MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, SEMARANG – Di tengah arus transformasi digital yang kian pesat, mahasiswa dituntut untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan juga sebagai arsitek peradaban digital. Hal ini menjadi sorotan utama dalam Pelatihan Public Speaking for Leadership yang diselenggarakan pada Ahad (25/05/25 ) di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), hasil kolaborasi antara Himpunan Da’i Muda Indonesia (HDMI) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Semarang.
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Kota Semarang, Hadi Santoso, S.T, M.Si., dalam paparannya menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai Laboratorium Peradaban. Ia memperkenalkan tiga konsep utama yang menjadi landasan bagi mahasiswa untuk berperan aktif dalam membangun peradaban digital: Balighu, Ud’u Ilasabili, dan Yad’u Ilakhoir.
Konsep Balighu mengajak mahasiswa untuk menyampaikan pesan kebaikan dengan cara yang bijak dan efektif. Dalam konteks public speaking, hal ini menekankan pentingnya komunikasi yang jelas, terstruktur, dan penuh empati, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh audiens.
Sementara itu, Ud’u Ilasabili mendorong mahasiswa untuk mengajak orang lain ke jalan yang benar melalui pendekatan yang santun dan penuh empati. Pendekatan ini menekankan pentingnya memahami audiens, membangun hubungan yang baik, dan menyampaikan pesan dengan cara yang sesuai dengan nilai-nilai dan budaya audiens.
Adapun Yad’u Ilakhoir menginspirasi mahasiswa untuk menjadi agen perubahan yang mengajak kepada kebaikan dalam setiap aspek kehidupan digital. Dalam konteks public speaking, hal ini menekankan pentingnya menyampaikan pesan yang membangun, memotivasi, dan menginspirasi audiens untuk melakukan tindakan positif.
Dengan penyampaian materi ini, Hadi Santoso berharap mahasiswa diharapkan mampu menjadi komunikator yang efektif, pemimpin yang inspiratif, dan agen perubahan yang membangun peradaban digital yang lebih baik. Ia juga menekankan pentingnya Pemilihan Medua yang tepat dalam menyebarluaskan perubahan sesuai dengan tren.

Kader IMM sebagai Pelopor Penggenggam PeradabanMU
Lebih lanjut, Hadi Santoso memperkenalkan enam tahapan strategis yang dapat diadopsi oleh mahasiswa untuk menjadi pelopor dalam membangun peradaban digital.
Tahapan pertama adalah membangun mindset peradaban, yaitu pola pikir yang visioner dan berorientasi pada kemajuan peradaban. Dengan mindset ini, mahasiswa dapat melihat tantangan sebagai peluang untuk berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih baik.
Tahapan kedua adalah memiliki konsep diri yang jelas melalui perencanaan hidup (life planning). Dengan memahami tujuan hidup dan merancang langkah-langkah untuk mencapainya, mahasiswa dapat menjalani kehidupan yang terarah dan bermakna.
Tahapan ketiga menekankan pentingnya Life Balance dengan menyusun aset-aset kehidupan yang mencakup aspek spiritual, intelektual, emosional, dan sosial. Keseimbangan ini akan membantu mahasiswa menjadi individu yang utuh dan mampu menghadapi dinamika kehidupan dengan bijak.
Tahapan keempat adalah mengembangkan metodologi akselerasi dalam belajar, yaitu kemampuan untuk mempercepat proses pembelajaran melalui pendekatan yang inovatif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dengan demikian, mahasiswa dapat terus meningkatkan kapasitas diri dan tetap relevan di era digital.
Tahapan kelima mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kepemimpinan sebagai influencer yang mampu mempengaruhi dan mengarahkan masyarakat ke arah yang lebih baik. Kepemimpinan ini tidak hanya berbicara tentang posisi formal, tetapi juga tentang kemampuan untuk memberikan inspirasi dan teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Tahapan terakhir adalah memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat melalui tindakan-tindakan konkret yang membawa perubahan positif. Kontribusi ini dapat berupa kegiatan sosial, inovasi teknologi, atau partisipasi dalam berbagai program pembangunan masyarakat.
Dengan memahami dan menerapkan tiga konsep utama serta enam tahapan strategis tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjadi komunikator yang efektif, pemimpin yang inspiratif, dan agen perubahan yang membangun peradaban digital yang lebih baik. Sebagai pelopor peradaban, mereka diharapkan mampu menghadirkan perubahan positif yang berkelanjutan bagi masyarakat dan bangsa.
Kontributor : Riki Aprianto
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara

