Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Andai Ini Ramadhan Terakhir, Masihkah Kita Sibuk dengan Persiapan Lebaran?

16 Maret 2026, 05:03 WIB 2 menit baca
Perbandingan antara seorang pria yang bersujud di masjid dengan keramaian warga yang melakukan persiapan lebaran di pusat perbelanjaan.
Menyeimbangkan skala prioritas: Di antara sibuknya persiapan Lebaran, jangan sampai kehilangan momen berharga di penghujung Ramadhan terakhir.

SEMARANG TIMUR, muhammadiyahsemarangkota.org Sebuah renungan mendalam muncul saat Ramadhan terakhir mulai terasa di depan mata, menantang prioritas kita antara ibadah dan sibuknya persiapan Lebaran. Pesan menyentuh ini menggema di tengah riuhnya warga yang mulai memadati pusat perbelanjaan dan pasar jelang akhir bulan suci.

Ustadz Imam Abu Maulana menyampaikan pengingat tersebut saat mengisi kultum di Masjid Taqwa Nurul Huda Semarang, Sabtu malam (14/3/2026). Di hadapan puluhan jamaah, ia mengajak semua orang untuk berhenti sejenak dari hiruk-pukuk duniawi.

Menimbang Skala Prioritas

Saat ini, banyak orang terjebak dalam rutinitas belanja baju baru atau menyiapkan hidangan mewah. Padahal, amalan 10 hari terakhir Ramadhan merupakan momentum emas yang tak boleh terlewatkan begitu saja.

Ustadz Imam menegaskan bahwa iblis sangat lihai memanfaatkan momen persiapan Lebaran untuk melalaikan manusia. “Jangan sampai energi kita habis hanya untuk urusan fisik, sementara batin kita kering dari dzikir,” ungkap sosok tersebut dengan tenang.

Kembali ke Janji Fitrah

Dalam tausiyahnya, ia mengulas Surat Al-Baqarah ayat 30 mengenai janji setia manusia kepada Allah. Ustadz Imam mengingatkan bahwa setiap hamba sebenarnya sudah bersaksi atas keesaan Tuhan sebelum lahir ke bumi.

“Ingatlah, perjanjian kita dengan Allah sudah ada sejak sebelum kita lahir. Jangan sampai dunia yang sementara ini menghapus kesaksian iman yang telah kita ikrarkan di hadapan Sang Pencipta,” tegas Ustadz Imam dalam tausiyahnya.

Oleh karena itu, momen menjelang Sidang Isbat Idul Fitri seharusnya menjadi ajang pembuktian janji tersebut melalui peningkatan ibadah. Kewaspadaan terhadap godaan duniawi menjadi sangat penting karena ia menilai kesibukan di dapur atau pasar seringkali membuat waktu tadarus dan iktikaf berkurang secara drastis.

“Siapa yang bisa menjamin kita masih bernapas tahun depan? Gunakanlah sisa waktu ini seolah-olah ini adalah kesempatan terakhir kita bersimpuh di hadapan-Nya,” tambahnya lagi.

Sebelum Berpisah dengan Ramadhan

Selain itu, ia mengajak jamaah untuk tetap menyeimbangkan aktivitas. Tidak ada larangan untuk berhias menyambut hari raya, namun jangan sampai hal tersebut mengalahkan esensi spiritual. Fokus utama seorang mukmin tetaplah meraih rida Allah sebelum fajar kemenangan tiba.

Pada akhirnya, saat pemerintah mengumumkan hasil Sidang Isbat Idul Fitri nanti, kita tentu berharap keluar sebagai pemenang. Kemenangan sejati bukan terletak pada apa yang kita pakai, melainkan pada seberapa bersih hati kita kembali ke fitrah.

Baca juga :

Amalan 10 Hari Terakhir Ramadhan: Cara Ulama Menjemput Lailatul Qadar

Santunan Anak Yatim Sekayu, Cara Muhammadiyah Didik Warga Bersedekah Lewat Sembako Murah

Kontributor: Tim Media Semarang Timur
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: