Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Pasien Tak Perlu Lagi Antre Lama! Unimus Soroti Sistem Rujukan Medis Digital

13 Agustus 2026, 11:32 WIB • 3 menit baca
Tiga narasumber yang terdiri dari akademisi keperawatan, pakar kebijakan publik, dan perwakilan Dinas Kesehatan duduk berderet memaparkan materi di atas panggung acara talkshow Unimus.
Sinergi pakar kebijakan, akademisi, dan praktisi kesehatan dalam membedah langkah transformasi layanan kesehatan nasional pada forum NURSTRAT 2026 di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus).

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Wajah pelayanan medis Indonesia kini sedang mengalami perubahan besar-besaran menuju modernisasi digital. Oleh sebab itu, Himpunan Mahasiswa S1 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menggelar forum NURSTRAT 2026 guna membekali para calon perawat agar mampu mengawal transformasi layanan kesehatan nasional.

Perhelatan ilmiah yang berlangsung pada Senin (10/8/2026) tersebut menghadirkan pakar kebijakan, praktisi daerah, hingga akademisi senior. Para narasumber sepakat bahwa perawat masa depan wajib mengambil peran strategis sebagai penggerak perubahan di tengah masyarakat.

Langkah nyata modernisasi ini terlihat dari penyebaran fasilitas medis canggih hingga ke RSUD daerah. Pasalnya, pemerataan teknologi mutakhir akan memangkas ketergantungan pasien terhadap rumah sakit rujukan di kota-kota besar.

Anggota Panja UU Kesehatan DPR RI, Dr. Ns. Edy Wuryanto, S.Kep., M.Kep., memaparkan bukti nyata kemajuan fasilitas di daerah. “DPR selama ini terus bekerja keras mendorong peningkatan kualitas sarana dan prasarana kesehatan. Salah satu contohnya, RSUD Rembang yang baru saja diresmikan kini sudah memiliki layanan cath lab atau kateterisasi jantung. Dengan layanan tersebut, pasien tidak harus selalu ke rumah sakit di Semarang,” tegas Edy Wuryanto pada Senin (10/8/2026).

Pangkas Waktu Tunggu Pasien Lewat Sistem Rujukan Digital

Percepatan transformasi layanan kesehatan ini tidak hanya berfokus pada kecanggihan alat medis semata. Pemerintah Kota Semarang juga membenahi rantai koordinasi rujukan antarfasisilitas kesehatan agar pasien memperoleh kepastian tindakan.

Kepala Bidang SDM Dinkes Kota Semarang, Dr. Elhamangto Zuhdan, M.K.M., menjelaskan bahwa integrasi data digital menjadi kunci utama pelayanan cepat. Maka dari itu, pasien tidak perlu lagi khawatir menghadapi kondisi kamar penuh saat tiba di rumah sakit rujukan.

“Kami sudah mempunyai sistem rujukan yang terintegrasi dan berkesinambungan. Harapannya, ketika pasien dirujuk, kesiapan fasilitas tujuan dapat diketahui sehingga pasien tidak menghadapi kondisi rumah sakit penuh atau harus menunggu terlalu lama,” kata Elhamangto Zuhdan saat menyampaikan paparannya pada Senin (10/8/2026).

Kehadiran sistem terhubung ini otomatis meningkatkan keselamatan pasien saat berada dalam kondisi darurat. Selanjutnya, tenaga keperawatan dapat memanfaatkan kepastian data rujukan tersebut untuk memberikan asuhan yang lebih responsif.

Perawat Komunitas Jadi Benteng Pencegahan Penyakit

Langkah pembaharuan medis ini tentu tidak boleh berhenti hanya di dalam ruang perawatan rumah sakit. Dosen Spesialis Keperawatan Komunitas, Dr. Ns. Siti Aisah, M.Kep., Sp.Kom., menegaskan pentingnya edukasi pola hidup sehat langsung di tengah lingkungan warga.

Bahkan, perawat memiliki posisi yang sangat dekat dengan keluarga untuk memberikan pendampingan kesehatan mandiri. Oleh karena itu, perguruan tinggi harus terus menggembleng mahasiswa agar terampil memanfaatkan teknologi dan berpikiran kritis.

Dengan demikian, mahasiswa keperawatan UNIMUS yang hadir dalam forum tersebut siap menjadi garda terdepan pelayanan medis masa depan. Kolaborasi antara kebijakan pemerintah dan kesiapan akademisi ini menjadi fondasi kokoh menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.

Akhirnya, perubahan sistem kesehatan ini benar-benar memberikan manfaat nyata yang makin dekat dan berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat. Kehadiran perawat yang adaptif siap membawa standar pelayanan medis Indonesia ke level yang lebih tinggi.

Kontributor: Tim Humas UNIMUS
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: