Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Inilah Alasan Mengapa Hidup Tanpa ‘Rem’ Bisa Hancur Sebelum Ramadhan Usai

27 Februari 2026, 16:01 WIB 3 menit baca
Foto estetik yang memperlihatkan siluet satu orang pria berdiri tegak dan diam di tengah kerumunan banyak orang yang bergerak cepat (motion blur) di sebuah ruang publik terbuka pada malam hari. Pencahayaan berasal dari lampu-lampu kota yang menciptakan kontras antara ketenangan subjek utama dan kegaduhan sekitarnya.
SISTEM PENGAMAN JIWA: Sebagaimana khutbah Ustadz Drs. H. Thohir Luthfi Mufrodhi, M.M. di Masjid At-Taqwa (27/2), puasa berfungsi sebagai "rem" otomatis yang memungkinkan seorang muslim tetap tenang dan terkendali di tengah derasnya arus hawa nafsu duniawi. Keberhasilan ibadah ini terlihat saat seseorang mampu menahan diri meski berada dalam hiruk pikuk tanpa pengawasan orang lain.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Membayangkan sebuah kendaraan melaju kencang tanpa fungsi rem tentu menjadi mimpi buruk bagi setiap pengendaranya. Buktinya, analogi kuat ini mewarnai khutbah Jumat di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang pada Jumat (27/2/2026). Alhasil, jamaah yang hadir mendapatkan perspektif baru bahwa puasa sejatinya berfungsi sebagai sistem pengaman paling canggih untuk menyelamatkan hidup manusia.

Pesan mendalam ini mengalir langsung dari mimbar saat Ustadz Drs. H. Thohir Luthfi Mufrodhi, M.M. mengajak umat menyambut bulan suci dengan persiapan total. Pasalnya, Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan yang datang dan pergi tanpa bekas pada karakter seseorang. Sosok penceramah ini menekankan bahwa setiap detik di bulan suci merupakan investasi besar untuk keselamatan dunia maupun akhirat.

Ibadah Privat dan Rahasia Memperbaiki Rem Kehidupan

Selanjutnya, penceramah ini mengulas sisi unik puasa sebagai ibadah yang sangat personal dan privat antara hamba dengan Sang Pencipta. Buktinya, hanya Allah yang mengetahui kebenaran puasa seseorang karena amal ini tersembunyi dari pandangan orang lain secara lahiriah. Tokoh senior ini menjelaskan bahwa puasa melatih manusia untuk jujur pada diri sendiri dan Tuhan melalui pengendalian hawa nafsu.

Thohir Luthfi menyamakan hawa nafsu yang tidak terkendali dengan kendaraan rusak yang siap mencelakai pemiliknya kapan saja.

“Puasa itu ibarat rem pada sepeda motor, jika ia berfungsi dengan baik maka kita akan sampai ke tujuan dengan selamat,” tutur penceramah tersebut.

Dampaknya, umat yang menjalani latihan satu bulan penuh ini akan memiliki “rem” yang berfungsi otomatis dalam kehidupan sehari-hari. Ternyata, keberhasilan puasa terlihat saat seseorang mampu menahan diri dari amarah dan perbuatan buruk meski sedang tidak diawasi orang lain.

Keikhlasan dan Target Utama Menjadi Pribadi Bertakwa

Kemudian, ulasan berlanjut pada urgensi menjaga keikhlasan agar setiap lelah saat berpuasa tidak terbuang sia-sia tanpa pahala. Buktinya, amal sebesar apa pun akan kehilangan nilainya di mata Allah jika niat di dalam hati tidak benar-benar tulus. Pria yang aktif di Muhammadiyah ini mengajak jamaah untuk memurnikan ketaatan demi mengejar ampunan dan pembebasan dari api neraka.

Target akhir dari seluruh rangkaian lapar dan haus ini adalah terbentuknya pribadi muslim yang memiliki derajat takwa secara utuh.

“Ramadhan adalah momentum Allah untuk mendekatkan hamba-Nya melalui limpahan rahmat dan ampunan yang luas,” tegas Thohir Luthfi.

Ramadhan 2026 harus menjadi titik balik bagi setiap individu untuk memasang “rem hawa nafsu” yang lebih kuat dan presisi. Sejatinya, kemenangan hakiki bukan terletak pada kemeriahan masjid, melainkan pada sejauh mana akhlak kita berubah menjadi lebih baik. Mari kita siapkan iman dan ilmu terbaik untuk menjemput keselamatan sejati yang Allah janjikan di bulan penuh berkah ini!

Baca Juga :

Perisai Jiwa: Rahasia Tersembunyi di Balik Lapar Ramadan yang Jarang Disadari

Rahasia Amalan Malam Ramadan Agar Tidak ‘Melempem’ di Tengah Jalan

Kontributor: Tim Media Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: