Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Narkoba Sasar Keluarga Miskin! Gerakan Kolektif Ormas Semarang Amankan Anak Negeri

27 Februari 2026, 16:31 WIB 3 menit baca
Foto suasana dialog publik di dalam sebuah aula hotel dengan pencahayaan hangat. Tampak dari arah belakang, puluhan peserta mengenakan kemeja dan pakaian batik duduk di kursi-kursi yang mengelilingi meja bundar dengan taplak motif cokelat. Di depan, terdapat panggung dengan spanduk besar bertuliskan "Dialog Anggota DPD RI Dr. H. MUHDI, SH., M.Hum. bersama Komunitas dan Ormas Semarang".
GERAKAN KOLEKTIF: Anggota DPD RI, Dr. H. Muhdi, SH., M.Hum., saat memimpin dialog publik bersama Forum Komunikasi Ormas Semarang Bersatu (FKSB) di Wisma UPGRIS, Kamis (26/2/2026). Pertemuan strategis ini fokus pada transformasi langkah pencegahan narkoba melalui peran ormas sebagai perisai utama pelindung generasi muda.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Fakta mengejutkan mengenai kondisi keamanan Ibu Kota Jawa Tengah mendadak menjadi sorotan utama dalam sebuah diskusi hangat di Wisma UPGRIS. Buktinya, data menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen penghuni lembaga pemasyarakatan terjerat kasus penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Alhasil, Anggota DPD RI Dr. H. Muhdi, SH., M.Hum. bersama Forum Komunikasi Ormas Semarang Bersatu (FKSB) sepakat melakukan gerakan penyelamatan massal pada Kamis (26/2/2026).

Kegiatan dialog publik yang berlanjut dengan buka puasa bersama ini menjadi magnet bagi seluruh elemen organisasi masyarakat se-Kota Semarang. Pasalnya, status Semarang yang kini menjadi “hub” atau titik rawan peredaran narkoba nomor satu di Jawa Tengah menuntut tindakan nyata. Transformasi dari sekadar penindakan hukum menuju langkah pencegahan masif kini menjadi agenda yang tidak bisa ditunda lagi.

Gagalnya Penegakan Hukum dan Urgensi Gerakan Nasional

Selanjutnya, Dr. Muhdi menyoroti bahwa implementasi regulasi narkotika saat ini masih jauh dari harapan dan belum efektif menekan angka kriminalitas. Buktinya, aparat hukum cenderung lebih fokus pada aspek penindakan sehingga penjara menjadi terlalu penuh beban. Sosok legislator ini mengajak semua pihak untuk mengalihkan fokus pada rehabilitasi dan pencegahan sejak dini di lingkungan masyarakat.

Muhdi menegaskan bahwa keterlibatan sekolah hingga organisasi keagamaan menjadi kunci utama dalam memutus mata rantai peredaran barang haram tersebut.

“Aparat hukum harus kita pastikan mampu menjalankan undang-undang, tapi yang paling efektif untuk pencegahan memang gerakan dari masyarakat,” tutur Muhdi.

Dampaknya, legislator tersebut terus berupaya mencari akar masalah melalui koordinasi intens dengan pihak Kepolisian, Kejaksaan, hingga Kementerian Imigrasi. Ternyata, tanpa adanya perubahan sistemik dan keterlibatan warga, kejahatan ini akan terus berulang dan merusak sendi-sendi kehidupan bangsa.

Ormas Sebagai Perisai Utama Melindungi Generasi Muda

Kemudian, Ketua LDK PWM Jawa Tengah sekaligus Ketua FKSB, Dr. KRAT. AM Jumai, SE., MM., menegaskan komitmen kuat ormas dalam menjaga anak negeri. Buktinya, ormas-ormas yang tersebar di pelosok kota kini memiliki peran vital sebagai intelijen sosial untuk memantau peredaran narkoba di wilayahnya. Tokoh penggerak ini melihat bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat harus berjalan lebih intensif untuk melindungi masa depan generasi muda.

AM Jumai juga menggarisbawahi bahwa momen bulan suci Ramadan harus menjadi titik balik bagi Semarang untuk bersih dari segala bentuk kemaksiatan narkoba.

“Kita harus menyelamatkan anak negeri ini dari dampak narkoba melalui kerjasama yang sangat intens antar satu kekuatan dan kekuatan lain,” tegas Jumai saat wawancara.

Ternyata, komitmen lintas agama di Semarang juga sangat kuat dalam menolak peredaran barang haram yang merusak fisik dan mental ini. Dampaknya, FKSB akan memaksimalkan peran tokoh agama untuk menyosialisasikan bahaya narkoba secara lebih santun namun tepat sasaran ke setiap keluarga.

Ancaman Ekonomi dan Transformasi Menuju Rehabilitasi

Terakhir, identifikasi di lapangan menunjukkan bahwa pengguna narkoba kini mulai merambah ke keluarga dengan kondisi ekonomi tidak mampu. Buktinya, kejahatan ini tidak lagi mengenal status sosial karena menyasar anak-anak, remaja, bahkan pejabat publik sekalipun. Dr. Muhdi melihat fenomena ini sangat berbahaya karena merusak lini perekonomian keluarga yang seharusnya menjadi benteng pertahanan utama.

Pemerintah kota perlu mengajak semua komponen masyarakat untuk terlibat aktif dan tidak hanya mengandalkan pendekatan jeruji besi.

“Sekarang penjara sudah terlalu penuh, maka pendekatan ke depan yang paling penting adalah rehabilitasi dan pencegahan lewat ormas,” tambah Muhdi menjelaskan solusinya.

Dalam dialog publik ini berhasil mengaktifkan kembali semangat juang ormas Semarang untuk menjadi garda terdepan dalam pemberantasan narkoba. Sejatinya, keselamatan generasi bangsa bukan hanya tanggung jawab aparat, melainkan tugas kolektif seluruh warga yang mencintai kotanya. Mari kita pastikan Semarang kembali menjadi kota yang aman, sehat, dan sepenuhnya bersih dari ancaman narkoba!

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: