Menatap Masa Depan AI: Strategi Muhammadiyah Hadapi Ancaman Krisis Moral Digital
YOGYAKARTA , muhammadiyahsemarangkota.org – Memasuki tahun 2026, wajah dunia berubah drastis akibat dominasi mesin. Ismail Fahmi menegaskan bahwa Masa Depan AI bukan sekadar soal teknologi, melainkan pertaruhan nilai kemanusiaan yang harus dikawal oleh Muhammadiyah. Hal ini menjadi sorotan utama dalam Pengajian Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Yogyakarta.
Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah tersebut menjelaskan bahwa peradaban manusia sedang menuju titik balik yang krusial. Ia membagi lini masa disrupsi ini ke dalam tiga fase besar. Fase pertama, yakni The Great Transition (2026–2029), menandai era di mana kecerdasan buatan mulai menyamai kemampuan kognitif manusia dalam berbagai bidang.
“Ini berarti hanya tinggal sekitar tiga tahun lagi. Dampaknya sangat besar. Ketika mesin sudah pintar, sebagian peran manusia akan mulai tergantikan, dan informasi yang benar maupun salah akan semakin sulit dibedakan,” jelas Ismail Fahmi dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah yang dikutip dari muhammadiyah.or.id (23/1/2026).
Menjaga Fitrah di Tengah Dominasi Superintelligence
Seiring berjalannya waktu, dunia akan memasuki tahap Superintelligence pada periode 2030 hingga 2035. Pada fase ini, kecerdasan mesin akan melesat hingga puluhan ribu kali lipat melampaui otak manusia. Kondisi tersebut membawa risiko besar, terutama munculnya fenomena Homo Deus atau manusia yang terintegrasi penuh dengan teknologi canggih.
Ismail Fahmi menyoroti pergeseran perilaku umat yang kini lebih mempercayai mesin daripada otoritas keagamaan tradisional. Beliau mengungkapkan kekhawatirannya terhadap tantangan dakwah masa kini yang semakin kompleks.
“Hari ini, jutaan orang bertanya soal Islam, bukan ke ustadz, tapi ke ChatGPT, Grok, Gemini, dan LLM lain,” ujar Ismail Fahmi dalam pemaparannya.
Oleh karena itu, Muhammadiyah perlu memperkuat aspek Literasi AI bagi seluruh warga persyarikatan. Beliau mengingatkan bahwa teknologi tanpa panduan etika hanya akan menjauhkan manusia dari fitrahnya. Muhammadiyah harus hadir sebagai “Jangkar Moral” agar kemajuan zaman tidak melunturkan nilai-nilai spiritualitas yang hakiki.
Strategi Jihad Data dan Transformasi Digital
Selanjutnya, Ismail Fahmi menekankan pentingnya langkah konkret melalui Transformasi Digital Muhammadiyah. Beliau melihat adanya urgensi untuk melakukan Jihad Data guna merespons dominasi algoritma global. Saat ini, sistem AI masih jarang menampilkan perspektif organisasi karena keterbatasan data yang terstruktur di dunia maya.
Kedaulatan data menjadi kunci utama agar dakwah Muhammadiyah tidak terpinggirkan oleh kepentingan platform asing. Beliau menegaskan bahwa data warga bukan sekadar angka, melainkan aset strategis untuk masa depan organisasi.
“Data ini adalah aset ekonomi baru (New Oil) untuk membiayai dakwah,” tegas Ismail Fahmi dalam sesi rekomendasi strategis.
Sebagai solusi, seluruh aset intelektual organisasi harus segera terdigitalisasi secara masif. Mulai dari hasil putusan Majelis Tarjih hingga materi khutbah, semuanya perlu masuk ke dalam ekosistem digital. Langkah strategis ini bertujuan agar prinsip Islam Berkemajuan di Era Digital menjadi referensi utama bagi kecerdasan buatan di masa depan.
Melalui upaya kolektif ini, Muhammadiyah optimis mampu menavigasi tantangan Masa Depan AI. Kita harus memastikan bahwa teknologi tetap berfungsi sebagai pelayan peradaban yang memuliakan manusia. Dengan demikian, dakwah Islam akan tetap relevan dan menyinari dunia yang kian mekanis dengan cahaya kebenaran yang abadi.
Baca juga :
Strategi Jurnalisme AI: Mengubah AI Menjadi Asisten Redaksi yang Super Cepat
Tantangan Umat Islam di Era Digital: Melawan Hoaks dengan Literasi