Hikmah Puasa Ramadan bagi Batin: Saat Allah Menjawab Doa Lewat Perlindungan
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Kadang doa yang tak kunjung terwujud adalah cara Allah menjauhkan kita dari musibah. Dr. Shofa Muthohar mengajak jamaah untuk mendalami hakikat rasa syukur agar kita memahami bagaimana cara Allah mencintai hamba-Nya melalui berbagai bentuk ketetapan.
Pernahkah Anda merasa sudah memohon setiap malam, namun jawaban dari langit seolah tak kunjung datang? Pertanyaan manusiawi mengenai mengapa doa belum dikabulkan menjadi ruh pembuka dalam kultum tarawih di Masjid At Taqwa, Ngaliyan, Wates, Kamis malam (26/02/26).
Dr. Shofa Muthohar, M.Ag., selaku Sekretaris Majelis Tabligh PDM Kota Semarang, hadir menyapa jamaah dengan pesan yang menyejukkan. Ia mengajak kita untuk menyadari bahwa memperbanyak doa di bulan Ramadan adalah momen terbaik karena Tuhan sangat dekat dengan hamba-Nya.
“Satu pertanyaan yang sangat wajar, apakah Allah SWT secara lahir tidak kelihatan? Maka Allah menurunkan ayat tersebut, bahkan di dalam hadis disebutkan: ‘Ana aqrabu qaribun’. Jadi, Saya itu dekat,” ujar sosok akademisi ini saat menjelaskan kedekatan Sang Pencipta.
Ujian Ketulusan di Balik Permohonan
Ia memulai narasinya dengan sebuah analogi hangat tentang hubungan orang tua dan anak. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa bukan karena Ia tidak tahu kebutuhan kita. Sebaliknya, hal itu bertujuan untuk menguji sejauh mana ketulusan kita dalam meminta.
Ia kemudian memaparkan cara agar doa cepat dikabulkan menurut Islam, yakni dengan menjaga keikhlasan batin. “Sebenarnya tahu persis kebutuhan anak. Kenapa kalau ngasih sesuatu nunggu anak itu minta? Kira-kira sungguh-sungguh atau tidak? Karepmu ki piye? Kowe ki jan-jane njaluk opo?” ungkapnya saat menggambarkan pentingnya komunikasi jujur dengan Allah.
Tiga Rahasia Jawaban Langit
Selanjutnya, Ia merespons kegelisahan jamaah tentang harapan yang terasa tertunda. Ia menegaskan bahwa tidak ada satu pun doa yang terbuang percuma. Allah menjawab doa di bulan Ramadan melalui tiga cara: pemberian sesuai permohonan, tabungan pahala di masa depan, atau perlindungan dari malapetaka.
“Cara yang kedua adalah Allah menyimpan doa itu sebagai pahala. Jangan dituruti dulu, karena kalau diturunkan sekarang justru malah bahaya, belum siap,” terangnya. Inilah esensi dari hikmah puasa Ramadan bagi batin, di mana kita belajar untuk selalu berprasangka baik atas segala skenario-Nya.
Ia pun mengingatkan agar kita tidak berburuk sangka: “Maka jangan suuzan kepada Allah: ‘Ya Allah, aku sudah doa, tapi Engkau tidak mengabulkan.’ Lha kesehatanmu bagaimana? Itulah berkah doa-doa itu.”
Meraih Derajat ‘Yarsyudun’
Selain soal doa, Ia menekankan poin mendalam mengenai perbedaan hidayah dan irsyad. Jika hidayah adalah sekadar mengetahui jalan yang benar, maka irsyad (yarsyudun) adalah kemampuan nyata untuk menjalankan kebenaran tersebut.
Ia menjelaskan bahwa seorang mukmin yang sudah mencapai derajat yarsyudun akan memiliki “kompas” di dalam dirinya. “Seorang mukmin yang sudah ‘yarsyudun’ itu mempunyai kompas dalam dirinya. Ia tahu yang benar, yang baik, dan yang bermanfaat, sehingga jarang ragu dalam menentukan langkah kebaikannya,” tambahnya di hadapan para jamaah.
Menutup Lembaran Lama
Sebagai penutup, Shofa Muthohar mengajak jamaah untuk menggunakan sisa waktu Ramadan untuk mengakui segala dosa masa lalu secara tulus. Kejujuran batin dalam memanjatkan doa di bulan Ramadan akan membantu kita membersihkan jiwa.
Dengan mengakui kesalahan di hadapan-Nya, kita bisa menutup lembaran kusam masa lalu dan mulai menuliskan kisah baru yang penuh keberkahan serta petunjuk Ilahi.
Baca juga :
Rahasia Jiwa yang Tenang: Pesan Mendalam di Bulan Ramadhan
Mau Takwa di Bulan Suci? Pahami Dulu Keutamaan Puasa Ramadan yang Luar Biasa
Cara Menjaga Pahala Puasa: Rahasia Agar Amalan Tak Sia-sia di Ramadan