Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Membaca Al-Qur’an: Cara Terbaik Berbicara dengan Allah Saat Rindu

6 Februari 2026, 18:48 WIB • 2 menit baca
Ilustrasi seorang pria sedang Membaca Al-Qur'an di bawah langit berbintang dengan kaligrafi Allah, menggambarkan ketenangan hati dan cara berbicara dengan Allah.
Membaca Al-Qur'an menjadi jembatan spiritual untuk meraih ketenangan hati dan menjemput hidayah Allah di tengah hiruk-pikuk dunia.

SEMARANG UTARA, muhammadiyahsemarangkota.org – Saat jiwa terasa hampa, Membaca Al-Qur’an menjadi cara paling intim untuk merasakan cara berbicara dengan Allah secara personal demi meraih ketenangan hati.

Suasana syahdu ini terasa sangat kental di Gedung SMP Muhammadiyah 5 Semarang, Selasa (03/02/26) malam. Puluhan jamaah Pengajian Muhammadiyah Ranting Bulu Lor tampak larut dalam tausiyah penuh makna dari Ustadz KH. Drs. Gunarto Muchsin.

Ia membedah rahasia di balik QS Az-Zumar ayat 23–29 yang menjelaskan betapa indahnya firman Sang Pencipta. Ustadz Gunarto menekankan bahwa aktivitas spiritual ini mampu memberikan dampak luar biasa bagi kesehatan mental manusia.

Menemukan Ketenangan Hati Melalui Dialog Langit

“Kalau kita rindu ingin berbincang dengan Allah, maka dekap dan bacalah firman-Nya,” ungkap Ustadz Gunarto dengan suara yang menggetarkan suasana. Beliau mengajak jamaah untuk menjadikan aktivitas tilawah sebagai momen komunikasi dua arah.

Menurutnya, tetesan air mata saat tilawah adalah tanda bahwa pesan langit telah menyentuh relung hati terdalam. Isak tangis tersebut menjadi bukti nyata adanya dialog batin yang jujur antara hamba dan Khalik.

Selain itu, beliau menjelaskan bahwa manfaat tilawah Al-Qur’an merambah hingga ke aspek fisik. Seseorang yang menghayati setiap ayat sering kali merasakan kulit yang merinding dan jiwa yang seketika melunak.

Fenomena fisik tersebut merupakan indikasi kuat bahwa cahaya hidayah Allah sedang bekerja menyapa hamba-Nya. Hidayah ini memberikan rasa damai yang tidak bisa kita tukar dengan materi apa pun di dunia.

Menjaga Hidayah dengan Pola Asuh Anak Islami

Ustadz Gunarto mengingatkan bahwa hidayah bukanlah sesuatu yang datang secara pasif. Kita harus menjemput dan merawatnya melalui lingkungan yang baik serta konsistensi dalam beribadah.

Transisi dari perbaikan diri ini juga harus menyentuh ranah keluarga melalui pola asuh anak islami. Beliau menegaskan bahwa orang tua memegang peran sebagai pendidik pertama bagi buah hati mereka.

“Jangan serahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah semata,” tegas beliau di hadapan jamaah. Rumah harus bertransformasi menjadi madrasah awal agar anak-anak tumbuh mencintai wahyu-Nya sejak dini.

Pada akhir sesi, pengajian ini menjadi momen muhasabah kolektif yang mengharukan bagi para hadirin. Al-Qur’an terbukti menjadi kompas kehidupan yang tidak akan pernah usang ditelan zaman.

Menutup tausiyahnya, beliau berpesan agar umat selalu menjadikan Membaca Al-Qur’an sebagai kebutuhan harian. Inilah jalan pulang paling menenangkan untuk menemukan kembali jati diri di tengah hiruk-pikuk dunia.

Baca juga :

Gunakan Metode Belajar Cepat, Masjid At-Taqwa Berantas Buta Huruf Al-Qur’an

Strategi Belajar Al Quran Lansia di Semarang: Khatam 4 Kali Setahun Lewat Metode 2T

Kontributor: MPI PCM Semarang Utara
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: