Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Lebih dari Penahan Lapar! Puasa Sebagai Motor Kebangkitan Ekonomi dan Ilmu

24 Februari 2026, 14:59 WIB 2 menit baca
Ilustrasi miniatur figur pekerja konstruksi yang sedang beraktivitas di atas dan di sekitar gulungan besar uang kertas seratus dollar Amerika Serikat, menggunakan tangga dan peralatan pertukangan.
Visualisasi upaya sistematis dalam membangun kekuatan ekonomi umat sebagai bagian dari menjaga martabat dan harga diri muslim, sejalan dengan misi pemberdayaan ekonomi Lazismu untuk mengentaskan kemiskinan di akar rumput.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org – Jeda sholat dzuhur di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang terasa sangat berbeda pada Selasa (24/2/2026). Buktinya, narasi segar mengenai puasa sebagai mesin penggerak peradaban mengalir deras di tengah kekhusyukan jamaah. Alhasil, setiap pribadi yang hadir mulai menyadari bahwa ibadah menahan lapar memiliki dimensi luas melebihi ritual tahunan.

Kesadaran baru muncul saat Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M. membedah puasa sebagai titik balik untuk memperkuat ketahanan diri secara utuh. Pasalnya, kualitas spiritual seorang muslim tidak bisa dipisahkan dari kondisi kesejahteraan dan tingkat pemahaman intelektualnya sehari-hari. Sosok pakar ekonomi Islam ini menekankan bahwa keberhasilan Ramadan harus diukur dari seberapa besar perubahan nyata yang terjadi pada kemandirian umat.

Ekonomi dan Ilmu: Benteng Utama Penjaga Kemurnian Tauhid

Selanjutnya, penceramah ini mengulas pandangan ulama besar Ibnu Athaillah mengenai kaitan perut lapar dan keteguhan jiwa. Buktinya, kondisi ekonomi yang lemah serta minimnya ilmu pengetahuan berpotensi menggoyahkan ketauhidan seseorang. Tokoh inspiratif ini menegaskan bahwa membangun kekuatan ekonomi merupakan bagian penting dalam menjaga martabat seorang muslim.

Umat yang berilmu mampu menyaring informasi sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh kepentingan yang menyesatkan.

“Puasa bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga momentum kebangkitan umat dari keterpurukan ekonomi dan minimnya ilmu,” tegas AM Jumai di hadapan jamaah.

Dampaknya, jamaah memahami bahwa penguasaan ilmu pengetahuan menjadi cahaya penerang jalan kehidupan sekaligus benteng pertahanan iman. Ternyata, kemiskinan dan kebodohan menjadi musuh nyata yang harus umat perangi demi mencapai kemurnian tauhid yang sesungguhnya.

Misi Lazismu: Menuntaskan Kemiskinan Bukan Sekadar Berbagi

Kemudian, ulasan berlanjut pada peran strategis Lazismu sebagai lembaga amil zakat yang memiliki misi besar mengubah nasib umat secara sistematis. Buktinya, lembaga ini tidak hanya bergerak untuk menghimpun dana, tetapi fokus pada program pemberdayaan ekonomi yang mampu menciptakan kemandirian jangka panjang. Pria yang akrab disapa Ustadz Jumai ini mengingatkan bahwa tugas utama lembaga sosial adalah mengurangi angka kemiskinan di akar rumput.

Kepekaan sosial yang lahir dari rasa lapar saat berpuasa seharusnya menjelma menjadi gerakan nyata untuk membantu kaum dhuafa bangkit.

“Lazismu hadir bukan untuk menambah jumlah orang miskin, tetapi untuk mengurangi dan mengentaskan kemiskinan melalui kerja nyata,” tegas penceramah tersebut.

Momen Ramadhan ini menjadi sekolah terbaik bagi setiap pribadi muslim untuk melatih kedisiplinan, kejujuran, dan empati sosial yang tinggi. Sejatinya, kebangkitan umat hanya bisa terwujud melalui kolaborasi kolektif yang menyentuh aspek spiritual, intelektual, dan finansial secara seimbang. Mari kita jadikan setiap sujud dan lapar kita sebagai energi untuk membangun masyarakat yang jauh lebih berkemajuan dan berkeadilan!

Kontributor: Tim Media Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: