Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 4 menit baca

Kapan Waktu Puasa Syawal Terbaik? Ini Penjelasan Tarjih Muhammadiyah

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Komisi Dakwah MUI Kota Semarang, Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Kapan Waktu Puasa Syawal Terbaik? Ini Penjelasan Tarjih Muhammadiyah
Ilustrasi kalender meja menunjukkan bulan Syawal. Penentuan waktu puasa Syawal sangat fleksibel, umat Islam dapat menjalankan ibadah puasa 6 hari Syawal secara berturut-turut maupun terpisah untuk meraih keutamaan pahala puasa setahun penuh. (Ilustrasi: AI Generated)

Mendambakan pahala puasa genap setahun tentu menjadi impian setiap Muslim setelah melewati bulan Ramadan. Oleh karena itu, penentuan waktu puasa Syawal kerap memunculkan banyak pertanyaan di media sosial.

Berdasarkan penjelasan syariat, cara pelaksanaannya rupanya sangat fleksibel. Selanjutnya, mari kita bedah tata cara puasa Syawal secara utuh di artikel ini.

Keutamaan Puasa 6 Hari Syawal

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah (MTT PPM) telah memberikan penjelasan rinci mengenai ibadah ini.

Pertama, mereka merujuk pada beberapa hadis sahih sebagai landasan hukumnya. Misalnya, riwayat Abu Ayyub al-Anshari menyebutkan keutamaan puasa Syawal secara amat jelas. Rasulullah SAW bersabda:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ[رواه الجماعة إلا البخاري والنسائي] .

Artinya: Dari Abi Ayyub al-Anshari r. a. (diriwayatkan) … bahwa Rasulullah saw bersabda: Barang siapa sudah melakukan puasa Ramadan, kemudian menambahkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia telah melaksanakan puasa sepanjang masa. [HR Jama’ah ahli hadis selain dan an-Nasa’i].

Selain itu, riwayat Tsauban juga menguatkan anjuran penting ini. Beliau menyampaikan sabda Nabi SAW:

عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ . [رواه أحمد] .

Artinya: Dari Tsauban, dari nabi saw (diriwayatkan bahwa) beliau bersabda: Barang siapa berpuasa Ramadan, maka pahala satu bulan Ramadan itu (dilipatkan sama) dengan puasa sepuluh bulan, dan berpuasa enam hari sesudah Idul Fitri [dilipatkan sepuluh menjadi enam puluh], maka semuanya (Ramadan dan enam hari bulan Syawal) adalah genap satu tahun. [HR Ahmad].

Lebih lanjut, riwayat Ibnu Majah kembali menegaskan hal serupa:

وَفِيْ رِوَايَةِ ابْنِ مَاجَه : مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ وَ مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا .

Artinya: Di dalam riwayat Ibnu Majah dinyatakan [bahwa Rasulullah saw bersabda]: Barangsiapa berpuasa Ramadan dan enam hari sesudah Idul Fitri, maka itu sama pahalanya dengan puasa genap setahun. Dan barangsiapa melakukan satu kebaikan, maka ia akan memperoleh (pahala) sepuluh kali lipat.

Berdasarkan dalil-dalil tersebut, MTT PPM menetapkan puasa Syawal ini sebagai sunnah muakkad. Jadi, MTT PPM sangat menganjurkan umat Islam untuk mengerjakan ibadah mulia ini.

Ketentuan Waktu Puasa Syawal

Lalu, kapan persisnya waktu puasa Syawal ini bisa kita mulai? Sebenarnya, cara pelaksanaan puasa ini memiliki dua opsi utama. Pertama, kita boleh memilih puasa secara berturut-turut. Pilihan ini bermula dari tanggal 2 sampai 7 Syawal.

Namun, Islam juga selalu memberikan kemudahan bagi umatnya. Opsi kedua membolehkan Anda berpuasa secara terpisah-pisah.

Kita bebas memilih hari antara tanggal 2 hingga 29 atau 30 Syawal. Mengapa demikian? Sebab, dalil yang ada tidak mensyaratkan (ta’yin) pelaksanaan secara berurutan. Dengan demikian, Anda bisa menyesuaikan waktu puasa Syawal dengan kesibukan masing-masing.

Rasionalisasi Pahala Setahun

Selanjutnya, kita bisa menghitung rasionalisasi pahala setahun ini secara matematis. Mengutip tulisan Ika Sofia Rizqiani di majalah Suara Muhammadiyah, puasa Ramadan 30 hari bernilai 300 hari. Kemudian, puasa enam hari Syawal bernilai 60 hari.

Sebagai hasilnya, gabungan kedua ibadah ini menghasilkan total 360 hari. Angka ini persis menggenapi jumlah hari dalam satu tahun kalender Hijriah. Jadi, ganjaran pahala yang luar biasa ini sangat rasional dan berdasar secara syariat.

Kesimpulannya, ibadah sunnah ini menawarkan keutamaan yang teramat besar.

Kini kita sudah memahami fleksibilitas waktu puasa Syawal. Oleh karena itu, mari manfaatkan kesempatan emas ini sebaik mungkin. Wallâhu a’lamu biṣawâb.

Baca juga:

Makna Idulfitri: Transformasi Kesalehan Ritual Menjadi Kesalehan Sosial

Tradisi Syawalan, Muhammadiyah, dan Akidah

Sejarah Halal Bihalal di Tanah Jawa

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: