Melampaui Ceramah, Strategi Baru Muhammadiyah Hidupkan Suasana Ramadan
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Masjid-masjid di Kota Semarang mulai bersolek menyambut datangnya bulan suci yang tinggal menghitung hari. Buktinya, Ketua LDK PW Muhammadiyah Jawa Tengah, Dr. H. AM Juma’i, SE. MM, menekankan pentingnya persiapan Ramadan 2026 yang lebih dari sekadar fisik. Narasi segar ini ia sampaikan saat memberikan suntikan semangat melalui kultum di Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang (3/2/2026).
Pria yang juga pakar ekonomi ini mengingatkan bahwa masjid tidak boleh hanya pasif menunggu datangnya tamu agung tersebut. Pasalnya, kesuksesan ibadah umat sangat bergantung pada kualitas pesan yang mereka terima dari atas mimbar. Oleh karena itu, penyiapan sumber daya manusia menjadi faktor penentu agar suasana bulan puasa nanti benar-benar membawa perubahan batin.
Kebutuhan pendakwah di Semarang ternyata sangat membludak, mulai dari pengisi kultum Subuh hingga imam tarawih. Ternyata, jumlah tenaga ahli yang kita butuhkan bisa mencapai ratusan orang untuk melayani ribuan jamaah setiap harinya. Dampaknya, Muhammadiyah bergerak cepat memastikan ketersediaan mubaligh agar setiap masjid memiliki cahaya penuntun yang berkualitas.
Mencetak Dai Muda Lewat Sekolah Tabligh
Selanjutnya, organisasi ini menawarkan solusi strategis melalui program unggulan bernama Sekolah Tabligh. Tujuannya, agar lahir generasi dai yang tidak hanya pintar bicara, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Tokoh inspiratif ini memandang bahwa penceramah masa kini wajib memiliki akhlak mulia sebagai cerminan dari pesan yang mereka bawa.
Sosok pimpinan LDK ini memberikan penekanan tentang gaya komunikasi yang efektif bagi jamaah milenial maupun orang tua.
“Seorang dai tidak cukup hanya berbicara tentang kebenaran, tetapi juga harus mampu mengambil hati jamaah dengan pendekatan yang baik,” ujar AM Juma’i saat memberikan arahan.
Maka dari itu, kurikulum Sekolah Tabligh dirancang agar para lulusannya mampu menyampaikan Islam dengan cara yang menggembirakan. Alhasil, setiap materi dakwah yang tersampaikan akan jauh dari kesan menghakimi apalagi bersikap keras kepada umat.
Dakwah Mencerahkan yang Menyentuh Hati
Menariknya, dakwah Muhammadiyah memiliki identitas unik yang sangat mementingkan sisi humanis. Buktinya, prinsip mencerahkan dan menyentuh hati menjadi nyawa dalam setiap gerakan dakwah yang mereka lakukan. Sang penggerak komunitas ini mengajak seluruh pengurus masjid untuk menghadirkan ceramah yang menyejukkan batin jamaah.
Tokoh publik ini kembali menegaskan filosofi dakwah yang penuh kasih sayang di hadapan para jamaah shalat Dzuhur.
“Dakwah harus hadir sebagai cahaya yang menuntun, dengan pendekatan yang penuh hikmah dan kasih sayang kepada kondisi umat,” tambah sosok pakar manajemen tersebut.
Adanya, kesiapan spiritual dan organisatoris ini diharapkan mampu menciptakan atmosfer Ramadan yang penuh keberkahan. Sejatinya, masjid yang hidup adalah masjid yang mampu menjadi pelindung sekaligus tempat belajar yang nyaman bagi siapa pun. Mari kita sambut bulan penuh ampunan ini dengan hati yang cerah dan persiapan yang paling matang.