tersebut mengajak seluruh hadirin untuk terus memajukan sekolah. Menurut sosok senior ini, sekolah Muhammadiyah akan kuat jika para pilar pendidiknya tetap bersatu padu.
“Kita perlu mengadakan pertemuan rutin seperti ini. Selain menjaga kesehatan batin, agenda ini menjadi mesin penggerak untuk kemajuan SMA Muhisa ke depan,” tegas Hasyim dengan penuh semangat.
Filosofi Menghapus Jeda
Acara terasa semakin bermakna saat Sekretaris PDM Kota Semarang, Suparno, menyampaikan tausiyahnya. Ia membedah secara mendalam tentang bagaimana ego manusia seringkali menciptakan jarak atau “jeda” dalam hubungan sosial. Oleh karena itu, momen Syawal harus menjadi titik balik untuk meruntuhkan tembok tersebut.
“Islam mengajarkan kita untuk menjadi yang pertama dalam menebar salam. Menghapus jeda berarti kita berani mengalahkan gengsi demi terciptanya kedekatan batin,” jelas Suparno di hadapan para alumni.
Tokoh Muhammadiyah ini juga menambahkan bahwa persaudaraan sejati adalah ikatan yang saling menguatkan. Ibarat sebuah bangunan, setiap elemen di dalamnya memiliki peran penting. Kerja sama antar elemen inilah yang menjaga stabilitas dan kekuatan struktur secara keseluruhan.
Komitmen untuk Terus Mengabdi
Pertemuan ditutup dengan sesi ramah tamah yang emosional. Meski sebagian besar peserta sudah memasuki masa purnatugas, semangat mereka untuk berkontribusi tidak pernah padam. Para pendidik ini sepakat bahwa jarak fisik tidak boleh menjadi alasan lunturnya rasa memiliki terhadap persyarikatan.
Melalui Halalbihalal SMA Muhammadiyah 1 Semarang, para guru dan karyawan membuktikan bahwa pengabdian tidak mengenal batasan waktu. Akhirnya, mereka pulang dengan membawa semangat baru untuk terus menebar manfaat di lingkungan masing-masing.
Baca juga :
Gebrakan Nasyiatul Aisyiyah: Rajut Ukhuwah Demi Cetak Keadaban Perempuan Dunia
Pereda Politik Panas! Kisah Harmoni Warga di Balik Tradisi HalalbiHalal