Kisah Centang Biru Malaikat Maut, Panggilan Memanfaatkan Waktu Luang dan Sehat
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org — Udara sedingin es masih memeluk Masjid At Taqwa Ngaliyan, Wates. Saat itu, sisa kantuk malam ke-28 Ramadhan masih menggantung berat. Namun, senyum tipis dan tawa kecil jamaah memecahkan kesunyiannya. Kultum subuh, Selasa (17/03/26) pagi itu membahas urgensi memanfaatkan waktu luang dan sehat.
Kematian biasanya menjadi pembicaraan yang menakutkan. Apalagi, hal itu menyangkut kedatangan Malaikat Izrail sang pencabut nyawa. Akan tetapi, bayangan maut pagi itu justru mengundang senyum simpul.
Di balik mimbar ceramah, Takmir Masjid At Taqwa Agung S Bakti berdiri memecah keheningan. Tampil bersahaja mengenakan baju koko abu-abu terang, ia melempar cerita satir ringan tentang kelucuan manusia saat memprotes takdir datangnya ajal secara tiba-tiba.
“Malaikatnya tersenyum tipis. Lantas, dia menjawab santai. ‘Loh, Pak. Saya itu sudah mengirim notif berkali-kali ke Bapak. Bahkan, statusnya sudah centang biru’,” ujar Agung mengisahkan percakapan imajiner itu dengan jenaka.
Pesan Izrail yang Sering Diabaikan
Agung menyampaikan kalimat itu dengan pembawaan yang santai. Sesekali, tangannya bergerak ringan menirukan gaya seseorang memegang gawai. Senyum simpul turut menghiasi wajahnya saat bercerita. Kutipan sederhana ini sukses merobek kesadaran jamaah secara halus.
Faktanya, manusia sering panik jika ponselnya tertinggal. Sayangnya, mereka justru merasa biasa-biasa saja saat umurnya perlahan habis. Padahal, notifikasi pengingat dari langit sesungguhnya tidak pernah libur.
Helai rambut lebat perlahan memutih menjadi uban. Sementara itu, sendi pinggang mulai merintih karena encok. Dan pandangan mata pun mulai kabur ditelan usia. Semua keluhan fisik itu sejatinya mewakili pesan dari malaikat maut.
“Ironisnya, kita sering mengabaikan notif tersebut. Akibatnya, uban dicat hitam atau dicukur habis agar tak terlihat dan encok diberi koyo,” seloroh Agung dengan tenang. Kita sering pura-pura tidak tahu kalau utusan Allah sudah dekat.
Ironi Kebugaran dan Masa Senggang yang Menguap
Mendengar sentilan itu, seorang jamaah paruh baya dengan rambut mayoritas sudah memutih tampak manggut-manggut. Pria ini rupanya sudah berhari-hari mengikuti i’tikaf di Masjid At Taqwa. Dia pun langsung menyunggingkan senyum tipis. Mimik wajahnya seolah membenarkan teguran tersebut.
Selanjutnya, Agung menyitir peringatan Rasulullah ﷺ dari Sahih Bukhari. “Dua kenikmatan yang membuat kebanyakan manusia tertipu adalah kesehatan dan waktu luang.” Oleh karena itu, memanfaatkan waktu luang dan sehat menjadi kunci keberkahan.
Pesan ini memotret ironi kehidupan urban masa kini. Seseorang bisa tampil prima saat mengayuh sepeda puluhan kilometer. Bahkan, mereka sanggup ikut event lari 10 Km bahkan lari marathon di berbagai kota.
Sayangnya, fisik yang sama bisa mendadak rapuh seketika. Mereka bisa tiba-tiba memiliki banyak alasan saat azan memanggil. Padahal, jarak masjid itu mungkin hanya selemparan batu dari rumahnya.
Kondisi serupa sering terjadi pada pemanfaatan masa senggang. Menit berharga itu lebih sering menguap sia-sia tanpa ibadah.
Sekelompok mahasiswa di sudut masjid tampak tersenyum malu-malu dan saling berbisik. Mungkin mereka acap terlena juga soal Waktu. Lebih banyak menatap layar ponselnya untuk scroll postingan medsos alih-alih berdzikir.
Padahal, ajaran agama menuntut umatnya bertindak cerdas. Manusia wajib memanfaatkan waktu luang dan sehat sebaik mungkin. Kita semestinya menggunakan waktu senggang tersebut untuk membaca Al-Qur’an.
Menyemai Kesadaran Sebelum Izrail Datang
Matahari belum sepenuhnya merekah di langit Wates. Saat itu, kultum subuh ini perlahan mendekati akhir. Tawa tertahan jamaah berganti menjadi tatapan kontemplatif penuh perenungan.
Akhirnya, Agung menutup narasi dengan sebuah pesan syahdu. Pembawaannya kini berubah lebih teduh. “Oleh karena itu, jangan tunggu sisa waktu untuk ibadah,” pesannya memecah keheningan. Sebaliknya, kita harus menyediakan waktu khusus selagi fisik masih bugar.
Pagi itu, para jamaah serentak menundukkan kepala. Kemudian, lantunan doa memohon husnul khatimah pun mulai menggema.
Mereka menyadari satu hal yang amat penting. Sebelum malaikat benar-benar tiba, setiap hembusan napas adalah anugerah. Manusia wajib memanfaatkan waktu luang dan sehat secara optimal. Kita tidak boleh lagi menyia-nyiakan masa muda yang Tuhan titipkan.
Baca juga :
Amalan 10 Hari Terakhir Ramadhan: Cara Ulama Menjemput Lailatul Qadar
Bakti pada Orang Tua, Cara Terbaik Mengetuk Pintu Surga di Bulan Suci