Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.


MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, SEMARANG – Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting (LPCR) PDM Kota Semarang, H. Suratejo, S.E., memaparkan program-program LPCR tahun 2025 dalam rapat konsolidasi dan koordinasi dengan PCM se-Kota Semarang.

Program-program tersebut meliputi Rakor LPCR internal dan antar UPP, kegiatan delegasi pemutakhiran data cabang dan ranting, kunjungan turba, pengembangan model PCM unggulan, pengembangan model PRM unggulan, plangisasi sekretariat PCM/PRM, dan KTA-nisasi warga Muhammadiyah.

Suratejo menyampaikan bahwa pemutakhiran data Sistem Informasi Cabang Ranting (SICARA) masih perlu ditingkatkan.

“Hingga saat ini, hanya 19 PCM yang telah terisi data, namun belum diupdate secara berkala. Belum ada ranting yang melakukan update data secara rutin,” katanya

Suratejo menekankan pentingnya setiap PCM dan PRM memiliki admin yang bertanggung jawab untuk memutakhirkan data SICARA minimal sekali dalam setahun. Data SICARA menjadi salah satu tolok ukur kemajuan Muhammadiyah, sehingga pemutakhiran data yang akurat dan terkini sangat diperlukan untuk meningkatkan kinerja dan kualitas pengelolaan cabang dan ranting.

Dalam kesempatan ini, Suratejo juga menyampaikan bahwa kegiatan kunjungan Turba (Turun ke Bawah) merupakan salah satu program LPCR yang bertujuan memastikan cabang dan ranting Muhammadiyah dapat bertumbuh dan berkembang. Melalui kunjungan ini, diharapkan dapat menyerap aspirasi dan bertukar gagasan dengan pimpinan cabang dan ranting.

“Kunjungan Turba akan dilakukan secara periodik, seperti pada bulan Ramadhan, serta insidentil sesuai kebutuhan. Dengan kegiatan ini, LPCR PDM Kota Semarang berupaya meningkatkan kualitas pengelolaan cabang dan ranting, serta memperkuat hubungan antara pimpinan daerah dan cabang serta ranting,” jelasnya


Kriteria PCM dan PRM Unggulan

Suratejo dalam hal ini juga memaparkan tentang pengembangan model PCM (Pimpinan Cabang Muhammadiyah) unggulan dan PRM (Pimpinan Ranting Muhammadiyah) unggulan. Menurutnya, PCM unggulan harus memiliki kajian rutin pekanan dan jumlah anggota lebih dari 200 orang, dengan minimal 50% kategori hijau. Selain itu, PCM unggulan juga harus memiliki masjid sebagai pusat kegiatan, korps mubaligh yang memiliki Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), Kantor/Lazismu, dan kantor/balai Muhammadiyah.

Sementara itu, PRM unggulan harus memiliki kajian rutin pekanan dan jumlah anggota lebih dari 50 orang, serta memiliki layanan masyarakat seperti klinik atau KB/TK. PRM unggulan juga harus memiliki masjid sebagai pusat kegiatan, AUM, Kantor/Lazismu, dan kantor/balai Muhammadiyah.

Dengan pengembangan model PCM dan PRM unggulan ini, diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan Muhammadiyah di tingkat cabang dan ranting, serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.


Pemasangan Plang dan KTA-nisasi

Suratejo menyampaikan bahwa pemasangan plang PCM dan PRM sangat penting untuk meningkatkan keterjangkauan dan aksesibilitas pengurus. Menurutnya, PCM dan PRM harus memiliki plang yang jelas dan strategis, serta pengurus yang mudah dihubungi melalui contact person (CP).

Selain itu, Suratejo juga menekankan pentingnya KTA-nisasi warga Muhammadiyah sebagai wujud tertib organisasi dan mencerminkan pertumbuhan dan kemajuan Muhammadiyah. Proses KTA-nisasi harus dibuat mudah dan efisien, dengan pembuatan Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM) yang dapat dilakukan melalui cabang atau ranting.

Dengan demikian, diharapkan PCM dan PRM dapat menjadi lebih efektif dan efisien dalam menjalankan kegiatan Muhammadiyah, serta meningkatkan kesadaran dan partisipasi warga Muhammadiyah dalam kegiatan organisasi.


Membangun Cabang dan Ranting yang Kuat dan Bermanfaat

Sebagai penutup, Suratejo menyampaikan bahwa cabang dan ranting Muhammadiyah diibaratkan seperti pohon yang baik (syajaroh thoyyibah). Pohon yang baik memiliki akar yang kuat, cabang yang menjulang tinggi, dan memberikan manfaat kepada banyak orang.

Suratejo menekankan bahwa seperti pohon yang baik, cabang dan ranting Muhammadiyah harus memiliki fondasi yang kuat, yaitu kepengurusan yang solid dan terstruktur. Selain itu, cabang dan ranting juga harus memiliki kegiatan yang beragam dan bermanfaat bagi masyarakat, sehingga dapat menjadi rahmatan lil ‘alamin.

Dengan demikian, Suratejo berharap bahwa cabang dan ranting Muhammadiyah dapat terus tumbuh dan berkembang, memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat, dan menjadi contoh bagi organisasi lainnya dalam menjalankan kegiatan yang positif dan bermanfaat.



Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara