Jalan Pulang yang Damai, Pesan Istiqamah KH Musman Tholib di Kajian Subuh Semarang
CANDISARI, muhammadiyahsemarangkota.org – Udara dingin masih menyelimuti Masjid Raya Candi Lama, Semarang, pada Ahad (19/4/2026) pagi tadi. Ratusan jemaah tampak duduk bersila memenuhi ruangan dalam suasana khusyuk. Mereka sabar menanti sosok sepuh berbusana putih di balik mimbar. Tak lama kemudian, KH Musman Tholib mulai menyapa umat. Sang ulama senior ini membagikan sebuah peta jalan pulang menuju keabadian.
“Istiqamah.” Kata singkat itu seketika mengunci perhatian seluruh jemaah. Setelah itu, Musman perlahan mengurai makna konsistensi iman secara mendalam. Ia memandang istiqamah bukan sekadar rutinitas ibadah harian belaka. Justru, sikap ini menjadi bekal utama umat saat menghadapi pengadilan akhirat kelak.
Lewat tutur kata yang tenang, ia menggambar janji langit yang menyejukkan hati. Kematian, katanya, bukanlah teror menakutkan bagi hamba yang teguh. Seketika, kehadiran para malaikat akan meluruhkan segala rasa cemas dan khawatir.
Kelembutan Malaikat bagi Jiwa yang Teguh
“Malaikat Maut akan datang menjemput nyawa dengan sangat santun bagi hamba yang istiqamah. Bahkan, Malaikat Munkar dan Nakir datang membawa kelembutan di alam barzakh,” tegas Musman.
Ia menjamin para malaikat sama sekali tidak akan membentak mereka yang teguh imannya. Janji lisan ini tentu memberi garansi kedamaian mutlak. Khususnya, bagi jiwa-jiwa yang konsisten merawat nurani mereka hingga akhir hayat.
Mendengar petuah langsung dari lisan KH Musman Tholib jelas memberi dimensi emosional tersendiri. Ia tidak sekadar merangkai teori indah di atas mimbar. Rambut yang memutih dan usia senja sama sekali tidak menyurutkan semangat dakwahnya. Ia terus melangkah maju mengasuh umat tanpa henti.
Keteladanan Nyata Tokoh Muhammadiyah Jateng
Sebagai tokoh Muhammadiyah Jateng, rekam jejak pengabdian Musman telah teruji oleh waktu. Ia pernah menakhodai PWM Jateng pada periode 2010-2015. Jauh sebelum masa itu, dedikasinya terus menyala sejak membina Pemuda Muhammadiyah Kota Semarang.
Melihat rekam jejak tersebut, setiap nasihat lisannya memantulkan cerminan utuh dari jalan hidup sang mentor. Ia tampil sebagai wujud visual paling nyata dari kata istiqamah itu sendiri. Wajar saja jika sosoknya benar-benar menginspirasi jemaah yang memadati pengajian Semarang pagi ini.
Akhirnya, majelis ilmu tersebut usai seiring terbitnya matahari dari ufuk timur. Suasana syahdu di dalam masjid perlahan berganti kehangatan ukhuwah di area serambi. Di sana, para jemaah asyik merajut silaturahmi sambil menikmati sajian hidangan pagi.
Meskipun majelis telah bubar, gaung pesan KH Musman Tholib tetap tertinggal erat di benak para jemaah. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang melelahkan, sang ulama hadir laksana oase penyejuk jiwa, yang menyampaikan pesan penting: kemuliaan tertinggi seorang hamba semata-mata terletak pada seberapa kuat ia menjaga nyala imannya.
Inspirasi Subuh: KH Musman Tholib & Estafet Iman di Masjid Raya Candi Lama
Menjemput Tenang Lewat Muhasabah: Rahasia Hidup yang Tak Pernah Salah Alamat