Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Pembukaan ideopolitor PWM Jawa Tengah


MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, SEMARANG – Pada hari Sabtu (24/06) sebanyak 4 perwakilan dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang menghadiri pembukaan ideopolitor (Ideologi, Politik, Organisasi) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah. Utusan dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang yang turut hadir dalam pembukaan ideopolitor PWM Jawa Tengah antara lain Wakil Ketua PDM Kota Semarang bidang MPM, Hukum & HAM, pengembangan UMKM, Dr. H. Amrudin Mahfud Jumai M.M., Wakil Ketua PDM Kota Semarang bidang Wakaf dan LPCR, Drs. H. Abdullah Muhajir, Wakil Ketua PDM Kota Semarang bidang MPKS dan LPPK, Dedi Achyadi S.T., serta Wakil Ketua PDM Kota Semarang bidang LSBO dan Pembinaan Ortom, Drs. H. Jumadi.


Dalam pembukaan ideopolitor tersebut mencakup pembahasan yang dihadapi oleh Muhammadiyah saat ini. Antara lain pemberdayaan dan penguatan pergerakan persyarikatan Muhammadiyah, terutama dalam hal penguatan Jama’ah, Jam’iyyah dan AUM. Pentingnya sinergisitas Muhammadiyah dalam ranah internal dan eksternal perlu diperkuat dengan kekuatan Ideologi, politik dan organisasi. Perlunya maping potensi Muhammadiyah dalam berbagai aspek. Arah politik muhammadiyah harus jelas dan terarah untuk kepentingan Dakwah amar ma’ruf nahi munkar, sehingga harus ada kearifan lokal. Menghidupkan kembali Pengajian Hari Ber Muhammadiyah sebagai bagian dari strategi penguatan basis gerakan. Melakukan pendekatan dakwah dengan kultur sangat strategis untuk membangkitkan jama’ah khususnya di Jawa, dengan tagline Jawa adalah Islam dan Islam adalah Jawa. dan yang paling penting adalah jangan cengeng menjadi pimpinan Muhammadiyah, apabila ragu dan takut di Muhammadiyah lebih baik keluar dan mundur dari pimpinan.


Ada beberapa catatan yang coba disimak dalam kegiatan tersebut, diantaranya sesi yang dibawakan oleh H. Abduh Hisyam S.Ag. sebagai narasumber. Didalam sesi H. Abduh Hisyam lebih menekankan pada penguatan ideologi muhammadiyah, dimulai dari memahami risalah kemajuan, kemudian juga menegaskan bahwa muhammadiyah tidak bermahdzab tetapi tidak menolak pemikiran mahdzab yang tidak bertentangan, dan ditutup dengan persyarikatan dengan AUM harus bergerak bersama agar kegiatan yang dilakukan lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.


Kemudian sesi berikutnya oleh Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy M.Ag sebagai narasumber. Didalam sesi Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy M.Ag lebih menekankan pada pemahaman khittah Muhammadiyah dari masa ke masa. Kemudian menafsir lokal tentang politik yang sangat mungkin di Muhammadiyah, dengan cara menjaga silaturahmi dengan seluruh partai politik, serta perubahan pendekatan politik Muhammadiyah dari menjaga jarak yang sama dengan partai politik berubah menjadi Menjaga Kedekatan yang sama dengan seluruh partai politik. Dilanjut dengan positioning dakwah yang perlu dilakukan dengan cara perlunya penjelasan apa bedanya Muhammadiyah dengan gerakan lainnya khususnya dengan salafi dan wahabi, serta fokus pembinaan cabang ranting dengan pemakmuran masjid masjid muhammadiyah; dalam hal ini piramida kekuatan Muhammadiyah perlu dibuat  mengerucut ke atas bukan kebawah.




Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara