Menjelang bulan Ramadan, makam-makam di tanah Jawa selalu penuh oleh peziarah. Mereka menjalankan tradisi nyadran di Jawa sebagai momentum perekat silaturahmi. Namun, masyarakat kini mulai mencari panduan tata cara nyadran sesuai syariat agar ibadahnya diterima.
Sejarah Tradisi Nyadran di Jawa
Secara historis, banyak literatur menyebut nyadran berakar dari tradisi Hindu, Sraddha. Kata nyadran diyakini merupakan serapan dari istilah tersebut.
Awalnya, Sraddha adalah ritual penghormatan kepada roh raja. Lama-kelamaan, ritual ini menjadi tradisi massa untuk menghormati roh leluhur.
Ketika Islam masuk, Walisongo melakukan akulturasi budaya. Mereka mengubah sraddha menjadi nyadran.
Strategi dakwah ini ibarat “mengganti isi botol”. Wadah budayanya tetap, namun isinya diganti nilai keislaman. Oleh sebab itu, kita perlu memahami hukum sadranan menurut Islam secara mendalam.
Hukum Sadranan Menurut Islam
Sayangnya, tantangan pemurnian sering kali belum tuntas. Masyarakat awam masih sering melakukan residu keyakinan lama. Mereka tidak hanya mendoakan roh, tetapi juga meminta berkah kepadanya. Padahal, Islam mengajarkan penghormatan orang tua dengan cara mendoakan ampunan.
Secara sosiologis, nyadran biasanya berlangsung pada bulan Syakban atau Ruwah. Acara ini telah bertransformasi menjadi ritual haul jamak. Nilai positifnya terlihat dari makan bersama dan berbagi makanan (berkat). Aktivitas ini secara spontan meningkatkan solidaritas sosial.
7 Tata Cara Nyadran Sesuai Syariat
Namun, Islamisasi Nyadran harus terus berjalan. Kita perlu menerapkan tata cara nyadran sesuai syariat yang bebas syirik. Berikut adalah panduan dan doa nyadran yang benar untuk kita amalkan.
Pertama, luruskan orientasi doa. Ubahlah orientasi dari menghormati roh menjadi mendoakan Nabi Muhammad SAW melalui shalawat. Inti shalawat adalah doa yang kembali kepada pembacanya. Nabi bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
(Siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali – HR Bukhari: 577, Muslim: 616).
Kedua, bacalah doa ampunan (maghfirah). Fokuskan acara untuk memohon ampunan Allah bagi leluhur, orang tua, dan kerabat. Selanjutnya, tutuplah dengan doa sapu jagat untuk seluruh umat Islam:
Rabbanaghfir lanâ wali ikhwâninallaẕîna sabaqûna bil îmân. walâ taj’al fi qulûbinâ ghillallilaẕîna âmanû rabbanâ innaka ghafûruraḩîm.
Ketiga, perhatikan adab berzikir. Utamakan zikir yang khusyuk dan tidak berlebihan. Allah memerintahkan zikir dalam hati (sirr) sesuai QS Al-A’raf ayat 205.
Keempat, pilihlah lokasi yang tepat. Tradisi berkumpul boleh Anda pertahankan. Namun, hindari makan-makan atau duduk santai tepat di atas area kuburan. Hal ini sesuai dengan larangan Rasulullah (HR Muslim: 970). Sebaiknya, gunakanlah serambi masjid atau halaman luas.
Kelima, isi acara dengan ceramah pencerahan. Tausiyah singkat maksimal 15 menit sudah cukup. Pastikan materi ceramah relevan, menggembirakan, dan menjawab isu sosial terkini.
Keenam, rawatlah kohesi sosial. Kita wajib mempertahankan tradisi makan bersama (kendurenan atau bancaan). Kegiatan ini merupakan wujud sedekah nyata untuk mengakrabkan warga.
Ketujuh, bagikan berkat kepada jamaah. Makanan yang dibawa pulang adalah sedekah. Manfaatnya akan meluas hingga ke keluarga di rumah.
Kesimpulan
Ketujuh poin di atas merupakan jalan tengah terbaik. Jika menjalankannya, kita telah mempraktikkan tata cara nyadran sesuai syariat.
Dengan demikian, kita tetap mengapresiasi kearifan lokal tanpa mengorbankan akidah.
Wallâhu a’lamu bishawâb.
Baca juga:
Makna Tradisi Ruwahan: Beda Cara, Satu Tujuan Mulia
Merawat Warisan Luhur: Tradisi Ruwahan Jelang Ramadan dan Simbol Persatuan Umat
Jelang Ramadhan, Pahami Hukum Nisfu Syaban Menurut Tarjih Muhammadiyah