
MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, SEMARANG BARAT – Tidak dipungkiri, laju perkembangan teknologi yang luar biasa di era digital seperti saat ini memang banyak memberikan dampak positif. Namun dibalik segala kelebihannya, sesuatu hal diyakini akan mendatangkan hal-hal negative juga. Disatu sisi, teknologi mampu menghadirkan kecepatan pendistribusian informasi yang luar biasa. Update peristiwa dilokasi tertentu, misalnya invasi Rusia ke Ukraina, akan diketahui oleh public di belahan dunia lain. Dengan sekali klik, video yang diunggah, akan dapat ditonton oleh jutaan bahkan milyaran umat manusia di dunia. Namun, disisi lain, mengintip tindak kejahatan yang berevolusi dalam bentuk kejahatan cyber. Salah satu cyber crime yang paling populer adalah kebocoran data.
Beberapa cara untuk mencegah data kita bocor kemudian dibahad dalam kajian Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) oleh ustadz Galih Driandanu M.Kom. pada hari Kamis tanggal 1 Juni 2023. Bertempat di masjid Baitul Iman Jl. Raya Panjangan, Kel. Manyaran, Kec. Semarang Barat, ustadz Galih Driandanu menjelaskan tentang kebocoran data yang erat hubungannya dengan pembobolan data. Ketika data tanpa sengaja terkespos ke internet ataupun situs yang tidak aman, seorang peretas dapat mengakses informasi pribadi Anda untuk melakukan pembobolan data (data breach). Berikut merupakan beberapa penyebab terjadinya kebocoran data:
1. Kesalahan Diri Sendiri
Kurangnya kesadaran diri terhadap penyebaran data sensitif seperti memasukkan data pribadi berupa nomor telfon di situs atau aplikasi yang tidak aman. Kelalaian dan kurang telitinya pegawai dalam mengirim email maupun menjaga aset kantor seperti hard drive dan laptop kantor juga dapat menjadi salah satu faktor terjadinya kebocoran data. Jika perangkat kantor seperti hard drive dan laptop jatuh ke tangan orang yang salah, hal ini dapat meningkatkan terjadinya pembobolan data atau pencurian identitas yang mengarah ke data breach.
2. Malware (Malicious Software)
Malware adalah program yang dirancang untuk merusak dengan menyusup ke sistem komputer, salah satu jenis dari malware adalah spyware. Spyware merupakan software yang didesain untuk masuk ke dalam perangkat komputer, mengumpulkan data tentang Anda, dan mengirimnya kepada pihak ketiga tanpa persetujuan Anda. Spyware sangat ahli dalam bersembunyi, spyware bahkan dapat melekatkan dirinya ke sistem operasi Anda tanpa sepengetahuan atau persetujuan Anda. Jenis malware ini dapat menyebabkan terjadinya kebocoran data tanpa Anda sadari.
3. Sosial Engineering
Social engineering merupakan penggunaan manipulasi psikologis untuk mengumpulkan data sensitif seperti nama lengkap, username, password, dan sebagainya melalui media elektronik dengan menyamar sebagai pihak yang dapat dipercaya. Biasanya phishing memanfaatkan email untuk mengelabui korbannya. Email yang dikirimkan pelaku dapat berisi sesuatu yang mengatasnamakan pihak tertentu dan memancing korban untuk mengeklik tautan yang tercantum di dalamnya. Selain melalui email, pelaku juga dapat melakukannya melalui telepon, biasanya disebut juga dengan Vishing (Voice phishing). Penipu akan menelepon mengatasnamakan pihak tertentu untuk mendapat akses ke informasi keuangan pribadi Anda atau informasi lain untuk mencuri identitas Anda.
Menurut penjelasan dari ustadz Galih Driandanu, pencegahan kebocoran data ini harus melibatkan semua orang dari pengguna sampai staff IT, dan semua orang yang berkaitan di dalamnya. Semua orang yang berinteraksi ke dalam sistem memiliki potensi kerentanan yang sama dalam pencurian data pribadi. Beberapa cara untuk mencegah terjadinya kebocoran data antara lain :
1. Memusnahkan atau merusak hal hal yg memuat data diri kita sebelum membuangaya seperti FC KTP, KK, data diri di paket dsb.
2. Jangan asal mengklik/mendownload aplikasi di perangkat kita.
3. Jika ada pihak lain (RT/RW) yg menginginkan data kita terutama KTP dan KK ditanyakan dulu untuk keperluan apa.
4. Jika meminjam perangkat orang lain untuk keperluan mengakses medsos kita, pastikan semua medsos kita di log out dulu.
5. Jangan menyimpan password e banking/email/medsos di perangkat yg sama, jika terpaksa bisa disimpan di perangkat/hp kita yg lainya jangan hanya di satu perangkat saja.
6. Jika kita ingin menjual perangkat pc/hp kita, maka harus di formal atau hapus semua file-file yg kita suimpan di perangkat tersebut.
7. Jangan mudah percaya dg telp/sms/chat yg meminta data diri dan pasword yg kita miliki dg alasan apapun sebelum kita mengkonfirmasi berita tersebut kepada orang/instansi yg berkaitan.
8. Jangan membagikan informasi terkait data diri kita di medsos, apalagi untuk tujuan agar viral.
Sebagai penutup, Ustadz Galih Driandanu mengatakan bahwa kebocoran data (data leak) menjadi gerbang utama bagi peretas untuk melakukan pembobolan data (data breach) dan mencuri informasi sensitif dari korbannya. Harapan kedepannya agar diadakan regulasi yang jelas terkait perlindungan data pribadi di Indonesia juga merupakan salah satu bentuk pencegahan terjadinya kebocoran data di kemudian hari.
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara