Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Hati-hati Cuma Dapat Lapar! Bongkar Rahasia Penentu Kualitas Ramadhan

6 Februari 2026, 21:43 WIB 3 menit baca
"Ilustrasi digital suasana pengajian di malam hari dengan latar belakang masjid berkubah besar yang bercahaya di kejauhan. Di latar depan, empat orang pria mengenakan peci putih duduk bersila di atas karpet merah bermotif. Dua orang pria duduk di depan sebuah bangunan kecil berbentuk gerbang dengan lampu kuning hangat di dalamnya, sedang melakukan diskusi atau ceramah. Suasana terasa tenang, spiritual, dan khidmat di bawah langit malam."
Ruh dalam beribadah: Ustadz Muh. Rifai menekankan pentingnya menyatukan pilar Islam, Iman, dan Ihsan agar Ramadan 2026 tidak terjebak dalam rutinitas hampa. Dalam kajian di Masjid At-Taqwa Indraprastha (06/02/2026), beliau mengingatkan bahwa Ihsan adalah tingkatan tertinggi di mana seseorang beribadah seakan-akan melihat Allah secara langsung

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Jamaah Masjid At-Taqwa Indraprastha mendadak serius saat mendengarkan rahasia mendalam tentang persiapan iman jelang Ramadhan, Jumat (6/2/2026). Buktinya, Ustadz Muh. Rifai memberikan peringatan keras agar umat tidak terjebak dalam rutinitas puasa yang hampa. Sosok guru Al-Islam ini menekankan pentingnya membangun fondasi batin yang kokoh sebelum memasuki bulan suci.

Pakar pendidikan dari SMK Muh 1 Semarang tersebut menegaskan bahwa Islam, Iman, dan Ihsan merupakan tiga pilar yang wajib menyatu. Pasalnya, pengabaian salah satu pilar ini hanya akan mengubah ibadah menjadi gerakan lahiriah tanpa makna spiritual. Alhasil, setiap jamaah kini mulai menata ulang niat mereka agar puasa tahun ini memberikan dampak perubahan yang nyata.

Islam dan Iman Sebagai Akar Kehidupan

Selanjutnya, pendakwah enerjik tersebut menjelaskan bahwa Al-Islam merupakan wujud kepatuhan lahiriah hamba melalui pelaksanaan syariat yang benar. Buktinya, ketaatan ini harus berjalan beriringan dengan Al-Iman atau keyakinan kuat yang tertanam jauh di dalam lubuk hati. Sosok guru Al-Islam ini memandang bahwa keimanan wajib diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar ucapan lisan semata.

Guru inspiratif ini mengajak jamaah untuk terus memelihara semangat beragama setiap harinya.

“Keimanan harus terus kita pelihara dan perkuat melalui perbuatan nyata, bukan hanya sebatas kata-kata di lisan saja,” tegas Muh. Rifai di hadapan para jamaah.

Tujuannya, agar setiap muslim memiliki daya tahan mental yang kuat saat menghadapi berbagai ujian kehidupan sebelum datangnya bulan puasa. Ternyata, fondasi iman yang stabil menjadi kunci utama seseorang bisa menjalankan rukun Islam dengan penuh keikhlasan.

Ihsan: Level Tertinggi dalam Beribadah

Menariknya, Muh. Rifai menyoroti pilar Al-Ihsan sebagai tingkatan paling tinggi yang harus dicapai oleh setiap mukmin. Buktinya, Ihsan menuntut seseorang untuk beribadah seakan-akan melihat Allah secara langsung di setiap aktivitasnya. Jika tidak mampu, maka seseorang wajib meyakini bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik hamba-Nya dengan sangat detail.

Pakar Al-Islam ini mengingatkan bahwa nilai ihsan inilah yang seharusnya menjadi ruh dalam setiap amal perbuatan.

“Ihsan adalah saat kita beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya. Jika tidak mampu, maka yakinlah bahwa Dia selalu melihat kita,” tambahnya dengan nada penuh makna.

Dampaknya, setiap orang akan bekerja lebih jujur, belajar lebih sungguh-sungguh, dan berbuat baik kepada sesama dengan lebih tulus. Ternyata, konsep ihsan ini merupakan cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta secara emosional dan spiritual.

Ramadhan Sebagai Momentum Perubahan Diri

Kemudian, bulan penuh ampunan mendatang wajib menjadi ajang peningkatan kualitas diri melalui berbagai macam ibadah. Buktinya, Muh. Rifai mengajak jamaah untuk tidak hanya fokus pada shalat dan puasa, tetapi juga pada aksi sosial seperti zakat dan sedekah. Oleh karena itu, sinergi antara ibadah mahdhah dan sosial menjadi indikator keberhasilan seseorang dalam memaknai bulan suci.

Akhirnya, pemahaman utuh mengenai tiga pilar agama ini diharapkan mampu mengubah perilaku umat menjadi lebih berintegritas. Sejatinya, Ramadhan bukanlah sekadar tradisi tahunan, melainkan sarana utama untuk meningkatkan derajat ketakwaan di sisi Tuhan. Mari jadikan waktu yang tersisa sebagai kesempatan emas untuk melakukan perbaikan diri demi meraih keberkahan yang hakiki.

Kontributor: im Media Masjid At Taqwa Indraprastha
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: