Sapa Lorong Gelap, Ketua PWM Jateng Jadi Tokoh Penggerak Dakwah Terbaik
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Dunia dakwah kembali memberikan apresiasi tinggi bagi pejuang yang tak kenal lelah merangkul semua lapisan masyarakat. Buktinya, Rakornas II Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PP Muhammadiyah 2026 resmi memberikan penghargaan bergengsi kepada sosok inspiratif asal Jawa Tengah. Dr. KH. Tafsir, M.Ag., yang menjabat sebagai Ketua PWM Jawa Tengah, terpilih menjadi Tokoh Penggerak Dakwah atas dedikasinya yang luar biasa.
Penghargaan Insan Dakwah ini merupakan bentuk atensi tinggi bagi mereka yang konsisten menyebarkan nilai-nilai Islam di tengah keberagaman. Pasalnya, narasumber kharismatik ini menilai bahwa dakwah bukan sekadar bicara di mimbar, melainkan aksi nyata menyentuh hati setiap orang. Oleh karena itu, momen penganugerahan ini menjadi bukti bahwa ketulusan dalam berdakwah akan selalu menemukan jalannya untuk diapresiasi.
Misi Menyapa Lorong Gelap Tanpa Batas
Selanjutnya, sosok pemimpin PWM Jateng ini mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas perhatian dari LDK PP Muhammadiyah.
Ternyata, alasan utama penghargaan ini berlabuh kepadanya adalah karena keberaniannya merangkul mereka yang berada di pinggiran.
Alhasil, pesan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin benar-benar terasa nyata bagi siapa pun, kapan pun, dan di mana pun mereka berada.
“Jangan pernah lelah untuk menyapa semua orang karena Islam adalah rahmatan lil alamin. Kita harus menyapa siapa pun dia, baik itu orang-orang yang berada di lorong gelap maupun di lorong terang,” tutur KH. Tafsir saat memberikan sambutan hangatnya.
Maka dari itu, langkah berani ini bertujuan memberikan pencerahan jalan hidup yang lebih baik di bawah naungan Allah SWT.
Tokoh ini ingin agar dakwah Muhammadiyah hadir sebagai solusi nyata bagi masyarakat yang selama ini mungkin luput dari perhatian.
Inspirasi Dakwah yang Tak Pernah Lelah
Selain itu, apresiasi ini membawa harapan besar bagi masa depan gerakan dakwah komunitas di Indonesia.
Dampaknya, KH. Tafsir berharap prestasi ini mampu memantik semangat para pejuang dakwah lain untuk terus bergerak tanpa rasa jemu.
Sebab, setiap aktivitas pencerahan merupakan bagian dari tanggung jawab moral untuk membimbing umat menuju kebaikan yang hakiki.
Ternyata, ketulusan narasumber dalam menyapa setiap orang tanpa melihat latar belakang menjadi kunci suksesnya dakwah yang inklusif.
Akhirnya, penghargaan ini bukan sekadar pajangan, melainkan pengingat bahwa jalan dakwah adalah jalan panjang yang memerlukan stamina spiritual tinggi.
Mari, kita ambil pelajaran dari semangat sang penggerak ini agar Islam terus menjadi cahaya yang menyejukkan bagi seisi alam semesta.
Baca Juga :
Cahaya di Lorong Gelap: Apresiasi Pejuang Dakwah Komunitas 2026