Waspadai Istidraj: Bukan Ujian Kekurangan, tapi Kelimpahan yang Membutakan Hati
TEMBALANG, muhammadiyahsemarangkota.org– Ketika tangga karier terus mendaki, gaji bulanan tak pernah tersendat, dan segala kebutuhan dunia terasa mudah terpenuhi, sebagian besar orang menganggapnya sebagai tanda kasih sayang dan keberkahan dari Tuhan. Namun, di tengah euforia kesuksesan materialistik yang lekat dengan kehidupan modern, ulama dan akademisi justru menyerukan sebuah peringatan keras yang relevan bagi umat: Istidraj.
Fenomena spiritual ini, di mana nikmat melimpah terus diberikan kepada seorang hamba yang kian lalai dalam ibadah dan terus tenggelam dalam dosa, menjadi perhatian dalam pengajian dosen Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) dengan penceramah Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang Dr. AM Jumai. Acara pengajian ini diselenggarakan bagi civitas akademika Unimus di Masjid At-Taqwa kompleks kampus, Kamis (11/12/25).
Dr. Jumai yang juga merupakan Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unimus itu menegaskan bahwa ujian terbesar bagi umat Muslim saat ini bukanlah kekurangan, melainkan kelimpahan yang perlahan menarik mereka menjauh dari kedekatan Ilahi.
Menurut Dr. Jumai, Istidraj adalah sebuah konsep dalam Islam yang sering disalahpahami. Istidraj dijelaskan sebagai tipuan halus berupa kenikmatan duniawi yang seolah-olah merupakan karunia, padahal hakikatnya adalah penundaan azab. Kondisi ini membuat seseorang merasa aman dan benar meskipun perilakunya bertentangan dengan syariat.
Ia menjelaskan bahwa Istidraj adalah kondisi berbahaya yang diilustrasikan dalam Al-Qur’an (QS Hud: 15-16). Kondisi ini secara khusus menimpa orang-orang yang hanya menjadikan kehidupan dunia dan perhiasannya sebagai tujuan utama hidupnya.
Dr. Jumai menekankan perlunya introspeksi bagi setiap individu yang merasakan kelimpahan materi namun diiringi kelalaian dalam ibadah. “Jangan bangga jika hartamu bertambah, tapi sholat Subuhmu makin siang. Itu bukan rezeki yang berkah, itu Istidraj,” tegasnya, memberikan kutipan langsung yang menyentak kesadaran. “Itu adalah kemewahan yang diizinkan Allah agar kita semakin lupa.”
Ia mengingatkan bahwa nikmat yang mengalir deras tanpa diiringi rasa syukur dan ketaatan akan berujung tragis. “Nikmat dunia yang terus mengalir tanpa kedekatan kepada-Nya bukanlah anugerah sejati, melainkan tali ulur yang perlahan menarik menuju siksa pedih di akhirat.”
Hikmah di Balik Musibah
Setelah membahas Istidraj sebagai ujian berupa kelimpahan, Dr. Jumai kemudian beralih mengulas tentang hikmah di balik musibah, sebagai kontras dari Istidraj. Menurutnya, musibah—seperti sakit, kehilangan, atau kegagalan bisnis—tidak selalu bermakna hukuman.
Ia memaparkan bahwa musibah memiliki tiga dimensi spiritual: sebagai penggugur dosa, sebagai ujian untuk menaikkan derajat keimanan, atau sebagai peringatan keras.
“Musibah itu adalah silent alarm dari Allah. Ia datang bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menghentikan laju kita yang terlalu kencang menuju jurang kelalaian,” kata Dr. Jumai, menjelaskan fungsi korektif dari setiap kesulitan.
Secara tidak langsung, ia merangkum bahwa mukmin yang ikhlas menerima musibah dan mengucapkan kalimat Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun dijanjikan ganjaran berlimpah. Ganjaran tersebut berupa rahmat dan petunjuk dari Allah SWT, serta akan disebut sebagai golongan orang-orang yang bersyukur.
Inti dari ceramah ini adalah ajakan untuk melihat segala kondisi hidup—baik kemudahan maupun kesulitan—dengan perspektif spiritual yang benar. Pesan ini menjadi refleksi mendalam bagi para dosen Unimus dan seluruh umat Muslim agar tidak terjebak dalam pusaran kesenangan dunia yang menipu. Bahwa sejatinya, ketenangan hati adalah indikator keberkahan sejati, bukan sekadar tebalnya rekening.