Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Mungkin Ramadhan Terakhir! Jadikan Al-Quran Penyejuk Hati Sekarang

4 Maret 2026, 13:37 WIB 3 menit baca
Foto suasana syahdu di dalam masjid pada malam hari dengan pencahayaan minim yang dramatis (low light). Tampak sekelompok anak laki-laki mengenakan baju koko putih dan peci putih sedang duduk bersila di atas karpet motif. Fokus utama tertuju pada seorang anak di tengah yang sedang menunduk khusyuk membaca mushaf Al-Quran di atas meja kayu kecil (rehal).
Suasana tadarus Al-Quran yang penuh perenungan, selaras dengan pesan Ustadz Imam Santoso Abu Maulana di Masjid Raya Candi Lama (2/3). Jika gunung yang kokoh saja hancur berkeping-keping karena takut kepada Allah saat menerima wahyu, maka Ramadan ini menjadi momentum bagi umat untuk meluluhkan "gunung" kesombongan di dalam dada melalui interaksi mendalam dengan ayat-ayat suci.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Bayangkan sebuah kekuatan dahsyat yang mampu menghancurkan gunung batu hingga berkeping-keping karena rasa takut kepada Sang Pencipta. Buktinya, suasana perenungan mendalam ini menyelimuti ratusan jamaah di Masjid Raya Candi Lama pada Senin (2/3/2026) sore. Alhasil, setiap pasang mata yang menanti detik-detik berbuka puasa tampak berkaca-kaca saat menyadari rapuhnya hati mereka selama ini.

Kajian Iftar tersebut mengajak umat merenungi ironi besar yang menyayat nurani tentang hubungan manusia dengan Kalam Ilahi. Pasalnya, gunung yang kokoh saja tidak sanggup memikul beban wahyu, namun manusia justru seringkali membiarkan ayat-ayat tersebut berdebu di rak rumah. Fenomena ini memicu getaran kesadaran bahwa jiwa manusia sebenarnya sedang mengalami kehausan yang sangat hebat akan petunjuk Tuhan.

Ironi Hati yang Keras dan Getaran Surah Al-Hasyr

Selanjutnya, Ustadz Imam Santoso Abu Maulana mengupas tuntas rahasia di balik Surah Al-Hasyr ayat 21 yang menggambarkan dahsyatnya Al-Quran. Buktinya, penceramah ini membandingkan kekokohan gunung dengan hati manusia yang seringkali lebih keras dan sulit menerima teguran Ilahi. Sosok alumni Sekolah Tabligh ini menekankan bahwa kemuliaan sebagai makhluk pilihan seharusnya membuat kita lebih tunduk dan gemetar.

Setiap hamba perlu mempertanyakan kembali keikhlasan mereka saat melantunkan ayat suci yang selama ini hanya singgah di tenggorokan.

“Gunung yang kokoh saja hancur terpecah belah karena takut kepada Allah, lalu mengapa hati kita tetap diam saat Al-Quran dibacakan?” tutur Imam Santoso dengan suara bergetar.

Dampaknya, jamaah mulai menyadari bahwa selama ini mereka mungkin hanya membaca huruf tanpa benar-benar meresapi pesan cintanya. Ternyata, rutinitas khatam berkali-kali tidak akan mengubah hidup jika hati masih tertutup oleh kesombongan dan kelalaian duniawi.

Gerakan Kembali ke Al-Quran Sebelum Ajal Menjemput

Kemudian, diskusi ini mendorong lahirnya gerakan “Back to Al-Quran” sebagai satu-satunya jalan keselamatan yang nyata. Buktinya, kehadiran tokoh besar seperti Prof. Suparman Syukur dan pakar ekonomi Ari Puji Waluyo menambah urgensi pentingnya menerapkan nilai Qurani dalam segala lini kehidupan. Dampaknya, jamaah mendapatkan dorongan kuat untuk menjadikan kitab suci sebagai pedoman aktif, bukan sekadar simbol hiasan yang tersimpan rapi.

Kesempatan untuk berubah di bulan suci ini merupakan panggilan yang tidak boleh siapa pun lewatkan begitu saja.

“Jangan-jangan ini adalah Ramadhan terakhir kita, maka jadikanlah Al-Quran sebagai pembela kita di liang lahat nanti,” tambah penceramah tersebut memberi peringatan.

Suasana Maghrib tiba dengan rasa syukur yang jauh lebih dalam daripada sekadar melepas lapar dan dahaga. Sejatinya, Al-Quran adalah surat cinta yang harus menuntun langkah kita pulang menuju pelukan rahmat-Nya dengan selamat. Mari kita buka kembali kitab suci tersebut malam ini dan biarkan setiap ayatnya meluluhkan “gunung” kesombongan di dalam dada kita!

Kontributor: ‎Imam Abu Maulana
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: