Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.


MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, PEDURUNGAN – Untuk menyemarakkan milad muhammadiyah yang ke-111 sekaligus berperan aktif dalam melestarikan salah satu budaya Jawa, maka pimpinan cabang muhammadiyah Pedurungan mengadakan pertunjukan wayang kulit pada hari Jumat (15/12) bertempat di halaman kantor kecamatan Pedurungan, Jl Majapahit no 357, kelurahan Gemah, kecamatan Pedurungan.


Dalam acara pertunjukan wayang kulit tersebut turut hadir camat Pedurungan, M. Agus Junaidi M.M. beserta segenap jajarannya, ketua PWM Jawa Tengah, Dr. H. Tafsir M.Ag., Pembina LDK Jawa Tengah, H. Agung Budi Margono MT., ketua LDK Jawa Tengah, Dr. H. Amrudin Mahfud Jumai M.M., wakil ketua PDM kota Semarang, H. Jumadi M.Pd. beserta segenap jajarannya, segenap pimpinan cabang muhammadiyah Pedurungan, serta para tamu undangan.


Ketua PCM Pedurungan, Suparni S.E. M.M. didalam sambutannya mengatakan bahwa pimpinan cabang muhammadiyah Pedurungan mengucapkan banyak terima kasih kepada camat Pedurungan yang telah memberikan tempatnya sehingga acara pagelaran wayang kulit pada malam hari ini bisa terselenggara, semoga acara tersebut nantinya dapat berjalan dengan lancar.

Camat Pedurungan, M. Agus Junaidi M.M. ketika memberikan sambutan dalam acara pagelaran wayang kulit

Apresiasi Peran Dari Muhammadiyah

Camat Pedurungan, M. Agus Junaidi M.M. didalam sambutannya mengatakan bahwa pada tahun 2045 mendatang merupakan puncak dari generasi emas Indonesia. Hal itu meninggalkan tantangan tersendiri bagi pemerintah kota Semarang, khususnya dalam hal penanganan mental para generasi muda saat ini. Oleh karena itu pemerintah kota Semarang dalam hal ini sangat mengapresiasi peran dari muhammadiyah dalam hal penyelenggaraan wayang kulit pada malam hari ini. Diharapkan melalui pagelaran wayang kulit para generasi muda dapat lebih mengenal serta ikut berkontribusi dalam hal melestarikan salah satu budaya Jawa tersebut.

Ketua PWM Jawa Tengah, Dr. H. Tafsir M.Ag. (tengah) ketika memberikan sambutan dalam acara pagelaran wayang kulit

Muhammadiyah dan Kulturasi Budaya

Ketua PWM Jawa Tengah, Dr. H. Tafsir M.Ag. ketika memberikan sambutan mengatakan bahwa wayang kulit merupakan salah satu produk dari budaya Jawa yang di dalamnya mengandung unsur-unsur seni yang luhur. Selain berfungsinya sebagai huburan masyarakat, Wayang kulit juga sering digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan moral, baik yang bersumber dari nilai dan norma agama maupun nilai dan norma sosial lainnya.

“Kendati tidak mengharamkan wayang, Muhammadiyah tetap berpedoman pada kaidah dasar terkait akidah, hukum-hukum syariat, dan asas kemanfaatan dalam menjalankan kesenian”, tegas Tafsir.

Lebih lanjut, dakwah kultural sendiri sudah diputuskan Muhammadiyah dalam muktamarnya sebagai salah satu pendekatan dakwah yang memanfaatkan peran budaya. Agama mutlak dibutuhkan dalam kehidupan sebagai penunjuk arah. Begitu juga dengan fungsi ilmu. Dengan ilmu, manusia akan lebih mudah dalam menjalankan kehidupan ini. Namun demikian, dibutuhkan pula seni agar hidup terasa indah. Kombinasi ketiganya akan menjadikan gerakan dakwah Muhammadiyah terasa humanis. Secara fitrahnya, manusia membutuhkan ketiga hal tersebut.

Penyerahan simbolis lakon puntadewa oleh ketua PWM Jawa Tengah, Dr. H. Tafsir M.Ag. kepada dalang KRAT ki Ketut Budiman S.T.

Wahyu Kalimosodo Kawedhar

Dalam lakon ‘Wahyu Kalimosodo Kawedhar” menceritakan tentang prabu Puntadewo dan para pandawa yang baru saja menyelesaikan perang suci yaitu Bharatayuda Joyobinangun, dan telah berhasil mangrurah satrumurka yaitu membunuh prabu Duryudana dan para kurawa beserta para raja pengikutnya. Namun, prabu Puntadewa sedih karena gugurnya para pepunden dan anak-anak pandawa. Prabu Puntadewa sedih karena takut kalau para putra pandawa tersebut dimintai pertanggungjawaban atas hidupnya yang membela prabu Puntadewo, Kemudian dijelaskan sang ismoyo kalau para putra pandawa tersebut adalah mati syahid dan dijamin masuk surga tanpa hisab, maka prabu Puntadewo memohon agar para pandawa yang tidak gugur dalam peperangan suci dimasukkan kedalam surga langgeng tanpa hisab seperti para satria yang gugur syahid.

Ada persyaratan khusus untuk menggapai niat suci prabu Puntadewo yang disampaikan kyai Semar, salah satunya yaitu seluruh pandawa bertapa di tempat suci untuk menggapai wahyu wedaring kitab Jamus Kalimosodo. Didalam pertapaan para pandawa terdapat gangguan dari dewo panggodo pangrencono yang bernama Bathara Kolo beserta wadyo bolo bajobarat yang akan menggagalkan pandawa dan menadah kolomongso pandawa.

Sigaplah kyai Semar untuk menyingkirkan godaan tersebut dengan mengundang pandito Begawan Anoman. Sehingga pandawa berhasil mendapatkan wahyu wedaring kitab jamus kalimosodo melalui Sang Hyang Wenang,




Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara