Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Waspada ‘Lapar Mata’ Hari Pertama Puasa: Jaga Pahala dan Dompet

18 Februari 2026, 15:55 WIB 3 menit baca
Foto dari sudut pandang atas (top-down) yang menunjukkan sebuah piring keramik berwarna abu-abu muda di atas permukaan semen yang bertekstur kasar. Di atas piring tersebut terdapat sebuah jam weker kecil berwarna biru pastel yang jarumnya menunjukkan hampir pukul dua belas. Di samping kanan piring, terletak sebuah garpu dan pisau makan dengan gagang berwarna krem yang disusun rapi. Komposisi ini melambangkan penahanan diri dan manajemen waktu selama ibadah puasa
Simbol ketaatan hati: Sebuah piring kosong dengan jam weker melambangkan esensi hari pertama puasa Ramadan 1447 H sebagai momentum pengendalian diri yang total (18/02/2026). Sejalan dengan pesan Ustadz Mirza, puasa bukan sekadar menahan lapar secara fisik, melainkan ujian untuk menundukkan hawa nafsu dan mengatur waktu serta sikap bijak dalam mengelola nikmat Allah

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Umat Islam hari ini resmi mengawali perjuangan spiritual pada hari pertama puasa Ramadan 1447 Hijriah, Kamis (18/2/2026). Buktinya, suasana Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang tampak syahdu saat para jamaah berkumpul mendengarkan tausiyah dzuhur yang sangat inspiratif. Pengumuman ini menjadi penanda bahwa madrasah kehidupan selama sebulan penuh telah resmi kita mulai.

Momen perdana ini menuntut setiap individu untuk saling menjaga kualitas ibadah agar tidak sekadar menahan haus dan lapar. Alhasil, setiap hamba Allah memiliki kesempatan emas untuk meningkatkan derajat ketakwaan melalui pengendalian diri yang total. Pasalnya, hari pertama sering kali menjadi ujian terberat dalam beradaptasi dengan rutinitas ibadah yang baru.

Menahan Diri: Antara Ketaatan Hati dan Godaan Fisik

Selanjutnya, Ustadz Mirza dalam tausiyahnya menekankan bahwa esensi puasa adalah menundukkan segala bentuk hawa nafsu yang biasa kita lakukan. Buktinya, perintah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 secara tegas mengarahkan setiap mukmin untuk mencapai derajat takwa yang sesungguhnya. Sosok pengisi kultum ini mengajak jamaah untuk menjaga lisan serta menghindari perbuatan sia-sia yang bisa merusak pahala.

Ustadz Mirza mengingatkan bahwa ketaatan seorang hamba terlihat dari sejauh mana ia mampu mengendalikan tindakannya karena Allah SWT.

“Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan segala sesuatu yang dapat membatalkan atau mengurangi pahala,” tegas Mirza di hadapan jamaah.

Tujuannya, agar puasa hari ini tidak hanya bernilai secara fisik, melainkan juga memberikan dampak besar pada pengendalian akhlak dan perilaku sehari-hari. Ternyata, menjaga kesucian hati dari perkataan dusta jauh lebih mulia daripada sekadar membiarkan perut kosong hingga waktu maghrib tiba.

Waspada Dompet Kebobolan di Musim Berbuka

Kemudian, sorotan beralih pada fenomena unik yang sering kali menghantui masyarakat muslim saat memasuki bulan suci, yakni lonjakan pengeluaran. Pasalnya, meskipun frekuensi makan berkurang, realitanya banyak orang justru terjebak dalam perilaku konsumtif yang berlebihan. Ustadz Mirza menyentil kebiasaan membeli makanan secara berlebihan saat berbuka serta godaan diskon besar-besaran di berbagai swalayan.

Penceramah ini memberikan nasihat agar semangat Ramadan tidak berubah menjadi ajang pamer atau gaya hidup mewah yang merugikan keuangan.

“Jangan sampai semangat Ramadan yang seharusnya menjadi momentum pengendalian diri justru berubah menjadi ajang konsumtif yang berlebihan,” tutur Mirza memberikan peringatan.

Dampaknya, sikap bijak dalam mengatur keuangan menjadi bagian penting dari latihan kesabaran dan empati kepada sesama yang membutuhkan. Oleh karena itu, puasa seharusnya mengajarkan kita kesederhanaan, bukan justru memicu nafsu belanja yang tidak terkendali.

Menjadikan Ramadan sebagai Madrasah Kehidupan yang Nyata

Terakhir, hari pertama ini harus menjadi titik tolak untuk saling mengingatkan dalam kebaikan melalui suasana masjid yang ramai dengan amal saleh. Buktinya, kehadiran kultum dan shalat tarawih menjadi waktu terbaik untuk memperdalam ilmu agama secara berjamaah. Maka dari itu, sinergi antara ibadah spiritual dan kebijaksanaan mengelola nikmat Allah akan menciptakan pribadi yang lebih tangguh.

Ustadz Mirza berharap seluruh jamaah mampu menjadikan Ramadan tahun ini sebagai ruang untuk melatih keikhlasan dan kepedulian sosial.

“Puasa adalah ibadah total yang melatih kesabaran, keikhlasan, kepedulian sosial, serta kebijaksanaan dalam mengelola nikmat Allah,” pungkas Mirza menutup tausiyahnya.

Karena keputusan untuk berubah menjadi lebih baik harus kita mulai sejak detik pertama puasa tahun ini. Sejatinya, kemenangan sejati adalah milik mereka yang mampu menata hati dan mengontrol egonya dari urusan duniawi yang fana. Mari kita jalani hari pertama ini dengan hati yang lapang dan tekad bulat untuk meraih derajat takwa yang paripurna!

Baca Juga :

Tarawih Perdana Masjid At Taqwa PDM Semarang: Menjemput Pahala di Awal Puasa Ramadan 2026

Kontributor: Tim Media Halim Junior
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: