Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Wakil Ketua PDM Kota Semarang bidang MPM, Hukum & HAM, pengembangan UMKM, Dr. H. Amrudin Mahfud Jumai M.M.


MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, SEMARANG – Amar ma’ruf nahi munkar artinya adalah mengajak dalam hal kebaikan dan mencegah kemungkaran atau kejahatan. Kalimat tersebut mengacu pada perintah untuk setiap muslim, baik sebagai individu atau kelompok, dalam hal dakwah. Dengan kata lain, Amar ma’ruf nahi munkar artinya adalah perintah bagi setiap muslim untuk berdakwah, yakni mengajak sesamanya untuk berbuat baik dan menghindari kemungkaran.


Menurut wakil ketua PDM Kota Semarang bidang MPM, Hukum & HAM, pengembangan UMKM, Dr. H. Amrudin Mahfud Jumai M.M. dalam hal penjabaran Amar ma’ruf nahi munkar juga dapat diartikan sebagai sikap untuk mengajak dalam hal kebaikan dan mencegah kemungkaran atau kejahatan. 


Prinsip pokok dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dibagi menjadi beberapa kategori, antara lain :
1. Prinsip Akidah
Menyangkut sistem keimanan/kepercayaan terhadap Allah, SWT. Ini landasan fundamental dalam keseluruhaan aktifitas seorang muslim, baik yang menyangkut sikap mental maupun sikap lakunya, dan sifat-siafat yang dimiliki.
2. Prinsip Syariat
Serangkaian ajaran yang menyangkut aktifitas seorang muslim didalam semua aspek hidup dan kehidupannya. Mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Mana yang halal dan mana yang haram. Mana yang mubah, dsb.
3. Prinsip Akhlak
Menyangkut tata cara berhubungan baik secara vertikal dengan Allah, SWT maupun secara horisontal dengan sesama manusia dan seluruh makhluk Allah, SWT.


PRINSIP DAKWAH RASULULLAH

Pada zaman dakwah Rasulullah, pada awal dakwah mengunakan sistem sembunyi-sembunyi, dikarenakan pada waktu itu masyarakat masih dibelenggu dengan “kebodohan”. Dan pada saat itu, Islam bukanlah agama yang diterima dan diperbolehkan atau dilegalkan untuk penyebarannya. Maka pada saat itu Rasullah saat berdakwah menggunakan prinsip sebagai berikut :
1. Memberikan Peringatan (al-Indzar)
2. Menggembirakan (al-Tabsyir)
3. Kasih Sayang & Lemah Lembut (al-Rifqwaal-Lin)
4. Memberikan Kemudahan (al-Taisir)
5. Tegas dan Keras (Al-Syiddah)
6. Sarat Tantangan dan Ujian (al-Tahaddiyat)
7. Ofensif dan Aktif (HujumiwaFa’ali)


KISAH HEROIK PARA NABI

Sebagaimana umat Islam kite perlu mengetahui terlebih dahulu kisah para nabi dan rasul Allah SWT. Lewat orang-orang pilihan Allah ini kita bisa memetik nilai-nilai teladan dari-Nya. Selain untuk menambah wawasan tentang keislaman juga agar bisa meningkatkan keimanan pada nabi dan rasul Allah.

Berikut kisah nabi dan rasul Allah dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar :

1. Nabi Ibrahim dengan Raja Namrud
Kisah Nabi Ibrahim as dengan Raja Namrud menjadi kisah yang mengandung nilai-nilai diplomasi, dimana Nabi Ibrahim as yang saat itu masih remaja berani membuktikan bahwa berhala yang selama ini disembah oleh rakyat Raja Namrud bukanlah Tuhan yang sesungguhnya. Untuk membuktikan kepentingannya nabi Ibrahim as, menghancurkan semua berhala dengan kapak dan menyisakan satu yang paling besar serta menancapkan kapak tersebut di kepala berhala, hal ini bertujuan agar Raja Namrud dan para pengikutnya menyadari bahwa sangatlah mustahil bila sebuah berhala mampu menghancurkan berhala yang lain dan memahami bahwa sesungguhnya berhala bukanlah Tuhan yang maha mengabulkan seperti yang diyakini oleh Raja Namrud dan Pengikutnya. Meskipun strategi nabi Ibrahim as akhirnya menghasilkan konflik dengan dibakarnya nabi Ibrahim as, kisah diplomasi antara nabi Ibrahim as dengan Raja Namrud menggambarkan bahwa kegiatan diplomasi tidaklah selalu berujung damai atau saling menguntungkan.

2. Kepatuhan Makhluk Allah pada Nabi Daud
Keistimewaan Nabi Daud yang diberikan Allah berupa kepatuhan sejumlah makhluk Allah mengikuti keinginannya. Seperti gunung-gunung yang bertasbih bersamanya di waktu pagi dan petang, burung-burung yang bisa mengikuti perintah Daud, dan diberikan kerajaan yang sangat besar dan luas. Selain itu, Nabi Daud AS juga diberikan kekuatan dan keilmuan yang sangat hebat. Dengan ilmu itu, Nabi Daud bisa memberikan solusi atas masalah yang dihadapi kaumnya.

3. Nabi Sulaiman dengan Ratu Bilqis
Nabi Sulaiman as atau Sulaiman bin Daud bin Aisya bin Awid merupakan seorang Putra yang mewarisi kekayaan ayahnya nabi Daud as dan juga mewarisi perjuangan untuk mendakwahkan risalah kenabian merupakan nabi dengan kisah yang banyak dan menakjubkan. Salah satu kisahnya adalah kisah nabi yang mampu memahami bahasa binatang dan menundukan golongan Jin diantaranya Jin Ifrit, kisah lainnya adalah mengenai Kisah nabi Sulaiman as dan Ratu Balqis.Kisah nabi Sulaiman as dengan Ratu Balqis menjadi rujukan perihal bentuk dan cara berdiplomasi, sebagai seorang pemimpin Ratu Balqis dapat melahirkan pemikiran yang hingga sekarang diadopsi oleh pemimpin-pemimpin negara yaitu ucapanya “dari pada mengadakan peperangan lebih baik melindungi rakyat dan mengamankan aset yang ada di kerajaan” hal ini dilontarkan ketika nabi Sulaiman as mengirimkan risalah atau surat kepada Ratu Balqis untuk ikut menyembah dan mengimani apa yang diimani oleh nabi Sulaiman as, dimana saat itu seluruh penghuni kerajaan Ratu Balqis masih menyembah Matahari.Secara umum, strategi yang digunakan oleh nabi Sulaiman as dikisahkan dalam Q.S Al-Naml ayat 22- 23, teknik ini dinamakan dengan diplomasi Persuasif dimana kedua penguasa berusaha mencegah konflik atau peperangan dan mengedepankan negoisasi, diplomasi persuasive memiliki banyak bentuk diantaranya perjanjian, surat-menyurat ataupun mengirimkan duta atau delegasi ke negara tujuan


Sebagai penutup, Dr. H. AM Jumai M.M. memberikan kesimpulan dari perbuatan amar makruf nahi munkar adalah, segala keutamaan yang akan dicapai selamanya dalam keadaan baik. Jika mulai ditinggalkan, maka kehidupan yang sebelumnya baik akan berangsur sampai ketitik paling rendah. Menjalankan tugas suci amar makruf nahi munkar di tengah masyarakat yang telah rusak merupakan pekerjaan yang memerlukan perhatian. Sehingga nilainya jauh lebih bagus daripada beribadah dengan cara mengasingkan diri dari orang banyak.




Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara