Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Strategi Menjaga Kualitas Ibadah Puasa agar Tidak Hanya Haus dan Lapar

27 Februari 2026, 20:29 WIB 3 menit baca
Ustadz Jauharudin S.Ag menyampaikan khotbah Jumat di Masjid At-Taqwa Ngaliyan mengenai strategi menjaga kualitas ibadah puasa Ramadhan 1447 H.
Al-Ustadz Jauharudin, S.Ag., saat memberikan tausiyah mengenai pentingnya menjaga kualitas ibadah puasa dan kewaspadaan terhadap virus maksiat di Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Jumat (27/02/26).

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Masuk pertengahan bulan suci Ramadhan 1447 H dengan tantangan spiritual yang semakin besar. Alih-alih sekadar menuntaskan kewajiban menahan lapar, setiap Muslim perlu merenungi kembali sejauh mana nilai ibadah yang mereka jalankan. Langkah ini sangat penting agar perjuangan menahan haus selama sebulan penuh tidak berakhir sia-sia.

Pesan kuat tersebut menggema di Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Wates, pada Jumat (27/02/26). Al-Ustadz Jauharudin, S.Ag., secara tegas menekankan bahwa menjaga kualitas ibadah puasa merupakan harga mati bagi pencari ampunan Allah. Ia mengingatkan jemaah agar selalu waspada terhadap “kebocoran” pahala yang sering muncul tanpa disadari di tengah kesibukan harian.

Menghidupkan Kembali Makna Ihtisaban

Dalam khotbahnya, Ustadz Jauharudin membedah rahasia sukses amalan Ramadhan 1447 H. Kuncinya terletak pada makna Ihtisaban, yakni sebuah sikap penuh perhitungan dan evaluasi diri yang ketat. Menurutnya, puasa bukan hanya soal kekuatan fisik, melainkan kecerdasan seseorang dalam mengelola emosi serta spiritualitasnya.

“Ihtisaban berarti kita memegang kontrol penuh atas diri sendiri. Kita harus terus menghitung dan mengawasi setiap tindakan agar puasa kita tidak rusak oleh kesalahan sepele,” ujar Ia secara lugas dari atas mimbar.

Tantangan Puasa di Era Digital

Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa musuh terbesar dalam menjaga kualitas ibadah puasa saat ini adalah layar ponsel. Menjalani puasa di era digital memang menuntut ketahanan mental yang jauh lebih tinggi. Merujuk pada pemikiran Imam Nawawi, Ia merinci lima perkara yang bisa secara instan menghapus pahala puasa.

Kelima “virus” tersebut meliputi dusta, ghibah (gunjing), namimah (adu domba), sumpah palsu, serta pandangan yang tidak terjaga. Di zaman sekarang, perilaku ini sering mewujud dalam bentuk penyebaran hoaks, komentar jahat, hingga konsumsi konten yang tidak bermanfaat di media sosial.

“Jangan sampai jerih payah kita menahan lapar seharian lenyap hanya karena satu klik atau komentar buruk di internet. Gunakanlah jempolmu untuk menebar kebaikan,” tegas Ustadz Jauharudin dalam kutipan langsungnya.

Tips Puasa Berkualitas dan Refleksi Akhir

Sebagai langkah praktis, Ustadz Jauharudin membagikan tips puasa berkualitas melalui penguatan ibadah batin. Ia mengajak jemaah untuk menyelaraskan ritual lahiriah dengan kebersihan jiwa yang tulus. Harapannya, setiap detik waktu puasa mampu memberikan dampak positif bagi karakter seorang Muslim.

Oleh karena itu, khotib mengajak seluruh jemaah untuk menjauhi segala larangan Allah dengan sungguh-sungguh. Semoga keistimewaan puasa yang sempurna benar-benar bisa kita raih pada tahun ini. Mari kita jadikan Ramadhan kali ini sebagai garis awal untuk menjadi pribadi yang lebih bersih, bijak, dan penuh keberkahan.

Baca juga :

Ramadhan Bulan Ampunan: Kesempatan Emas Hapus Dosa yang Menggunung

Hikmah Puasa Ramadan bagi Batin: Saat Allah Menjawab Doa Lewat Perlindungan

Kontributor: Media At Taqwa Ngaliyan
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: